Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 83


__ADS_3

"Aku ingin makan es krim." Tiba-tiba saja aku ingin memakannya, rasanya pasti sangat menyenangkan. 


"Baiklah, mau rasa apa?" 


"Semua varian rasa di mix menjadi satu," ucapku yang bersemangat. 


"Apa itu keinginan anakku?" Ken mengusap perutku, dan aku langsung manggut-manggut. "Baiklah, aku akan memerintah Roy untuk membelikannya." 


"Baiklah." 


"Kamu duduk disana dulu, aku akan menyelesaikan pekerjaanku." 


"Baiklah."


"Ini sangat lama, pasti kamu sangat bosan menunggu." 


Aku langsung cemberut, sifat posesif ku pada Ken sangatlah berlebihan ketika hamil anak perempuan. "Apa kamu bermaksud untuk mengusirku dari sini?" 


"Tidak, bukan begitu. Aku tidak ingin kamu kelelahan." 


"Kalau aku kelelahan bisa tidur, apa susahnya." Aku tetap bersikeras hingga Ken mengalah demi permasalahan tidak semakin luas. 


"Baiklah, kamu bisa menungguku, dan katakan bila memerlukan sesuatu." 


"Iya."


Baru saja aku hendak melahap buah apel, tapi tak jadi saat melihat siapa yang tiba-tiba saja masuk ke dalam. Seorang wanita yang mengenakan pakaian formal, tapi ukurannya terlalu sempit hingga memperlihatkan setiap lekukan tubuh seksinya. 


"Apa dia tidak punya ukuran pakaian yang besar? Selalu saja kekecilan," ujarku berkomentar dan lanjut menggigit apel hijau yang ada di tanganku. 


Ken terkekeh mendengarnya, sedangkan Mona terlihat jelas marah dan kesal denganku. 


"Ini Tuan, saya datang untuk memberikan hasil pekerjaanku." Mona menyerahkan berkas yang ada di tangannya, namun tetap mengambil kesempatan dengan menyentuh tangan Ken. 


Aku memicingkan kedua mata seraya bertegak pinggang, menatap Mona sambil menggigit kasar apel hijau yang terasa asam manis. 


Aku berjalan menghampiri mereka dan tentunya menjadi pawang, aku mempercayai suamiku tapi tidak dengan wanita isi penggoda itu. Aku bukan saja kesal pada Mona, tapi juga Ken yang hanya menatapku dengan tawa kecilnya. 


"Jika tak ada urusan, silahkan pergi!" 


Sekali lagi Mona tampak kesal dengan ucapanku, tapi apa dayaku yang tidak bisa diam setelah rasa trauma karena orang ketiga. Namun,bedanya sekarang, Ken tidak membukakan pintu untuk wanita manapun, cukup beruntung aku merasa di cintai. 


"Aku permisi," kata Mona seraya berlalu pergi. 


Aku sangat senang, namun kesenanganku berakhir saat teleponku berdering. Segera aku mengecek siapa yang menghubungiku, ternyata itu nomor dari mantan suamiku, mas Angga. 

__ADS_1


"Siapa?" tanya Ken yang penasaran saat aku belum mengangkat telepon itu. 


"Mantan suamiku."


"Angkat saja." 


"Tapi__."


"Aku gak apa-apa, angkat saja dan mungkin itu telepon penting." 


Aku mengangguk dan mengangkat telepon, ada rasa mengganjal bila mengangkat telepon dari mantan suami. 


"Halo, Tari. Ini aku, Angga." 


"Iya mas, ada apa." 


"Hari ini aku gajian, aku ingin bertemu dengan Raja dan Ratu. Ya … untuk melepaskan rindu, sekaligus merebut hati mereka agar mau memaafkanku." 


"Baiklah. Dimana harus bertemu?" 


"Aku akan mengirimkan lokasinya," jawab Angga lewat telepon. 


"Baik." 


Setelah sambungan telepon terputus, aku mengatakan yang sebenarnya pada Ken tanpa ada yang tertutupi, tidak ingin kesalahpahaman terjadi. 


"Dia 'kan ayahnya, aku memberi kalian izin." 


Aku memakan es krim saat perjalanan menuju sekolah anak-anak, juga berpikir bagaimana membujuk anak-anak agar mau menemui ayah kandung mereka. Aku menghela nafas, dan berharap semuanya baik-baik saja. Tak lama setelah itu, aku mendapatkan lokasi temu janji dengan ayah anak-anak. 


Aku menjemput anak-anak dan bertanya pada mereka, awalnya mereka menolak namun aku terus memberikan pengertian mengenai seburuk apapun seorang ayah tetaplah seorang ayah yang harus dihormati. 


"Aku tidak ingin menemuinya, Bu." Raja merengek tak ingin menemui ayah kandungnya. 


Aku membelai wajah anak sulungku dengan lembut. "Sayang, bagaimanapun juga dia adalah ayah kalian."


"Entahlah, aku tidak tahu." Raja menunduk kepala dengan bimbang. 


"Kita temui saja, ini hanya sebentar. Ayah kalian merindukan kalian berdua, temui dia ya Sayang." 


"Iya Bu."


Setelah turun dari mobil, aku menuntun kedua anakku berjalan lurus masuk ke taman. Melihat seorang pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak berwarna biru dan celana jeans berwarna denim, aku menghampirinya. 


"Mas, aku datang membawa anak-anak." Aku melihat mas Angga yang berjongkok menyamakan tinggi kedua anakku, merentangkan tangan hendak memeluk Raja dan Ratu. 

__ADS_1


"Kalian tidak ingin memeluk Ayah?" ucap mas Angga yang terlihat guratan kesedihan di wajahnya, sedangkan kedua anakku malah bersembunyi di belakangku sambil mengintip.


"Sepertinya mereka masih butuh waktu, Mas." 


"Aku tahu." Angga perlahan berdiri tak mendapatkan apa yang dia inginkan. "Bagaimana kalau kita jalan-jalan?" tawarnya yang membujuk dan mendapatkan hati anak-anak.


Aku ragu dengan perkataan mas Angga, tapi aku bukanlah wanita kejam yang tidak mengenalkannya kepada kedua anakku. 


"Bagaimana menurutmu?" tanya mas Angga sekali lagi, menatapku dengan raut mata berbinar penuh harapan. 


"Boleh. Tapi aku tidak bisa lama-lama, Mas." 


"Iya gak apa-apa, lagipula mereka butuh beradaptasi dengan kehadiran ku." 


Dengan terpaksa aku mengikuti keinginannya yang membawa kami menggunakan taksi, suasana yang sangat canggung. Mas Angga membawa kami ke pusat perbelanjaan, sekaligus menghabiskan waktu dengan anak-anak.


"Kalian boleh main apapun, jangan sungkan untuk mengatakannya pada Ayah." 


"Iya," jawab anak-anak dengan serempak, mereka terlihat canggung dan tidak terbiasa memanggil orang lain dengan sebutan 'ayah' karena hak itu sudah mereka berikan pada Kenzi, ayah sambung mereka. 


Anak-anak sangat tertarik mencoba beberapa permainan, dan kesempatan yang langsung diambil oleh mantan suamiku. Kedekatan kami malah terlihat seperti keluarga bahagia pada umumnya, namun aku tetap memberitahukan semua rutinitasku pada suamiku agar dia tidak salah paham. 


Setelah puas bermain, aku duduk dan di sebelahku ada mas Angga yang menatap Raja dan Ratu yang tengah bermain. 


"Terima kasih," celetuknya mengalihkan seluruh perhatianku.


"Untuk apa?"


"Untuk kebahagiaan di hari ini." 


"Itu juga hak mu, Mas."


"Andai waktu itu aku tidak membuat kesalahan yang sangat fatal, mungkin kita masih menjadi keluarga."


"Sudahlah Mas, aku tidak ingin memandang kebelakang." 


"Tapi aku sungguh menyesal, Tari." Mas Angga menatapku dengan serius, segera aku alihkan pandanganku ke sembarang arah. 


"Semua sudah terjadi, tidak perlu menyesali apapun. Kamu jalani hidupmu, begitu pula denganku." 


Di raut mata Angga, dia sangat menyesal meninggalkan istrinya dan juga anak-anaknya demi wanita lain, walaupun air mata darah yang dikeluarkan tidak akan membuat hubungan kembali seperti semula. Jujur di dalam benak hatinya yang terdalam, jika dia sangat merindukan Tari, dan belum bisa melupakan mantan istrinya itu.


Aku terkejut di saat mas Angga menggenggam kedua tanganku, dan menatapku dengan sangat serius. "Bisakah aku mendapatkan kesempatan untuk memperbaiki segalanya?"


Segera aku menarik tanganku, karena permintaannya yang tidak masuk akal. "Maaf Mas, hubungan kita sudah lama berakhir dan aku tidak ingin merusak hubungan baruku dengan suamiku. Aku memberimu hak untuk anak-anak, tapi tidak dengan ku." 

__ADS_1


Aku marah? siapa yang tidak marah jika seorang mantan suami berani meminta kesempatan yang padahal sudah lama kadaluarsa. 


"Aku bahagia hidup dengan Ken. Cari wanita lain tapi bukan aku!" tegasku dan segera beranjak dari kursi. 


__ADS_2