Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Demi anak-anakku


__ADS_3

Aku menjerit sejadi-jadinya, melepaskan semua beban yang sekarang sudah berkurang walau tidak sepenuhnya menghilang. Rasa sakit di hati seperti di tusuk pisau tajam yang di olesi racun ular berbisa, aku tidak bisa mengatakan apapun selain meneteskan cairan bening di pelupuk mata. Tubuhku jatuh di saat kedua tungkai kaki tak sanggup menopang bobotku. 


Kali ini aku sangat hancur, akhir dari semua perjuanganku ternyata sia-sia. Semua janji yang di ucapkan olehnya ternyata omong kosong, perkataan manisnya membuatku terbuai. Kesalahan kali ini membuat perasaanku hancur lebur, pantas saja dia mengganti nomor teleponnya takut aku mengganggu hubungan barunya bersama dengan wanita lain.


"Tari, istighfar Nak … istighfar!" ucap ustadzah yang memeluk tubuhku dengan erat, seakan mengerti dengan penderitaan yang aku alami. 


"Mengapa mas Angga melakukan ini padaku? Apa kesalahanku hingga dia melirik wanita lain?" aku menangis tersedu-sedu, tidak apapun yang tersisa dari hubungan yang ternyata sudah dihancurkan oleh nahkodanya, pemimpin keluarga yang seharusnya menahan godaan di luaran sana. 

__ADS_1


Aku menangis menyalahkan diriku sendiri yang tidak becus membuat suamiku puas pada satu wanita saja, bukan hanya aku saja yang menderita, pasti ke depannya anak-anakku mendapatkan cercaan dari orang-orang di sekelilingnya. 


"Kamu ngomong apa sih? Kok malah buat drama, itu gak suka Tari." 


Aku menatap wajah ibu dengan datar juga serius. "Aku tidak buat drama, Bu. Nomor ponsel mas Angga gak aktif, aku mencoba menghubunginya menggunakan nomor baru dan … apa Ibu tahu siapa yang mengangkatnya? Seorang wanita cantik juga seksi, aku melihat jelas wajah mas Angga. Tuhan memperlihatkan wajah aslinya ketika merantau, dia sudah menjalin hubungan baru dengan wanita lain." Terangku yang mengatur nafas yang tersengal-sengal. 


"Mungkin teman kerjanya, kamu salah lihat." 

__ADS_1


Bagaimana aku menjelaskannya, ibu mertuaku selalu saja tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh anaknya. Bahkan aku sebagai saksi juga korban malah merasa tersudutkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas. Aku yang tidak meladeni segera melepaskan cengkraman ustadzah, aku lupa meninggalkan kedua anakku. 


Aku berlari kembali ke rumah mama kedua anakku yang tertidur, aku tidak menghiraukan semua orang yang ternyata sudah bubar meninggalkan ibu mertuaku seorang diri yang menahan malu karena ulahku. 


Dia terus mengomel karena telah mempermalukan anaknya di hadapan semua orang,ntapi hal itu bukan aku kulakukan tanpa sengaja. Aku mengatakan apa yang aku rasakan, di saat hatiku berada pada fase titik terendah. 


Aku menenangkan diriku dan hanya keluar air mata walau sesekali menetes, untuk apa aku menangisi seorang pria yang sekarang bersenang-senang dengan wanita lain. Aku hanya merasa bodoh karena telah diperlakukan tidak adil, dikhianati, dan juga disakiti berulang kali. Aku tidak bisa memaafkan dua hal, yaitu kekerasan dalam rumah tangga, dan juga penghianatan. Aku benci dari dua hal itu. 

__ADS_1


Aku mau menguatkan diri walau cukup sulit, aku harus tetap kuat dan menjalankan kehidupanku demi Raja dan Ratu, juga calon bayiku yang sebentar lagi akan melihat dunia. Aku tidak tahu apakah Aku sanggup? 


"Untuk apa aku menangisi pria yang tidak berguna itu? Aku memberikannya kesempatan bukan untuk menghancurkan kepercayaanku. Aku berjanji akan menjadi wanita yang kuat demi kehidupan anak-anakku dan juga masa depan mereka, aku sudah terbiasa hidup mandiri dan akan aku lakukan hal itu sekali lagi." 


__ADS_2