Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Pulang mendadak


__ADS_3

Semenjak hamil, aku selalu merasa lapar yang tak tertahankan. Makan apa saja selalu lewat, kecuali kayu dan batu. Tiada henti mulutku mengunyah, itu sesuatu yang amat menyenangkan dengan mengisi perut. Berbagai makanan yang tentunya sudah lolos tinjauan dari suamiku, dia yang selalu mengatur mulai vitamin dan juga kebutuhan ibu hamil. Aku sangat mencintainya, dia selalu tahu apa yang aku butuhkan dan peka dengan perasaanku yang sensitif. 


Aku berhenti mengunyah makanan, teringat kehidupanku yang lalu saat mengandung Raja dan Ratu yang saat itu serba kekurangan. Kehidupanku sekarang sangat baik, tapi aku sedih mengenai asupan nutrisi pada kedua anakku itu. 


"Kamu cukup beruntung dari kedua kakakmu, sayang," lirihku sembari mengelus perut yang sedikit membuncit, sambil menyeka air mata. 


Tak ingin larut dalam kesedihan di masa lalu, lagipula kehidupan Raja dan Ratu sudah jauh lebih dari sebelumnya.


Baru saja aku hendak pergi meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang berada di atas nakas. Ternyata Ken meneleponku lewat video call, sebenarnya hari ini aku gak mood untuk meladeni berbicara. 


"Kamu lagi apa?" 


"Mengisi perutku dengan makanan," jawabku sambil mengarahkan kameranya. 


"Bagus. Makan yang banyak, biar kamu cepat besar." Ken tertawa, sedangkan aku memanyunkan bibir. 


"Memangnya kamu suka aku yang gendut?" sewot ku, merasa dia sedang mengejekku dan aku sangat tidak suka itu. 


"Aku mencintaimu dengan tulus, tidak peduli bagaimana bentuk tubuh dan juga penampilanmu. Yang terpenting aku menyukaimu sekarang, lebih berisi dan enak untuk di peluk." 


Aku menghela nafas jengak, Ken selalu bicara tanpa henti untuk menggodaku. "Jangan main-main dengan ucapan, bisa saja kamu beralih hati ke yang lain setelah aku melahirkan." 


"Huss, gak ada yang seperti itu. Cukup satu istri sampai mati, buat apa banyak istri? Satu istri saja bikin pusing."


Aku bertolak pinggang saat Ken tertawa, puas dengan hasil karyanya yang membuat aku kesal. Aku menyipitkan kedua mata, saat sambungan video call itu berada di dalam mobil. Aku ingat, mobil yang digunakan suaminya mirip sekali dengan mobil yang ada di rumah. 


"Eh, mengapa mobil itu mirip? Atau cuma kebetulan saja," gumamku yang ternyata terdengar oleh suamiku. 


"Bukan kebetulan, ini memang mobil kita. Aku meminta supir menjemputku ke bandara, sebenarnya aku ingin memberikan surprise. Tapi, kamu malah tahu lebih dulu, jadi gagal surprisenya."


Sontak kedua mataku berbinar cerah, kerinduan mendalam pada suamiku yang ternyata pulang lebih cepat dari jadwal. "Jadi, kamu pulang hari ini?" 


"Hem, jangan lupa menyambutku di rumah." 


"Baiklah." 


Aku sangat bahagia, mood ku kembali bersamaan dengan berita kepulangan suamiku. Tentu aku membuat sedikit perayaan untuknya, dengan bantuan kedua anakku


 "Pasti Raja dan Ratu senang dengan kabar ini." 


Aku berjalan mencari keberadaan kedua anakku, memeriksa mereka di dalam kamar yang sengaja dibuat berdekatan. Celah di pintu membuatku penasaran, membukanya dan melihat Raja sedang belajar. 


"Ibu?" Raja mengerutkan kening melihat keberadaanku. 

__ADS_1


"Apa kamu lihat Ratu?" tanyaku pada anak sulung. 


"Periksa di kamarnya, mungkin Ratu disana."


Aku mengangguk dan kembali menutup pintu, kulangkahkan kaki menuju kamar di sebelah. Aku masuk ke dalam, menyusuri pandangan menyeluruh mencari keberadaan Ratu yang tak aku temukan. Aku melangkah cepat, mencari anakku yang mungkin saja di dalam kamar mandi. 


"Eh, Ratu tidak disini. Dimana dia berada?" Aku sedikit berlari dan meminta bantuan pada salah satu pembantu, dan aku bisa bernafas lega saat tahu kalau Ratu bermain di halaman belakang. 


Aku mengucapkan terima kasih pada pembantu yang selalu aku panggil mbak Nunung, dan kembali berlari kecil menuju halaman belakang. 


"Ratu … Ratu!" panggilku. 


"Aku di sini, Bu." 


Aku segera menghampiri ke sumber suara, aku tersenyum lega padahal tadi sempat khawatir. Aku merasa bersalah mengabaikan mereka karena mood ku, segera kupeluk Ratu di dalam dekapanku, tak lupa mencium puncak kepalanya. 


"Maaf, Ibu mengabaikanmu, Sayang."


"Aku memaafkan Ibu."


"Terima kasih Sayang, kamu yang terbaik."


Semenjak hamil, mood ku menjadi tak stabil. Ken yang selalu berada disisiku dan mengatur semuanya menjadikan aku ketergantungan padanya hingga menjadi wanita manja, malu dengan kedua anakku yang bahkan terlihat lebih dewasa dari anak seusianya. 


"Ibu sangat jelek bila menangis," ujar Ratu yang menyeka air mataku.


"Tidak perlu merasa bersalah." 


"Kamu punya hati yang sangat baik, Sayang." Aku tersenyum lembut sambil membingkai wajahnya menggunakan kedua tanganku. "Ibu punya berita baik untukmu."


Ratu tersenyum dan matanya menunjukkan semangat. "Apa Bu?" desaknya yang sudah tidak sabar ingin mendengar berita yang di sampaikan sang ibu. 


"Sebentar lagi ayah pulang, kita harus memberikan sambutan."


Sementara di sisi lain, Ken terdiam sambil menyandarkan punggung di mobil. Perjalanan terasa jauh dan membosankan, bila mendengar ocehan Huan. 


"Aku suka sambal terasi, bau khas tapi sangat enak dan menggugah selera." 


"Dari bandara sampai sekarang kamu tidak berhenti bicara." 


"Aku sangat antusias, aku ingin pindah negara saja." 


"Kamu pikir itu gampang? Banyak prosedur yang harus di lakukan, bahkan sampai sekarang aku belum bisa menetap selamanya disini." 

__ADS_1


"Akan aku lakukan bagaimanapun caranya, Kak." 


"Hem, terserah padamu saja. Jadi bagaimana?" tanya Ken menatap serius Huan yang duduk di sebelahnya. 


"Bagaimana apanya?" 


"Sunat, anu mu di potong." 


"Ck, jangan membahas itu sekarang." 


"Kenapa? Bukankah dari tadi kamu mengoceh? Apa salahnya menyinggung masalah ini, atau jangan katakan kalau kamu takut di sunat? Dasar lemah."


Jlebb


Perkataan Ken sangat menusuk Huan, kalimat sindiran yang tertuju tepat sasaran. 


"Aku takut sunat? Hah, kecil." Huan meremehkan masalah yang terlihat sepele namun sangat penting. 


Ken menarik sudut bibirnya ke atas, menepuk pundak sang supir untuk memutar arah lain. 


"Aku merasa ada yang tidak beres, kak Ken sangat mencurigakan," batin Huan tampak berpikir. 


Keduanya menikmati perjalanan mereka, Huan yang tadinya bersantai langsung pucat saat mobil berhenti di depan rumah sakit, hendak masuk ke dalam. Tiba-tiba perasaannya menjadi tidak enak, menatap Ken penuh tanda tanya. 


"Siapa yang sakit?" 


"Tidak ada yang sakit, aku harus membuktikan perkataanmu," kata Ken dengan sangat santai. 


Glek


Huan menelan saliva yang tersangkut di tenggorokan, dia tahu maksud dari perkataan kakak angkatnya. Namun dia berusaha berakting amnesia, agar terhindar dari masalah. 


"Kamu siapa? Dan siapa aku?" 


Ken sangat mengenal Huan yang tidak akan pernah berubah, menarik tangan pria itu langsung dan menyeretnya keluar dari mobil. 


"Aku bahkan tidak menjitak kepalamu, jangan pura-pura amnesia. Hari ini kita buktikan perkataanmu!" 


Tentu saja Huan menolak, tangan gemetaran dan juga berkeringat dingin. "Kak, kamu tega." 


"Aku hanya mengabulkan permintaanmu, apa itu salah?" 


"Aku pasti di sunat, namun nanti bukan sekarang." 

__ADS_1


"Apa bedanya nanti dan sekarang? Lebih cepat, lebih baik." Jujur saja Ken menahan tawanya agar tak keluar, melihat ketakutan dari Huan menghilangkan rasa letih perjalanan. 


"Oh tidak … ini tidak sesuai rencana." 


__ADS_2