
Aku berpikir mengapa mereka begitu tega padaku, apa ibu dan Lisa tidak memikirkan kedua anakku dan juga calon anak ketiga ku? Mengapa mereka sepertinya terobsesi ingin menguasai rumahku? Apakah aku mengatakan ini pada mas Angga atau menyimpannya sendiri.
Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam pikiranku saat ini, aku takut kalau sampai mas Angga kembali terpengaruh oleh mereka. Andai saja aku tega, sudah pasti aku mengusir mereka dari rumahku. Tapi apalah dayaku yang saat ini masih menaruh rasa hormatku, walau hati terasa sesak, aku harus menghadapinya.
"Ibu selalu bersemangat ingin mengusirku, dan selama ini dia juga menghina dan merendahkan aku. Apa ibu lupa, kalau dia juga punya seorang anak perempuan? Aku harap ibu tahu mengenai hukum tabur tuai yang pasti di terima."
Baru saja aku selesai memberi makan Raja, aku di kejutkan dengan barang bawaan ibu mertua, kelihatan kalau mereka habis berbelanja.
"Ya ampun, aku udah gak sabar Bu."
"Iya, Ibu juga."
Aku hanya diam dan sesekali melirik mereka, dengan sengaja mencoba beberapa pakaian, perhiasan, tas, dan juga sepatu seperti sedang mrmborong seluruh isi toko.
"Tari."
"Iya Bu." Sahutku sembari menatap ibu mertua, penasaran mengapa dia memanggil namaku.
__ADS_1
Namun beberapa detik kemudian, dengan sengaja ibu menjulurkatangannya. Terilihat gelang yang berjejer membuatnya seperti toko emas berjalan, aku hanya melirik sebentar dan kembali menyuapi Raja.
"Ini gelang emas model terbaru, di belikan Lisa. Tidak seperti kamu yang tahunya menerima pemberian Angga."
"Bahaya Bu pakai emas sebanyak itu, bisa mengundang kejahatan dan membahayakan nyawa juga." Ucapku memberikan peringatan.
"Apa sih Mba, biarin aja Ibu memakainya. Mba pasti iri, karena tidak mampu membeli gelang emas, dan semua ini." Sindiran halus dari Lisa tidak mempan padaku.
"Uang akan cepat habis kalau di beli dengan keinginan, belilah sesuatu berdasarkan kebutuhan.
"Harusnya kamu kayak Lisa, bisa membelikan ibu perhiasan emas. Ini malah terjadi sebaliknya, bahkan Ibu yang ingin makan rendang daging saja tidak bisa kamu hidangkan."
"Bu, rendang daging itu mahal dan aku gak sanggup membelinya setiap hari."
"Alah, itu pasti akal-akalan kamu aja, memang dasarnya pelit."
"Aku tidak punya uang."
__ADS_1
"Kamu kan manta TKW Taiwan, pasti ada tabungan."
"Walaupun aku punya tabungan, aku mempergunakan untuk masa depan anak-anakku. Masalah perut bisa di tahan, tapi pendidikan anak-anak adalah hal yang utama." Terangku yang menjelaskan, bukan karena pelit melainkan memikirkan masa depan anak-anakku.
"Memang dasar Mba pelit."
"Terserah apa yang kalian katakan."
Aku bergegas pergi dari tempat itu, suasana yang tidak menyenangkan membuatku tidak nyaman di sana. Aku heran, mengapa mereka sangat suka berfoya, memikirkan hari ini dan luoa jika ada hari esok.
Saat akan masak, aku melihat Lisa yang berlari menuju pintu. Dia mengambil pesanan makanan yang tentunya berisi daging rendang dan olahan daging lainnya. Aku tidak tahu makanan apa yang dia pesan, yang jelas ada tiga kantong plastik putih yang berisi makanan.
"Bu, makanannya sudah datang."
"Iya, ibu kesana."
Mereka tidak mengnggapku ada, bahkan tidak menawarkan makanan yang mereka lahap. Aku hanya menggelengkan kepala, namun hatiku menjadi sakit saat Lisa memukul tangan Raja yang ingin brownies coklat.
__ADS_1