Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 99


__ADS_3

"Aku harus memperkuat keamanan di rumah dan juga pesantren," monolog Huan seray mengemudikan mobilnya menuju rumah, melaju dengan kecepatan tinggi seraya berdoa agar istri dan semua orang yang disayanginya terlindungi dengan selamat. 


Ada dua jalur di depan, Huan memutuskan mengambil jalanan sepi bukan bermaksud apa-apa melainkan jalan yang ditempuh lebih cepat sampai ke tujuan, sekaligus bisa lebih leluasa bergerak jika bawahan Soni mengejarnya. 


"Aku harus mengatasi ini sendirian, andai saja kak Ken masih hidup, aku bisa minta bantuannya walau di ceramahi satu malam suntuk." Huan begitu merindukan kakak angkat yang sudah seperti kakak kandungnya sendiri, tidak pernah menyangka bila ajal Ken sangat cepat, bahkan belum merasakan menjadi ayah seutuhnya. 


Ponsel Huan berdering, segera dia menyambungkannya dengan headset bluetooth. 


"Apa?" 


"Tuan, ada yang mencari anda di rumah." 


"Lalu, apa kamu mengatakan lokasiku?" 


"Saya tidak berani tuan, mereka mengancam tetap saya tidak mengatakan hal yang sebenarnya." 


"Apa mereka menerobos masuk ke dalam rumah?" 


"Tidak."


"Bagus, jangan biarkan orang asing masuk ke dalam rumah!" 


"Baik tuan." 


Setelah sambungan telepon terputus, Huan menambah kecepatan laju kendaraannya agar sampai ke tujuan lebih cepat. Dia tahu kalau perkataan Soni tidak pernah main-main, setidaknya kecemasan berkurang setelah dia mengantarkan istri, dan juga anak-anak ke pesantren. 


Beberapa menit kemudian, Huan masuk ke dalam rumah yang sekarang sepi sekali seperti kuburan. Banyak kenangan di rumah itu, walau durasi kebersamaan hanya sebentar. 


Huan merupakan pria yang tidak pernah mengungkapkan identitasnya pada siapapun, takut jika orang di sekelilingnya di buru. Pekerjaan di masa lalu sangatlah buruk, menyembunyikan segalanya dari Ken semasa hidup. 


Huan melangkahkan kaki menuju sebuah ruangan, ruang rahasia yang tidak pernah satu orangpun berani masuk ke dalam atas perintah Ken. Diam-diam dia menyelundupkan beberapa senjata tajam juga senjata api di dalam ruangan itu tanpa sepengetahuan sang pemilik rumah. 


Sebelum masuk, dia memastikan tidak ada orang lain disana. Memegang gagang pintu dan membukanya, beruntung kunci cadangan ada padanya, sedangkan kunci utama ada pada Ken yang sudah di hilangkan sebelum menikahi Tari. 


Pintu terbuka menimbulkan suara berderit, melangkahkan kakinya masuk ke dalam dan kembali menutup pintu agar tidak ada yang melihatnya. Debu yang sangat tebal, dan lampu lima watt menjadi pelengkap di sana, belum lagi tidak ada jendela yang menjadikan tempat itu panas dan juga pengap. Huan membuka peti kayu jati yang terlihat usang dimakan waktu, berisi barang-barang lama yang sudah tidak terpakai lagi. Dia memasukkan tangannya ke dalam, mengambil bagian paling dasar dari peti kayu itu. 


Huan tersenyum saat mengangkat tangannya, melihat senapan panjang mempunyai kecepatan tembak yang tidak diragukan lagi. "Oh Tuhan, tolong maafkan hambamu. Aku sudah tobat, tapi musuh mengincar keluarga kecilku." Dia meletakkan senapan itu ke atas meja yang di selimuti debu, kemudian menyingkirkan barang-barang lama untuk melihat semua senjatanya yang tersimpan disana.


Senjata yang sangat lengkap dari berbagai tipe dan merek, dia mendapatkannya dari menipu dan juga hasil rampasan. Gulungan kain hitam mengalihkan perhatiannya, dia mengambilnya dan membuka gulungan kain hitam dan melihat pisau dari berbagai bentuk, jenis yang tersusun dengan sangat rapi.


Huan tak bisa berlama-lama disana, kadar oksigen sangatlah minim. Dia segera menggulung kembali kain hitam itu dan mengambil beberapa pistol dan satu senapan angin beserta peredam agar tidak mengundang perhatian musuh, terutama keberadaannya tidak akan diketahui. 


Huan beranjak dan membuka lemari kayu yang juga usang, disana ada pakaian dan jaket anti peluru. Soni yang dulunya adalah teman satu tim tidak rela jika dia berhenti dan keluar dari tim, karena keahliannya tidak bisa diragukan lagi. 


Huan sudah rapi mengenakan pakaian hitam, yang di dalamnya sudah terselip pisau, shuriken, dan juga pistol kecil dengan kecepatan angin yang mematikan. Baru beberapa langkah dia keluar dari ruangan itu, ponselnya berdering. Segera dia mengeluarkan ponsel dari saku untuk mengecek siapa yang menghubunginya, kedua matanya membesar saat melihat tertera nama 'Istriku' di layar benda pipih, lebih parahnya melakukan panggilan video call. 


"Kenapa Adiba ingin video call? Aku sudah tampan dan bersiap cukup lama untuk ini, bagaimana kalau dia sampai tahu siapa aku?" gumamnya yang kalang kabut, berperang dalam pikiran antara telepon itu di angkat, atau di abaikan saja. 

__ADS_1


Karena dia memutuskan untuk tidak menjawab, malah telepon itu terus saja berbunyi hingga dia terpaksa mengangkatnya, panggilan secara video call sangatlah meresahkan. 


"Assalamu'alaikum. Kenapa lama sekali menjawab teleponku?" tanya Adiba yang duduk di sebelah anak kembarnya yang pulas tertidur. 


Wa'alaikumsalam. Aku tadi di toilet, buang hajat. Jadi tidak kedengaran." 


"Oh," jawab Adiba membulatkan mulutnya, matanya langsung menyipit karena tidak biasanya Huan video call hanya memperlihatkan wajahnya saja. "Sepertinya kamu menutupi sesuatu," sambungnya menyelidik. 


"Tidak." Huan berusaha agar dia tidak ketahuan. "Aku harus pergi bersiap-siap, mau mengambil penerbangan selanjutnya." 


Adiba menghela nafas. "Baiklah. Hati-hati, kabari aku jika sudah sampai." 


"Iya. Aku pergi dulu!" Huan langsung mematikan ponselnya, tentu saja dia tidak ingin Adiba menghubunginya lagi untuk sementara waktu, misi kali ini adalah menemui Soni. 


Sementara di sisi lain, Adiba merasa aneh dengan suaminya. Tapi tetap berpikiran positif, agar tidak menjadi beban pikirannya. 


"Aku akan berdoa agar urusannya dilancarkan, dan di lindungi kemanapun dia melangkah pergi." 


Sebuah pesan masuk ke ponsel Huan yang satunya, dia tahu kalau yang mengirimkan pesan adalah Soni. "Mengapa dia selalu membuatku tidak tenang?" Ingin sekali dia berteriak dengan kelakuan mantan timnya, tidak ada gunanya yang hanya didapat adalah dosa. 


*


Tak


Sebuah berkas terlempar di depan  seseorang yang tengah duduk bersantai, Huan tersenyum melihat karena keberhasilannya menemukan keberadaan dari teman satu tim yang juga sudah insyaf, sama sepertinya. 


Ya, Huan menemui temannya itu sebelum bertemu dengan Soni. Dirinya tidak akan sanggup melawan seorang diri dan perlu membawa sekutu. 


"Assalamu'alaikum. Ya … ahli kubur!" 


"Eh sompret, kamu nyumpahin aku mati?" pekik pria itu yang terkejut. "Tunggu dulu, apa aku tidak salah dengar tadi?" tanya pria itu yang langsung di iya kan oleh Huan. 


"Iya, aku sudah memeluk agama islam dan sudah menikah pastinya." Huan ikut duduk tanpa di persilahkan oleh tuan rumah, sudah menganggap itu rumahnya sendiri.


"Astaga … lama hilang kontak tahu-tahu sudah punya agama dan menikah. Wanita bodoh mana yang mau dengan bandit sepertimu? Apa matanya berdebu? Sampai tidak melihat dengan jelas?" 


"Itu tidak penting. Bagaimana denganmu? Kamu sudah menikah atau masih melajang." 


"Aku masih sendiri," jawab pria yang bernama Ferdi. 


"Terlalu banyak memilih, kamu tidak akan mendapatkan wanita yang sempurna. Jodoh adalah cerminan dirimu sendiri," terang Huan yang sekan menasehati temannya. 


"Aku yakin wanita itu biasa kamu temui di bar," ledek Ferdi. 


Brak


Huan tersinggung dengan perkataan temannya, sesaat dia mengendalikan emosi agar tidak terpancing. "Dia wanita yang berbeda, kita lupakan saja itu. Aku datang kesini ingin kamu membantuku." 

__ADS_1


"Sial, kenapa kamu selalu datang padaku ketika memerlukan aku? Mengapa?" sela Ferdi dramatis. 


"Tidak perlu narsis, ini juga menyangkut dirimu, yang membedakannya keberadaanku sudah di ketahui oleh Soni." 


Sontak kedua mata Ferdi membulat, dia yang ikut bersembunyi menjadi waspada setelahnya. "Bahkan sampai sekarang dia masih mengincar?" 


Huan mengangguk. "Dia tidak akan berhenti dan meminta kita untuk kembali ke dalam timnya." 


"Tidak akan. Aku sudah tobat melakukan kejahatan, lebih baik aku menjual narkoba saja." 


Pletak


"Hei, mengapa kamu menjitakku?" 


"Kamu bilang sudah bertobat, menjual barang haram sama saja tidak bertobat." 


"Aku tidak punya agama, jadi sah-sah saja melakukannya." 


"Lakukan saja, aku yang akan membongkar kebusukan mu." 


"Kamu kejam sekali, Kawan." Ferdi mendengus kesal, berpikir akan membuka rumah makan karena masakan nya cukup enak. "Aku akan menjadi koki."


"Itu lebih baik," ucap Huan seraya menyusuri pandangan ke sekelilingnya. "Berkas itu berisi rencanaku, hanya kamu yang bisa aku percaya saat ini. Sebaiknya kita melawan Soni," sambungnya. 


"Tidak, dia akan membunuhku … lebih baik aku bersembunyi." 


Huan menatap mata Ferdi dan kedua tangannya di letakkan di bahu pria yang ada di hadapannya. "Mau sampai kapan kita menghindar? Aku tidak bisa lari lagi, aku punya istri, dua anak kembar, dan dua keponakan yang harus aku jaga. Aku menyesal telah bekerja sama dengan Soni, jika tahu begini aku tidak akan pernah mau ikut." 


"Stop. Jangan menceritakan kisahmu, Kawan. Aku ini pria yang mudah baperan, dan bisa menangis." 


Huan kesal langsung menggenggam bibir Ferdi erat yang terlihat seperti bebek. "Diamlah, jangan banyak drama. Kamu harus membantuku, kita berjuang bersama-sama melawannya. Aku hanya ingin bebas dan hidup bersama keluarga kecil," ucapnya sambil melepaskan tangan di bibir pria itu. 


"Heh, apa untungnya menikah. Jika ingin tinggal jajan, aku tidak akan mau ribet dengan yang namanya istri." 


"Awalnya aku juga berpikir begitu, tapi setelah mendapatkan wanita yang cocok, pasti perkataanmu seketika berubah." 


"Baiklah. Aku akan membantumu, ini juga menyangkut kebebasanku. Tapi aku tidak punya senjata." 


"Kamu tenang saja, aku sudah punya persiapannya. Kalau bisa malam besok menyerangnya secara diam-diam, kita tidak tahu seberapa banyak orang yang ada di belakangnya. 


"Aku setuju." 


Huan yang mudah kelaparan, berjalan menuju kulkas dan membukanya seperti rumah sendiri, membuat wajah Ferdi masam. 


"Eh, sejak kapan kamu suka makan kue?" 


"Sudah beberapa hari ini, aku menyukai kue, es krim, dan juga sering makan rujak mangga muda," jelas Ferdi yang juga tidak tahu penyebab dirinya tiba-tiba menyukai makanan yang dulunya sangat dibenci.

__ADS_1


"Persiapkan dirimu!" titah Huan yang langsung menyerobot makanan di dalam kulkas, membuat sang pemilik semakin masam karena stoknya di habiskan oleh tamu tak di undang. 


__ADS_2