Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Mari bercerai


__ADS_3

"Ada apa menghubungiku?" aku menarik nafas dalam saat akan mendengarkan suaranya. 


"Aku sedang berada di perjalanan pulang ke rumah." 


"Oh, untuk apa pulang mas?" 


"Aku rindu dengan anak-anak." 


"Terserah kamulah mas, aku banyak pekerjaan." Aku ingin mematikan sambungan telepon, tapi ….


"Tari, maafkan aku!" 


"Ck, baru sekarang kamu minta maaf mas?"


"Aku khilaf dan ingin menyelesaikan ini."


"Ya, aku juga ingin menyelesaikan masalah ini." 

__ADS_1


Aku langsung memutuskan telepon secara sepihak, aku merasa tidak ada lagi yang perlu di bicarakan. Dan mengenai ucapanku untuk menyelesaikan masalah, aku sudah bertekad untuk bercerai bukan karena aku merasa mandiri dan bisa membiayai kehidupan anak-anakku atau merasa tidak membutuhkannya sebagai seorang ayah, tapi ini masalah hati dan harga diri yang harus aku pertahankan. Sudah cukup aku bersabar menghadapi ulahnya, tidak akan ada lagi kata mengalah dan memaafkannya. Aku benci pengkhianatan, menghilang tak ada kabar. 


Beruntung aku bisa mengetahui hal ini lebih cepat, jadi aku tidak akan menunggunya lagi mau bagaimanapun situasinya. Bukan aku egois dan tidak memikirkan anak-anak, tapi aku tidak ingin anak-anakku terpengaruh, tidak ingin menanggung rasa sakit seorang diri sementara dia bersenang-senang dengan wanita lain. 


Aku kembali melanjutkan untuk membuat adonan kue,brownies, dan bolu gulung yang dipesan oleh para pelanggan. Aku sangat bersemangat untuk mengejar karir yang semakin berkembang, dan banyak orang yang menyukai buatanku. Aku menyisihkan uang menjadi tiga bagian, untuk tabungan anak-anak, untuk kebutuhan, dan juga untuk modal aku berjualan. Aku memiliki impian untuk mempunyai toko sendiri.


Kepulangan mas Angga membuat hatiku merasa tidak tenang, itu hanya akan membuat aku hilang kendali jika melihat wajahnya. Dia hanya laki-laki pengecut yang tidak berani menjelaskannya padaku, langsung mematikan sambungan video call waktu itu dan butuh waktu hingga akhirnya dia memutuskan pulang. Sifat asli seorang suami akan terbongkar di kala dia mempunyai jabatan tinggi juga uang yang banyak, dan sifat asli istri akan diuji saat suami tidak memiliki apa-apa baru


Dan benar saja, saat di malam hari mas Angga sudah pulang ke rumah. Dia disambut baik oleh ibunya, menyalami ibunya yang sangat bahagia atas kepulangannya, lain dengan aku yang hanya diam bagai patung melihat interaksi ibu dan anak.


"Aku ingin meminta maaf karena sudah menghianatimu, dan tidak mengirimkan uang nafkah kepada kalian."


"Tari, dengarkan dulu penjelasanku!"


"Aku rasa tidak ada lagi yang perlu dibahas, semua sudah jelas kalau kamu menghianati kepercayaanku."


"Tapi, kamu tetap istriku satu-satunya, aku dan Siska hanya hubungan di atas ranjang … tidak lebih."

__ADS_1


"Bangga banget kamu Mas, aku nggak mau ketularan sakit kelamin yang kamu bawa."


Mendengar perkataanku membangkitkan emosi mereka yang tidak terima dengan kata kasar ku. 


"Aku memang salah, bukan berarti kamu berkata kasar padaku, Siska nggak punya penyakit kelamin."


"Tahu dari mana kamu Mas? Apa kamu menyetubuhi seorang perawan?" Aku tersenyum tipis di saat mas Angga terdiam sesaat. 


"Siska itu seorang janda, aku tinggal di sebelah kontrakannya. Maafkan aku yang tidak bisa menahan hasratku, aku butuh hasrat tersalurkan saat kita berjauhan. Itu hanya sekedar hubungan di atas ranjang, lebih tidak lebih." 


Aku tersenyum miring mendengar nya, bisa-bisanya dia mengatakan hal yang mudah tapi tidak tahu betapa sakitnya hatiku. 


"Yang penting suamimu kan pulang, untuk apa memperpanjang masalah ini lagi. Toh dia juga menjadikanmu istrinya satu-satunya, sementara wanita itu cuma pelampiasan saja."


Aku semakin tidak mengerti pola pikir ibu dan anak itu dengan seenaknya mereka tidak memikirkan perasaanku, dan mereka lupa jika punya anak dan adik perempuan. Aku ingin lihat apakah mereka bisa berkata seperti itu jika hal ini terjadi pada Lisa? Aku sudah muak dengan kehidupan yang selalu saja ada ujian.


Aku menarik oksigen dalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan. "Dua hal yang tidak bisa aku maafkan, kekerasan dalam rumah tangga dan penghianatan. Kamu melakukan salah satu hal yang paling aku benci, untuk itu mari kita selesaikan sampai di sini saja."

__ADS_1


"Aku kan sudah minta maaf, apa salahnya memaafkanku."


"Tidak perlu mencari pembenaran dari kesalahan yang kamu lakukan, mari kita akhiri. ayo kita bercerai!"


__ADS_2