
Tatapannya langsung tertuju pada sebuah kursi kebanggaan yang selama ini di duduki oleh Kenz yang digantikan oleh Huan selama beberapa tahun. Tatapannya menyeluruh pada ruangan yang masih sama seperti dulu, sekali lagi pamannya tidak mengubah apapun bahkan di ruang kerja. Raja menghela nafas dan menguatkan dirinya, menganggap kalau semua ini sudah menjadi jalan takdirnya.
Kedua tungkai kakinya berjalan mengelilingi meja kerja itu, ada rasa tidak percaya sekaligus tidak menyangka kalau semua ini terjadi padanya. Di usia yang baru belasan tahun sudah di berikan beban yang cukup berat, menjalankan perusahaan dan juga usaha toko roti milik mendiang ibunya.
Sekarang dia harus berjuang untuk memajukan perusahaan, karena ini adalah keinginan dari pamannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan semua ini, sudah cukup Huan membantunya dalam mengelola bisnis. Cukup sulit dipercaya, jika amanat sebesar ini jatuh padanya, menjadi pemimpin di perusahaan tentunya menimbulkan pro dan kontra bagi pemilik saham, perusahaan yang bekerja sama. Namun pamannya itu berhasil meyakinkan semua orang, keyakinan itulah yang membuat Raja percaya pada kemampuannya sendiri.
Raja masih sangat baru di perusahaan itu, bahkan langsung ditunjuk menjadi CEO yang terlihat juga terdengar sangat mustahil bagi pria sepertinya yang biasa hidup sederhana di pesantren.
"Paman, aku tidak mengerti di bagian ini," tanya Raja pada asisten dari pamannya, dengan sabarnya pria dewasa itu mengajarkannya semua pengetahuannya.
Butuh waktu bagi Raja mempelajari semuanya secara bertahap, hingga kecerdasan iq dan daya tangkap otak yang tidak diragukan lagi hanya membutuhkan waktu setengah tahun untuk mengetahui seluk beluk di perusahaan, bahkan sudah tahu mengenai hantu perusahaan yang menggelapkan dana.
"Selamat untuk anda, Tuan." Asisten itu menjulurkan tangan dan sedikit tersenyum, memberikan apresiasi pada Raja yang telah berhasil kehidupan hingar bingar kantor.
"Terima kasih, ini semua berkat usaha dan kerja keras Paman yang membantuku, mengajariku mengenai semua ilmu yang Paman berikan." Raja menyambut uluran tangan dan tersenyum, kerja kerasnya membuahkan hasil. Banyak hal yang harus di korbankan, salah satunya waktu tidur yang tidak pernah cukup hanya demi belajar dan belajar.
"Hem." Pria dewasa itu menatap kearah samping dan berpikir beberapa saat, entah apa yang ada di pikirannya.
"Ada apa? Paman seperti memikirkan sesuatu?"
"Benar. Kamu sudah mendapatkan semua ilmuku, kamu mempelajarinya dengan sangat cepat. Jika orang lain yang berada di posisi ini, dia pasti membutuhkan banyak waktu, sedangkan kamu cepat belajar dalam kurung waktu enam bulan saja."
"Aku selalu belajar, Paman. Lalu?" Raja sangat penasaran mengapa pria dewasa itu tiba-tiba mengatakannya.
"Aku tidak bisa mendampingimu lagi mulai dari sekarang."
Sungguh Raja sangat terkejut mendengar perkataan dari pria yang duduk di hadapannya. "Apa ada masalah?"
"Tidak. Aku hanya diberi tugas untuk menemanimu sampai menguasai semua seluk beluk perusahaan, aku tidak bisa mendampingimu lagi."
"Paman Huan kejam sekali," keluh Raja yang sedih.
"Jangan menyalahkannya, sebenarnya tugasku sudah berakhir sepuluh tahun yang lalu. Tapi, tuan Huan tetap meyakinkanku untuk bekerja disini dan mengajarinya, begitupun sekarang aku juga mengajari anda."
"Apa maksudnya ini? Bahkan Paman belum dikategorikan sebagai pensiunan."
"Aku ingin rehat dari pekerjaan ini semenjak kematian dari tuan Ken, tapi tuan Huan terus memaksaku hingga sekarang pun aku masih berada disini menemani anda," ungkap asisten itu yang juga sedih, tapi dia tidak memperlihatkan kesedihannya.
"Kalau paman pergi bagaimana denganku?" Seketika Raja menjadi cemas tidak mendapatkan pegangan lagi, takut jika berbuat kesalahan dan tidak ada orang yang membantunya lagi. Bagaimana jika perusahaan bangkrut di tangannya? Bagaimana dia mengatasi hantu perusahaan nantinya? Bagaimana caranya dia akan mengelola perusahaan dengan baik? Serentetan pertanyaan yang ada di otaknya, intinya tetap merasa berat dengan keputusan yang di ambil oleh pria di hadapannya.
Pria itu tersenyum. "Anda bisa melakukannya sendiri, menyelesaikan permasalahan yang nanti akan dihadapi. Pasang surut permasalahan di kantor, tapi aku yakin dengan kemampuan Tuan."
Raja juga tak bisa menolak kepergian dari pria dewasa itu, tidak punya hak untuk melarang ataupun menghentikannya. "Apa aku mendapatkan pengganti? Aku ingin penggantinya sama seperti Paman." Hanya itu cara yang terpikirkan olehnya, berharap permintaannya itu tidak dikabulkan, dengan begitu dia bisa menghentikan pangkah sang asisten yang sudah di percayanya.
"Ada Tuan."
Bibir Raja langsung tersenyum kecut, mendengar pengganti asisten baru menjalankan perusahaan. Dia sudah merasa cocok dengan pria yang ada di hadapannya, tapi apa boleh buat … dia juga tidak ingin memaksakan kehendak demi kepentingannya pribadi.
"Apa dia bisa membantuku? Maksudku, aku ini masih baru di dalam perusahaan ini." Bukan bermaksud bersikap sombong, tapi Raja tidak sepenuhnya yakin pada kemampuannya.
"Dia juga baru dalam perusahaan."
"Apa Paman yakin? Kalau kami nantinya bisa memajukan perusahaan?" Segelintir rasa khawatir datang mengerubungi pikiran Raja saat ini. "Bagaimana dengan usianya, apa juga sama?" Entah bagaimana dia bisa berpikiran seperti ini, namun dia hanya ingin menuntaskan rasa penasaran yang sangat tinggi.
"Usianya lima tahun lebih tua dari anda."
Sungguh Raja tidak percaya dengan beban tugas memimpin perusahaan hanya dengan modal belajar selama enam bulan tanpa pengalaman di bidang tersebut. Belum lagi asusten barunya nanti yang juga sama sepertinya, dan berpikir kalau perusahaan dalam beberapa tahun kedepan bangkrut karenanya yang belum piawai menjalankan perusahaan.
"Apa Paman yakin? Mulai dari kemampuan kami dan juga kecocokan yang paling utama."
"Anda tidak perlu khawatir Tuan, aku dan tuan Huan telah memikirkan ini masak-masak sebelum menunjuknua sebagai asisten baru anda nantinya."
__ADS_1
"Siapa orangnya?"
Asisten itu melirik jam di tangannya, kemudian beralih menatap Raja. "Setelah jam makan siang, dia akan menemui anda di ruangan ini. Tunggu saja!"
"Baiklah. Dan kapan Paman mengundurkan diri? Apa aku masih punya waktu untuk belajar?"
"Sekarang bukan waktunya belajar, tapi serius dalam bekerja."
"Tapi__." Akhirnya Raja tidak jadi mengajukan pertanyaan lagi, dia tidak berhak menahan pria itu. "Baiklah, jika itu keputusan dari Paman. Terima kasih sudah menjadi guruku dan selalu sabar mengajariku," lanjutnya seraya tersenyum dan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Sama-sama. Maaf, aku tidak bisa menemanimu lagi. Tapi kamu bisa menghubungiku bila mendapatkan masalah, atau kesulitan."
"Hem."
Raja menatap kepergian asistennya itu, perasaannya menjadi tidak karuan menunggu asisten baru. Sebentar lagi jam makan siang, yang sebelum itu dia sudah memesan makanan dari luar dan akan di antarkan sebentar lagi. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan.
Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Dia segera membukanya dan tersenyum melihat makanan yang sudah di pesan sudah tiba, namun pandangannya beralih pada pria paruh baya yang mengantarkan makanannya.
"Ini pesanannya," ucap pria paruh baya yang menyerahkan kresek putih, dia heran mengapa pria itu memesankan banyak makanan.
"Bapak sudah makan?" tanya Raja yang mengambil makanan dan tak lupa membayarnya.
Pria paruh baya itu terdiam beberapa saat, segan dan juga sungkan dirasakannya. "Be-belum Tuan."
"Jangan panggil saya Tuan, panggil nama saya saja, Pak."
"Belum Nak Raja."
"Kebetulan saya membeli banyak makanan, ayo makan bersama!" ajak Raja yang menarik tangan pria paruh baya yang bekerja sebagai pengantar makanan online.
Pria paruh baya itu diam terpaku karena tak berani masuk ke dalam ruangan, walau sudah di berikan izin. "Terima kasih kebaikan mu, Nak. Tapi ini tidak pantas."
Raja tersenyum dan berhasil meyakinkan pria paruh baya untuk tidak sungkan padanya, hingga keduanya makan dengan lahap tanpa adanya pandangan si kaya dan si miskin. Pemandangan yang jarang bahkan hampir tidak pernah melihatnya, seseorang tanpa sengaja melihannya dan bermain dengan pikirannya.
Pria itu berdiri di depan pintu menunggu Raja selesai makan siang, namun yang di tunggu tak sengaja melihat keberadaannya.
"Masuk saja!" ucap Raja yang tersenyum, menghentikan makan siangnya untuk sementara, dia melihat pria muda yang usianya tak jauh darinya. "Apa kamu asistenku yang di tunjuk paman Huan?"
"Benar Tuan."
"Siapa namamu?" tanya Raja.
"Bara," jawabnya singkat, padat, dan jelas.
"Baiklah Bara, aku harap kita bisa saling bekerja sama."
"Harapan yang sama Tuan." Bara menatap bosnya daei ujung rambut hingga keujung kaki, melihat sikap sang bos yang sangat berbeda dari bos kebanyakan.
"Daripada kamu menatapku begitu, ayo kita makan bersama." Raja menatap Bara dan melirik jam di dinding yang masih ada waktu untuk beristirahat.
"Tidak Tuan, terima kasih."
"Ayolah, jangan menolak rezeki."
"Baik," sahut Bara dengan terpaksa, dia tidak suka ada tukang pengantar makanan online yang juga ikutan makan, baginya sangat tidak selevel dengannya. Namun terpaksa mengiyakan karena itu perintah, berharap agar dia tidak mual makan bersama orang miskin.
Setelah ritual makan selesai, akhirnya sang pengantar makanan online berpamitan kepada raja dan juga Bara. Dia sangat senang hari ini karena pertama kalinya bisa makan enak, dan hal itu membuat Raja menjadi bersimpati mengingat dirinya juga memiliki kehidupan sederhana, tahu bagaimana perasaan dari pria itu.
Raja yang mengeluarkan ruang berwarna merah sebanyak lima lembar dan menyerahkannya kepada sang pengantar makanan itu langsung memasukkannya ke dalam saku pria paruh baya. Lagi-lagi hal itu membuat Bara terdiam dan mengamati bos barunya yang memiliki hati dermawan, hanya saja pemikirannya cukup berbeda.
"Terima kasih sudah mengajakku makan bersama, kamu memiliki hati dermawan. Semoga dilancarkan rezeki dan dimudahkan segala urusan," kata pria paruh baya yang menyatukan kedua tangannya dengan wajah tersenyum hangat, mendapatkan keberuntungan dan rezeki dari Raja.
__ADS_1
"Aamiin."
Kini tinggallah dua orang yang mengenakan setelan jas menatap kepergian sang pengantar makanan online, kemudian Raja mengalihkan perhatian menatap asisten barunya.
"Dari tadi aku memperhatikanmu."
"Aku melihat hal yang baru, Tuan."
"Hal baru yang bagaimana?" Raja menerapkan kening menatap asistennya dan menunggu jawaban.
"Aku jarang melihat seorang bos mau makan bersama dengan pengantar makanan online," terang Bara yang cukup kagum dengan atasannya yang baru.
Raja tersenyum. "Terbiasakan dirimu mulai sekarang," sahutnya yang kemudian masuk ke dalam ruangan untuk memulai pekerjaan.
Dua orang yang masih asing itu berusaha untuk menyatukan pikiran mereka, dan mulai untuk mengerjakan pekerjaan yang sudah diajarkan oleh asisten lama yang baru saja mengundurkan diri. Awalnya memang tampak sulit, namun mereka masih mencoba untuk terus mengerjakan pekerjaan yang sudah diukur pada porsinya masing-masing.
Tidak terasa waktu sudah berjalan satu bulan, dan mereka bisa menjadi partner yang bagus. Banyak pro dan kontra karena pemimpin perusahaan besar dipegang oleh pria yang baru berumur belasan tahun, dan sang asisten yang baru menginjak dewasa. Sedangkan Huan tetap percaya dengan kemampuan mereka, diam-diam dia memantau perusahaan yang dibantu oleh asistennya yang sebenarnya tidak mengundurkan diri hanya saja berpindah pekerjaan ke perusahaan miliknya sendiri.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Huan pada asistennya, ini semua rencananya agar Raja mau mengambil tanggung jawab perusahaan milik kakaknya.
"Sudah satu bulan aku memantau, dan mereka merupakan tim yang sangat baik."
"Hem." Huan memainkan jemarinya di atas meja kerja, sambil berpikir. "Apa aku ini keterlaluan?"
"Sudah seharusnya anak itu berpikir maju, agar mentalnya menjadi lebih kuat menghadapi masalah."
"Kamu benar, lalu bagaimana pemegang saham yang menolak bekerja sama dengan perusahaannya? Apalagi sangat sulit membuat mereka percaya, Raja tidak punya pengalaman."
"Aku tahu," sahut Huan seraya menyeruput secangkir kopi panas. "Bukankah dia harus bekerja agar mendapatkan pengalaman bekerja?"
"Benar juga."
"Begini saja, biarkan para pemegang saham yang ingin lepas dari perusahaan yang di pegang oleh Raja. Kita tarik pemilik saham yang ada di perusahaan ini."
"Itu ide yang bagus, Tuan."
"Aku tahu itu."
Baru saja mereka membicarakannya, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel milik Huan yang tertera nama Raja.
"Panjang umur, kita baru membicarakannya dan dia sudah menghubungiku."
"Angkat saja Tuan, siapa tahu mereka mengalami kesulitan."
"Hem, pasti."
Huan mengangkat telepon dari keponakannya, di hari pertama bekerja pasti sangat gugup.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Apa paman sedang sibuk?" tanya seseorang lewat telepon, segera Huan berdehem.
"Hem, begitulah. Ada apa?" tanya Huan berpura-pura tidak tahu apapun.
"Oh kalau begitu aku menghubungi paman nanti saja, bila ada waktu luang."
"Aku sedikit ada waktu, katakan saja! Apa kamu kesulitan di hari pertama?"
"Benar. Ada sedikit masalah, aku dan Bara tidak bisa memecahkannya."
Huan dengan senang hati membantu kesulitan Raja, hingga keponakannya itu bisa berdiri sendiri tanpa membutuhkan bantuannya.
__ADS_1