
Di pagi hari yang indah, namun tak seindah senyuman ku. Aku masih tak ingin membuka suara maupun ikut bersuara saat yang lainnya tengah asyik mengobrol, permasalahan yang diungkit Ken tak bisa aku abaikan saja. Sudah beberapa kali dia mencoba untuk mendekatiku, namun aku memutuskan aksesnya agar tak bisa menaruh harapan besar padaku.
Mood ku sangat hancur, keputusan Ken yang memintaku untuk memberikan keturunan sebanyak mungkin membuatku berpikir puluhan kali untuk memberikan jawabannya. Aku teringat pada mas Angga yang saat itu juga tak jauh berbeda dengan apa yang diucapkan oleh suamiku yang sekarang. Mereka punya kesamaan, melarangku untuk memakai kb. Apa salahnya aku ingin kb? Walaupun dia mencintaiku, tetap saja aku tak bisa mengabulkan permintaan Ken yang bertentangan dengan prinsipku. Aku seorang wanita, yang tentu punya emosional bila melahirkan banyak anak berderet.
Satu persatu semua orang pergi dari tempat itu, hanya tersisa Ken yang masih diam terpaku sambil menatapku.
"Sudah keputusannya, jangan menunjukkan wajah sedihmu." Aku langsung mengatakan itu dan hendak pergi. Tidak salah bila punya anak banyak, tapi mental dan juga kewarasanku patut dijaga.
"Ya, baiklah. Kita akan mengambil keputusanmu, tapi jangan marah lagi padaku!" bujuk Ken merayu.
Aku menganggukkan kepala, bersyukur jika dia memahami keinginanku.
"Ayo, aku temani kontrol ke dokter kandungan." Ken mulai berusaha untuk mencairkan suasana yang sedikit tegang, dan aku juga berusaha memulihkan mood ku.
Di sepanjang perjalanan, dengan sengaja aku membuka jendela mobil, membiarkan semeliwir angin menerpa wajahku. Aku masih menatap dengan pandangan kosong sambil mengelus perut yang mulai terlihat membuncit. Ini kali keempat aku hamil, tapi masih pertama bagi Ken.
"Marahi saja aku! Aku pantas untuk dimarahi," celetuk Ken membuatku langsung meliriknya.
"Ya, kamu memang pantas mendapatkannya, tapi sekarang aku benar-benar tidak ingin berdebat ataupun mengeluarkan tenaga.
Sesampainya di rumah sakit, seorang dokter wanita memberikan gel dingin di bagian perut bagian bawah. Tatapan dokter itu fokus ke layar monitor sedangkan tangan kanannya terus mengarahkan alat seperti roll ke bagian perutku. Aku merasa deg-degan dan sudah tidak sabar ingin bertemu dengan bayiku, tapi sebisanya rindu terobati dengan USG 5 dimensi.
Aku melirik suamiku yang wajahnya menjadi tegang, menggenggam sebelahku dan sangat terasa jika tangannya berkeringat.
"Kamu gugup?" lirihku yang tersenyum untuk menghiburnya.
"Hem, aku sangat deg-degan."
Dokter wanita itu tersenyum sambil menatap kami secara bergantian, menjelaskan apa yang ada di layar dan dengan pemahaman yang selama bertahun-tahun ia pelajari.
"Anaknya sehat dan perkembangannya sangat baik. Ini pasti usaha suaminya yang memberikan nutrisi terbaik untuk ibu hamil," terang dokter. "Sejauh ini tidak ada masalah, semuanya sesuai dengan berat, ukuran, dan juga usianya. Apa kalian ingin melihat jenis kelamin anaknya atau menunggu saat lahir tiba?" lanjut sang dokter yang meminta pendapat kami.
"Bagaimana? Kamu ingin mengetahuinya sekarang atau nanti?"
__ADS_1
"Aku sudah tidak sabar, ingin tahu jenis kelaminnya."
"Pilihan yang bijak. Selamat untuk kalian berdua, jenis kelamin janinnya adalah perempuan."
Aku tidak peduli jenis kelaminnya, yang terpenting anakku sehat. Namun aku melihat sorot mata Ken berbinar, dia memelukku tanpa melihat situasi dan kondisi.
"Akhirnya aku mendapatkan anak perempuan."
"Kamu terlihat sangat bahagia setelah mendengar jenis kelaminnya, bagaimana kalau itu laki-laki? Apa ekspresimu masih sama?" tanyaku sedikit memelankan suara, agar suamiku tak tersinggung dengan ucapanku.
Ken tersenyum sambil membelai rambutku, mengecup keningku lembut. "Apapun jenis kelaminnya, aku tetap menerima anak itu. Dia benihku, mana mungkin aku menelantarkannya."
Sepulang dari rumah sakit, sikap Ken turut berubah padaku. Dia menjadi lebih posesif, bahkan memerintah para pembantu untuk berhati-hati, dan tidak lupa memberikan daftar makanan apa saja yang harus dimakan Tari.
"Makan lagi yuk, satu sendok lagi." Ken menyuapi bubur ke dalam mulutku, dan aku menolaknya.
"Aku sudah kenyang," tolakku yang menjauhkan mangkuk itu dariku.
"Ya sudah, minum susu hamil dan vitamin yang di berikan dokter dulu, baru istirahat."
Setelah minum vitamin dan susu hamil, Ken hendak menggendongku tapi niatnya malah di undurkan saat melihat kedatangan dari adik angkatnya.
"Romantis terus, panas-panasin terus. Gak tahu apa, kalau aku itu jomblo yang sedang berjuang melawan rival. Setelah pulang, harusnya aku terhibur karena di tolak gadis pujaan, malah melihat adegan romantis. Sakit hatiku," ujar Huan yang dramatis sambil memegang dadanya, terasa sesak melihat pasangan suami istri di hadapannya.
"Makanya, nikah."
"Kalau ada calon, pasti aku sudah nikah."
Ken kembali menarik sudut bibirnya ke atas, berjalan menghampiri Huan seraya menepuk bahu adik angkatnya. "Aku punya calon, tidak neko-neko dan tidak banyak menuntut."
Seketika mata Huan bersinar secerah matahari terbit. "Cantik gak?" tanya yang tertarik, begitu semangat mendengar kalimat berikutnya yang keluar dari mulut Ken.
"Bisa di bilang begitu, banyak di cari orang."
__ADS_1
"Wah, mantap tu. Pasti kembang desa ya," terka Huan yang berkhayal.
Ken mendekatkan wajahnya seraya berbisik. "Sama onta, mau?"
"Kampret, kakak laknat." Begitu banyak kata umpatan yang keluar dari mulut Huan, dia yang kesal memukul lengan Ken dengan keras.
Keduanya saling bercanda, namun hal itu malah di anggap serius oleh Ratu yang baru saja bergabung. Gadis kecil itu berlari dan melindungi ayahnya, menatap Huan tajam setelah memberikan lemparan sepatunya.
"Jangan sakiti ayah ku, atau Paman mendapatkan lebih daripada sepatuku."
Ken sangat bangga pada Ratu yang begitu menyayanginya dan melindunginya, memelet lidah untuk mengejek Huan yang tidak punya pendukung. "Aku punya perisai yang tidak bisa di tembus."
"Ratu cantik kesayangan semua orang, biarkan Paman memberikan pelajaran pada ayahmu ya," bujuk Huan, namun hal itu malah terjadi sebaliknya.
"Sekali Paman menyentuh ayahku? Pertemanan kita di hentikan untuk sementara."
"Oh manisnya," puji Huan, namun tatapannya menjadi kesal saat melihat Ken berlindung. "Mau sampai kapan Kakak berlindung di bawah ketiak Ratu?"
"Sampai kamu lelah."
Aku tertawa melihat dua orang yang jarang sekali akur, lebih banyak saling menjahili. Segera aku menyuruh Raja untuk mengganti pakaian dan turun untuk makan siang bersama keluarga sangatlah menyenangkan.
"Kak, aku memutuskan untuk ke pesantren saja."
"Secepat ini?"
"Gadis itu menolakku dan mengatakan kalau aku terlalu ambisius."
"Boleh aku tahu, gadis seperti apa yang sedang kamu kejar?" tanyaku yang penasaran.
"Seorang gadis berkerudung panjang, tatapan teduhnya menyejukkan hati, selalu menundukkan pandangan, dan lisannya tak berhenti mengucapkan kalimat yang aku sendiri tidak tahu."
"Jelas dia menolakmu, kamu mendekatinya terang-terangan. Gadis seperti itu sangat menjaga kehormatan dan juga pandangan, sulit untuk masuk ke dalam hatinya."
__ADS_1
"Aku tahu." Huan menundukkan kepala, sedih tak bisa memiliki gadis itu. Dia memutuskan untuk masuk pesantren dan menuntut ilmu agama selama beberapa bulan lamanya, merubah dirinya agar punya tujuan kehidupan.