
"Bercerai? Jangan egois kamu, pikirkan juga Raja, Ratu, dan calon bayi kita yang ada di rahimmu."
Jawaban menohok berhasil membuatku semakin membenci keberadaan mas Angga. "Sebelum menudingku egois, lebih baik Mas ngaca dulu."
"Lancang banget kamu ngomong gitu, durhaka kamu jadi istri."
Sepertinya mas Angga tidak ingin aku bercerai darinya, tapi tekad dan keputusanku sudah final dan tidak bisa di ganggu gugat.
"Sudahlah Mas, aku capek. Kalau kepercayaan sudah di hancurkan, buat apa kita melanjutkannya pernikahan ini?" aku menangis dan teringat pada wanita yang bersama suamiku.
"Harusnya kamu mengerti, aku butuh pelampiasan hasrat, setidaknya wanita itu meringankan bebanmu."
Aku meringis mendengar perkataan dari mas Angga, bisa-bisanya aku beruntung. Aku menyeka air mata dengan kasar dan menatapnya yang tidak tahu malu itu, mencari pembenaran untuk menutupi kesalahannya.
__ADS_1
"Aku kesini mau membicarakan kesalahpahaman itu, tapi kamu malah minta cerai. Sampai kapanpun aku tidak akan menceraikanmu, titik."
"Udah deh Tari, gak usah banyak drama. Suami kamu masih ingat rumah kok, buktinya dia pulang dan wanita itu juga gak di nikahinya hanya jadi pelampiasan saja." Sela ibu mertua yang membela anaknya, seakan akulah penjahat sebenarnya.
"Ibu itu perempuan dan seharusnya mengerti apa yang di rasakan oleh perempuan lainnya, tapi Ibu malah mendukung mas Angga dan mengatakan semua itu baik-baik saja. Ingat Bu, Ibu punya anak perempuan." Aku berusaha mengingatkan ibu untuk membenarkan semua tindakan anak sulungnya.
"Aku capek."
Aku menatap kepergian mas Angga yang masuk ke dalam kamar, aku berusaha mengontrol emosi, apalagi dia tidak menginginkan perceraian. Aku tahu maksudnya melakukan itu, mempertahankanku agar menjadi budaknya dan merawat keluarganya sementara dia bersenang-senang bersama wanita lain.
"Suami pulang itu di layani dengan baik, tapi kamu malah memasang wajah cemberut, sumpek aku melihatmu dan selera makanku tiba-tiba menghilang." Aku terkejut saat mas Angga menggebrak meja makan, sedangkan aku menahan amarah yang juga hampir meledak.
"Kalau begitu ceraikan aku!" Aku menatapnya sebelum dia benar-benar menghilang, sudah tidak bisa diam lagi karena dia sudah cukup untuk berbicara.
__ADS_1
"Jangan mengada-ada deh, tidur sana!"
"Aku serius Mas. Talak aku sekarang juga!"
Aku berusaha untuk mendapatkan keadilan tapi sepertinya mas Angga tampak frustasi dengan ucapanku. Dia mendorong tubuhku agar menyingkir dan pergi sambil menggaruk kepalanya kasar.
Aku meremas pakaianku, air mataku kembali menetes dengan sendirinya. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri dan lupa kalau aku juga punya perasaan. "Taga kamu Mas, aku akan menggugat di pengadilan." Pekikku yang sudah tidak tahan kagi dengan semua ini, bagaimana perasaan kalian yang di khianati oleh orang yang di cintai? Sangat sakit seperti gelas yang di pecahkan dan tidak bisa kembali utuh.
Plak
Aku meringis kesakitan juga terkejut tiba-tiba mendapatkan tamparan dari ibu mertuaku, aku menatapnya bingung sekaligus kesal.
"Harusnya kamu sadar, sebagai seorang istri jangan banyak menuntut. Angga sudah menjelaskannya tapi kamu ngotot bercerai. Apa kamu tidak memikirkan perasaan anak-anakmu, heh?"
__ADS_1
"Harga diri, aku menjunjung harga diri." Balasku yang menantangnya.