Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Nomor tak dikenal


__ADS_3

"Ayah, aku mau es klim." Ratu menunjuk seorang pedagang es yang berada di pinggir jalan, cara bicaranya yang cadel membuat Ken menatapnya dengan gemas. 


"Eh, ternyata Tuan putri menginginkan es krim." Ken menoel hidung Ratu dan menatapnya gemas, tidak peduli kalau dirinya hanyalah ayah sambung. Baginya setelah menikahi Tari, kedua anak yang dibawa istrinya juga menjadi anak kandung. 


"Aku mau." Rengek Ratu. 


"Ayo kita kesana." 


Ken mengabulkan keinginan Ratu, menggendong gadis kecil itu dan membeli beberapa es krim. Lebih tepatnya dia memborong semua es krim si penjual keliling, hitung-hitung membantu sesama. 


"Ayah, aku cuma mau dua es klim." Ratu memperlihatkan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya. 


"Wah, kebanyakan ya. Bagaimana kalau kita bagikan pada anak-anak itu?" Ken menunjuk para anak pengamen yang tak jauh dari mereka. 


"Gak mau, mereka bau." 


"Gak boleh gitu Sayang, Ratu mau masuk surga?" 


Dengan cepat Ratu menganggukkan kepala. "Mau Yah."


"Berbagi salah satu kuncinya, jangan pandang orang lain itu rendah." Ken berhasil membujuk Ratu menuju jalan kebenaran, dan langsung disetujui oleh gadis kecil itu. 


Keduanya menghampiri anak-anak yang mengamen, membagikan es krim dan tak lupa Ken memberikan sebagian rezekinya. Pemandangan di antara keduanya dilihat langsung oleh Angga, awalnya dia ingin mempengaruhi Ratu agar membantunya menjadi jembatan untuk bersatu dengan Tari. Tapi, pikiran buruknya seakan sirna melihat Ken menjadi ayah sambung yang sangat baik juga mulia, berbeda darinya yang dipenuhi rasa kedengkian, iri, dan dendam. 


"Kedua anakku mendapatkan ayah yang sempurna, mereka tidak membutuhkan aku yang sangatlah kotor," gumam Angga yang segera pergi dari tempat persembunyiannya, penyesalan tiada akhir membuatnya langsung terpental di dasar jurang yang sangat-sangat dalam. Kurangnya bersyukur, menoreh apa yang sudah dituai. Keadaan tidak akan sama setelah apa yang dia lakukan pada sang mantan istri. Kehidupannya sekarang terombang-ambing, biaya kebutuhan, biaya pengobatan ibunya dan juga adiknya yang menjadi ODGJ.


"Sebaiknya kita pergi, atau ibumu mengomeli kita." Ken kembali menggendong Ratu menuju mobil yang terparkir, mereka bergegas menuju toko roti yang sekarang semakin berkembang dan punya beberapa anak cabang, semua itu berkat dirinya yang memberikan suntikan dana dalam jumlah besar. Bagi Ken, harta tidaklah penting, bersama dengan orang yang dicintai dan mencintaimu sudah lebih daripada cukup. 


"Ayah benal, ibu selalu saja ngomelin." 


"Maafkan ibumu ya, moodnya sedang tidak baik. Ratu tahu, ada adik di dalam perut ibu." 

__ADS_1


"Iya Ayah." 


Di toko roti


"Assalamu'alaikum … Sayang, kamu dimana?" pekik Ken yang sengaja memanggil kata 'sayang' pada istrinya, dia tahu jika istrinya itu tidak menyukai panggilan itu semenjak mengandung anaknya. Sementara beberapa karyawan toko dan juga customer diam-diam tersenyum dan di dalam hati mereka penuh keirian dengan pasangan suami istri yang tampak harmonis.


Ken tersenyum tanpa bersalah, melihat sang istri yang berkacak pinggang dan tatapan tajam. "Aku bawain es krim, kamu mau?" Sungguh ide yang cemerlang menenangkan kemarahan sang istri, berjalan menghampiri dan membukakan es krim yang sengaja disimpan untuk istri tercinta. 


"Lain kali jangan panggil gitu lagi!" hardik Tari seraya mengambil es krim di tangan suaminya, suasana hatinya langsung berubah dan menyambut suami juga anak keduanya langsung masuk ke dalam ruangan khusus keluarga. 


Ken mengedarkan pandangan di penjuru ruangan, matanya menjadi sakit melihat ukuran yang minimalis. "Bagaimana kalau ruangan ini di perbesar? Sekaligus tempat bermain Raja dan Ratu, juga anak ketiga yang tak lama lagi hadir ke dunia," ucapnya mengelus perut Tari dengan penuh cinta. 


"Mau sebesar apa lagi? Ini sudah lebih daripada cukup, jangan renovasi bagian sekecil apapun disini." 


"Ta-tapi …." 


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat sekarang. Nanti sore jadwal ku kontrol kandungan ke Spog." 


"Ini masih siang, jadwalnya sore." 


"Gak apa-apa, aku bisa menelepon dokter kandungan yang lebih baik. Kita periksa sekarang, kalau sore aku tidak bisa menemanimu." Ken memperlihatkan wajahnya sedikit sedih, berat rasanya berpisah dari istri tercinta. 


"Kamu mau kemana?" tanya Tari penasaran, perasaannya menjadi was-was. Ketakutan di masa lalu kembali muncul di dalam benaknya, dan membuatnya meneteskan air mata. 


"Aku harus ke Taiwan selama tiga hari, mengurus surat-surat agar aku bisa tetap berada di sini. Sekaligus membiarkan orang lain yang mengelola usahaku di sana, jadi aku punya banyak waktu bersama kalian," terang Ken panjang lebar, menyeka air mata Tari dan mengecup kening sang istri dengan sangat lembut. 


"Aku ikut!" rengek Tari yang tidak ingin berpisah dari suaminya, mengayunkan tangan kanan Ken dan menatap dengan mata berbinar. 


"Kamu sedang hamil empat bulan, perjalan kesana lumayan jauh. Kamu di rumah saja ya … sama anak-anak, hanya tiga hari."


"Pokoknya aku ikut kemanapun kamu pergi, titik." 

__ADS_1


Ken terkekeh semakin membuat Tari kesal, mengusap kepala istrinya dengna gemas. "Mau di cium ya?" 


"Hei, di sini kita bertiga. Jangan lupakan itu!" Tari meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya, memberikan isyarat suaminya agar tidak keceplosan, takut pembicaraan itu terdengar oleh Ratu.


"Sorry, Honey." 


****


Dengan terpaksa aku mengantarkan suamiku ke bandara, kehamilan trimester kedua membuatku sangat sulit berpisah darinya. Namun ini semua demi kebaikan kami, aku menyetujui keberangkatan ke Taiwan untuk menyelesaikan pekerjaan. 


Suamiku memelukku dan mencium keningku, tak lupa aku juga menyalami tangannya sebanyak tiga kali. Selanjutnya, kedua anakku turut sedih dan menangis, mereka ingin ikut tapi tak diberikan izin. 


"Jaga dirimu dan anak-anak! Aku pergi hanya tiga hari." 


Aku mengangguk setuju. "Kamu juga, Suamiku. Jaga diri baik-baik, jangan lupa video call setelah sampai ke Taiwan." 


"Hem, pasti." 


Aku dan anak-anak melambaikan tangan melepas kepergiannya, dia yang semakin jauh dari pandangan membuat hatiku dilanda rasa sepi. 


Di dalam mobil, aku menenangkan kedua anak-anakku. Mengajak mereka ke kebun binatang, sekaligus liburan melepaskan rasa sedih di hati. 


Setelah puas berkeliling kebun binatang, aku memutuskan untuk duduk dan melihat aktivitas kedua anakku. Aku tersenyum, namun terganggu saat merasa notifikasi ponsel yang bergetar. 


Kedua alis menyatu dan berkerut, melihat di layar ponsel tidak mengirimkan pesan singkat tidak diketahui nama yang tertera di layar. "Eh, siapa yang mengirimkan pesan singkat di aplikasi hijau?" 


Aku tak ingin membukanya, menurutku itu sangat tidak penting dan lagipula nomor teleponnya juga tak ada nama. Namun, ponselku kembali bergetar. Pesan singkat dari nomor yang sama membuatku segera melihat isi pesan tersebut. 


Prank


Ponsel di tangan terjatuh, diiringi rasa terkejut juga shock yang aku alami. 

__ADS_1


"Siapa yang mengirimkan ini?" gumamku yang bertanya-tanya, segera aku memutuskan pulang karena moodku sedang tidak bagus. 


__ADS_2