
Aku memutuskan untuk masuk ke dalam kamar karena tidak ingin berdebat, kau mulai berpikir mengapa ini terjadi padaku. Ujian yang sangat berat, himpitan ekonomi, permintaan ibu yang membuat suasana rumah semakin buruk, juga sekarang aku hamil anak ke tiga. Rasanya aku ingin berteriak sekencang-kencangnya, akar permasalahannya adalah aku seorang istri pengangguran.
Aku sangat kesal dengan permintaan ibu yang terus memberikan tuntutan standar tinggi, bahkan mas Angga juga terdiam.
Berapa lama kemudian, aku mengalihkan perhatian pada pintu kamar yang terbuka. Ku dapati mas Angga yang masuk dan duduk di sebelahku, jujur saja aku tidak sanggup jika terus tinggal satu atap dengan ibu mertua dan juga adik iparku. Bahkan belum genap satu bulan sudah membuatku pusing tujuh keliling, menghadapi mereka sama saja menghadapi batu yang keras kepala.
Mas Angga menghela nafas panjang, menyodorkan uang berwarna mewah kepadaku. Aku menatapnya bingung, darimana dia mendapatkan uang sebanyak itu.
"Ini uang lima belas juta, kamu pegang untuk biaya bulanan."
"Mas darimana mendapatkan uang sebanyak ini?"
"Aku pinjam uang Asep."
Aku bingung mengapa tiba-tiba sekali mas Angga meminjam uang yang jumlahnya sangat banyak itu, apa motifnya sebenarnya? Apa mas Angga ingin membuka usaha dan menjadikan uang itu sebagai modal? Entahlah, aku di buat pusing dengan maksud perkataannya.
__ADS_1
"Mas mau buka usaha?"
Lama mas Angga terdiam membuat aku semakin cemas memikirkannya, perasaanku sangat mengganjal. "Mas … apa maksud dengan uang sebanyak ini?" Tentu saja aku ingin tahu langkah kaki suamiku.
Mas Angga meraih kedua tanganku dan menggenggam dengan erat seakan tak ingin melepaskannya. Dia menatap mataku dalam, dan sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
"Ada apa Mas?"
"Maafkan aku yang selama ini tidak bisa memberikan kebahagian untuk keluarga kita, kita tidak akan maju kalau hidup seperti ini terus."
"Aku ingin merantau, dan mengubah nasib kita. Mengenai angsuran pinjaman, aku akan mencicil nya setiap bulan setelah gajian."
"Mas mau pergi dalam keadaanku begini? Mas tega ninggalin aku dan anak-anak?" Air matamu mulai menetes, keputusan mendadak membuatku sangat shock dan hampir tidak percaya. Memang aku bisa mandiri tanpanya, tapi bagaimana nasibku nanti saat mengalami masa nifas dan merawat tiga anak sekaligus.
"Tari, dengarkan aku! Ini penting untuk mengubah hidup kita. Keputusanku semakin bulat saat mendengar permintaan ibu yang selalu menuntut, aku ingin membahagiakan kalian."
__ADS_1
"Tidak bisa begitu, bukankah kita akan membuka usaha jualan kue? Bagaimana kalau uang ini kita jadikan modal membuat bisnis kue?"
Mas Angga menggeleng pelan membuat hatiku merasa sesak. "Ini tidak akan lama, Mas janji."
Aku semakin terisak dengan keadaan hidupku, begitu banyak beban hidup yang ada di atas pundak harus di pikul.
"Aku tidak mengizinkan Mas pergi, titik."
Aku tidak mau tahu dan keluar dari dalam kamar, aku segera menyeka air mata saat melihat ibu dan Lisa duduk di ruangan tamu. Ku berlari menuju dapur, ku curahkan semua tangisanku tanpa bersuara. Aku memegang perutku, masalah terus bergulir.
"Mengapa cobaan ku sangat berat? Bagaimana aku bisa mengurus anakku saat aku lahiran nanti?" gumamku di dalam hati, tidak punya keluarga dan hanya bisa mengandalkan diriku sendiri.
Ingin sekali aku berteriak sekencang-kencangnya, bahkan hal itu mengotori pikiranku yang ingin melenyapkan janin yang tidak bersalah.
"Seharusnya aku tidak hamil." Lirihku yang hampir gelap mata.
__ADS_1