Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Merasa paling tersakiti


__ADS_3

Aku membuka kedua mataku secara perlahan, menyusuri pandangan ke penjuru ruangan yang tidak ada siapapun selain peralatan medis yang menempel di tubuhku. Aku sangat lemah tak berdaya, dan mencoba mengingat apa yang aku alami hingga terbaring di atas brankar rumah sakit. 


Segera aku memegang perut, teringat ibu mertuaku yang menusukkan gagang sapu. Aku merasakan perutku yang sedikit buncit kembali rata, perasaan buruk dan mengenai mimpi yang aku alami membuatku tidak bisa diam. 


"Apa anakku baik-baik saja?" Aku sangat panik, terus memegang perut dan berharap kalau firasat buruk hanyalah firasat buruk yang tidak pernah terjadi, bahkan aku tidak mau membayangkannya. 


Suster buru-buru menghampiriku dan mencoba untuk menenangkan aku. 


"Sus, kenapa perutku kembali rata? Apa anakku masih bisa di pertahankan?" 


Lama suster itu terdiam membuatku yakin ada hal yang sangat buruk yang di tutupi oleh pekerja medis itu. 


"Kenapa diam saja? Jawab Sus!" bentakku dan seketika menangis. 


"Maaf, kami tidak bisa menyelamatkannya. Tekanan yang kuat tak bisa menyelamatkan nyawanya yang ternyata sudah meninggal sebelum kami melakukan tindakan." 


"Apa?" bibirku terasa kelu, hati dan perasaanku kembali di uji. Aku tidak bisa menerima kenyataan ini, dan membuatku menangis histeris. 

__ADS_1


"Ini sudah takdir." 


Aku tidak mendengar perkataan dari suster, aku sangat kehilangan anakku. Tidak ada yang bisa menerima kenyataan ini, seakan dunia hancur dan lebih sakit daripada pengkhianatan yang di torehkan mas Angga. 


Aku merasa menjadi yang paling tidak beruntung, selalu saja di berikan cobaan seiring waktu. Aku tidak sekuat itu, kehilangan anak adalah hal yang paling dalam kesakitan di hati, aku merasa gagal menjadi seorang ibu yang seharusnya bisa menyelamatkan anakku yang bahkan belum lahir itu. 


Aku kembali menguatkan diriku, teringat pada kedua anakku yang menjadi obat penenangku. Padahal aku sudah tidak kuat berada di dunia ini, tapi Raja dan Ratu tidak mungkin aku tinggalkan, sementara mereka tak punya siapapun yang bisa menyayangi mereka dengan tulus. 


Satu jam setelahnya, aku melihat seorang pria yang penampilannya kusut acak-acakan. Aku segera memunggungi karena tak ingin merusak hatiku yang sudah beberapa kali di hancurkan. 


"Akhirnya, kamu sadar Tari. Aku sempat khawatir." 


"Jangan memelukku, kamu itu kotor." Ucapku menolak pelukannya. 


"Jangan bicara seperti ini, aku masih suamimu."


"Setelah keluar dari rumah sakit, aku menggugat mu ke pengadilan agama."

__ADS_1


"Jangan egois kamu!" tekan mas Angga yang menatapku penuh emosi, hal itu malah membangkitkan emosiku yang bahkan jauh lebih besar darinya. 


"Aku memang egois, setelah apa yang di lakukan ibumu aku sudah tidak bisa lagi menghormatinya dan aku juga tidak bisa menghormati mu juga Mas."


"Turunkan nada bicaramu, dia ibuku. Aku tidak terima kalau ada yang menjelekkan nya."


Spontan aku menutup kedua mataku, saat tamparan keras mendarat di pipiku. Tapi aku tidak merasakan sakit apapun setelah aku sudah terbiasa. 


"Heh, bahkan aku tidak merasakan sakit bila kamu menamparku. Kamu dan ibumu sama saja, benalu yang tidak tahu malu. Keluar dari rumah sakit, aku akan menggugat mu ke pengadilan dan segera kemasi barang-barang kalian. Jangan sampai tertinggal satupun!" 


"Oke, kalau itu maumu. Sekarang juga aku talak kamu, dan kamu saat ini bukan lagi istriku." 


Tes 


Air mataku menetes bukan karena sedih dengan kalimat perpisahan itu, aku bahagia karena sebentar lagi akan terlepas dari benalu yang hanya bisa menyusahkanku. Aku berniat di dalam hati dan menumbuhkan tekad yang kuat untuk membesarkan kedua anakku, semampu dan sebisanya tanpa kehadiran dari masa Angga. 


"Aku ingin hak asuh anak padaku!" ucapku lagi. 

__ADS_1


"Ambil saja mereka, aku tidak membutuhkan kalian. Aku masih bisa punya anak dari wanita lain, kamu akan menyesal telah melakukan ini padaku." Bentak mas Angga yang berlalu pergi, aku terkejut saat dia menutup pintu dengan kasar. 


"Lucu kamu mas, merasa paling tersakiti." Gumamku yang ingin segera pulih dan keluar dari rumah sakit untuk mengurus perceraian dan juga merindukan kedua anakku. 


__ADS_2