
Dengan sengaja Ken mencubit pinggang Huan yang sedari tadi menatap Adiba, dia kesal karena adik angkatnya itu dianggap tidak sopan memandang seorang keponakan pemilik pesantren. Semangat yang kembali tumbuh membuatnya heran, tapi apa dayanya? Sejak dulu adiknya memang begitu, ingin sekali dia menjitak kepalanya agar sadar bila tak mengingat situasi.
"Eh, bahkan aku mencubit nya tapi dia tidak merasakan apapun, dasar garong!" umpat kesal Ken di dalam hati.
"Jadi namanya Adiba? Dia adalah calon ibu dari anak-anak ku kelak. Sepertinya aku akan betah tinggal di pesantren ini," pikir Huan yang kembali berniat miring, salah jalur akan menyulitkannya di kemudian hari.
Ken tak bisa berlama-lama disana, namun Huan sudah menyuruhnya pulang. Hal itu membuatnya sangat kesal, di antar tanpa mengucapkan kata terima kasih malah di usir.
Ken memutuskan pergi dari sana, dia sangat kesal diperlakukan begitu oleh Huan. "Sudah di antar tak tahu terima kasih, mana aku udah capek menghiburnya tadi. Ck, dasar garong!" umpatnya di sepanjang perjalanan.
Beberapa lama kemudian, Ken pulang kerumah membuat Tari mengerutkan kening.
"Eh, aku pikir kamu pergi lama."
"Iya, tadinya begitu. Tapi si onta Taiwan itu mengusirku setelah bertemu dengan Adiba, keponakan pemilik pesantren."
"Apa hubungannya?" tanya Tari yang semakin dibuat bingung.
"Gadis yang diincar Huan, namanya Adiba."
Sontak hal itu berhasil memancing tawa Tari keluar lepas, mendengarkan secara detail penjelasan Ken yang malang.
"Jangan menertawakanku," kesal Ken jengkel, namun Tari berhasil mengembalikan moodnya setelah mencium pipinya.
"Berani menggodaku, berani bertanggung jawab." Ken langsung menggendong istrinya menuju kamar, tentu saja melakukan hubungan suami istri yang sah secara agama dan juga hukum.
Huan tak pernah lepas memandang Adiba, pasangan suami istri paruh baya pemilik pesantren menyadari gelagat murid baru. Adiba sangat risih bila ada yang menatapnya tanpa berkedip, beberapa kali Kyai berdehem bahkan tidak di gubris.
"Astaghfirullah hal adzim. Tundukkan pandanganmu, anak muda."
Huan tersadar menatap Adina tiada henti itu akhirnya malu sendiri, segera dia meminta maaf sambil menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Tibalah salah seorang pria tampan masuk ke dalam, semua orang mengalihkan perhatian dan tersenyum kecuali Huan yang merasakan hal yang mengganjal dari pria tampan yang mengenakan baju koko berwarna putih itu.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab semua orang serempak.
"Ini Yusuf, dia yang akan membimbingmu selama di pesantren." Kyai Abdullah memperkenalkan pemuda tampan itu pada Huan.
Yusuf mengulurkan tangan sambil tersenyum dengan tatapan teduhnya. "Muhammad Yusuf," ucapnya yang memperkenalkan diri.
"Huan," balasnya yang membalas uluran tangan Yusuf.
"Nak Huan, silahkan ikut dengan Yusuf."
__ADS_1
"Dia? Kenapa tidak Adiba saja yang mengantarku?" ujar Huan yang membuat semua orang sontak terkejut.
"Astaghfirullah hal adzim."
"Loh, memangnya kenapa?"
"Begini Huan, Adiba itu perempuan, dan kamu laki-laki. Tidak pantas laki-laki dan perempuan jalan bersama tanpa adanya ikatan," terang Yusuf menjelaskan.
"Apa susahnya, dia yang jalan duluan dan aku mengambil jarak setengah meter."
Sontak hal itu membuat Adiba sangat kesal, pria yang pernah dia tolak dengan santainya mengucapkan hal yang tidak di perbolehkan. Sedangkan Yusuf tersenyum teduh, sesuai namanya.
"Tetap tidak boleh, ada aku. Ayo!"
Huan terpaksa ikut pergi bersama Yusuf, walau sebenarnya dia sangat enggan dan ingin berlama-lama berdekatan dengan Adiba, yang sudah diklaim sebagai ibu dari anak-anaknya.
"Sepertinya pria Taiwan itu suka Adiba deh Bi."
"Suka itu hal yang lumrah terjadi, toh Adiba sudah di jodohkan dengan Yusuf," balas Kyai yang tersenyum melihat punggung keduanya yang mulai menjauh dari pandangan.
Huan melihat kiri dan kanan, sangat sederhana. Semua orang menatapnya, sementara dirinya menjadi selebriti dadakan. "Apa aku tampan?" tanyanya sambil menoleh ke samping.
Yusuf tersenyum dan menganggukkan kepala, hal itu semakin membuat kepercayaan diri Huan menjadi tinggi. "Mereka memperhatikanku karena ketampananku, itu biasa."
"Begitulah."
"Kamu bisa tinggal disini."
Mulut Huan menganga tak percaya, dirinya harus satu kamar dengan santri lain. Tempat tidur yang bersusun itu terlihat tidak nyaman baginya, apalagi kemari sekecil itu tak akan muat dengan pakaian yang dia bawa. "Yusuf," panggilnya yang menghentikan langkah kaki pria tampan itu.
"Iya, butuh sesuatu?"
"Apa ini tidak salah?"
"Maksudmu?"
"Bukankah kamar seharusnya untuk satu atau dua orang? Bagaimana menjaga privasi bila di dalam kamar berisi sepuluh orang?" Huan memberanikan diri menyampaikan pendapat, namun hal itu membuat para penghuni kamar geram dengan sikapnya.
Yusuf kembali tersenyum, tatapan teduhnya sangat menyejukkan hati. "Ini bukan hotel ataupun sejenis kontrakan, memang seperti ini kondisinya."
Huan kembali celingukan mengedarkan pandangannya menyeluruh dalam ruangan itu. "Bahkan tidak ada AC."
"Tapi masih ada kipas angin," sahut Yusuf dengan cepat.
"Bagaimana dengan kamar mandinya?"
__ADS_1
"Kamar mandinya ada di sebelah kiri sana," tunjuk Yusuf mengarahkan tangannya. "Kamar mandi bersama, siapa cepat dia duluan. Mengenai apa saja fasilitas dan kesulitanmu, kamu bisa menanyakannya pada teman-teman satu kamarmu. Aku pergi dulu!" Yusuf menyapa semua orang dan pergi meninggalkan Huan yang banyak mengajukan pertanyaan.
"Ya ampun, apa aku sanggup tinggal disini? Mandi bergantian dan mengantri itu sangat tidak efisien sama sekali. Hah, demi Adiba dan calon ibu dari anak-anakku, aku sanggup dan rela melewati semua ujian ini," gumamnya di dalam hati.
"Wajahmu sedikit mirip etnis, kamu orang cina?" tanya salah seorang pemuda yang mendekati Huan.
"Aku dari Taiwan," balas Huan yang tersenyum, berpikir akan cukup sulit berinteraksi dengan orang-orang yang usianya jauh di bawahnya.
"Kamu muslim?"
"Tidak, tapi sebentar lagi."
"Masyaallah, semoga kamu selalu di jalan yang benar."
"Amin."
Tari memeluk tubuh suaminya diatas ranjang seraya berpikir. "Apa kamu yakin meninggalkan Huan di pesantren?"
"Itu keinginannya sendiri, biarkan dia menemukan jati dirinya."
"Bukan masalah itu, Huan pasti mengalami banyak kesulitan selama disana. Dia yang terbiasa hidup di Taiwan, tidak akan mudah beradaptasi dengan semuanya."
"Aku tahu," jawab Ken yang diam-diam menarik sudut bibirnya ke atas, dia berencana tidak akan menelepon Huan maupun mengangkat teleponnya nanti. "Aku sangat yakin, jika dalam seminggu dia pasti menghubungiku dan minta di jemput."
"Eh, apa maksudmu, suamiku?"
"Aku sangat mengenal Huan, hidup yang serba tersedia tiba-tiba membuatnya harus serba mandiri. Palingan juga seminggu angkat tangan," kata Ken dengan praduganya yang tidak pernah meleset.
Di pagi hari, Huan masih tertidur seperti orang mati. Beberapa orang mencoba untuk membangunkannya, hingga salah seorang ustadz yang mengajar di sana ikut turun tangan.
"Kenapa tidak di bangunkan?"
"Kamu sudah membangunkannya, Pak ustadz. Tapi dia tak kunjung bangun juga," jawab salah seorang santri yang sekamar.
Pak ustadz juga membangukannya secara hakis dan kembut, namun kesabaran ada batasnya. Sang ustadz yang usianya tak jauh berbeda dari Huan dengan terpaksa mencipratkan air, namun hal itu belum juga membangunkan Huan.
"Coba periksa nafasnya!" titah Ustadz yang menyuruh muridnya.
"Masih bernafas, Pak ustadz."
Byur
Air satu gayung berhasil mendarat di wajah Huan yang setengah kesadarannya.
__ADS_1
"Banjir … banjir," pekik Huan yang berlari hingga tak sengaja menabrak tiang penyanggah.