
Aku membuka tirai dan membiarkan cahaya mentari masuk ke dalam kamar, senyuman merekah saat melihat sang tabir surya. Aku menoleh menatap suamiku yang masih tidur dengan terlelapnya, kembali tersenyum jahil untuk menggodanya. Rambutku yang basah setelah berkeramas, itu di sebabkan permainan kami tadi malam yang sungguh luar biasa. Ken bukan saja memberikan kenikmatan, dia memberikan rasa nyaman dan menjadikanku ratu di sebuah singgasana yang tidak mudah di jangkau oleh wanita lain.
Aku sangat bahagia, terus menatap wajah tampannya yang terlihat sangat polos. Aku salah satu wanita yang cukup beruntung mendapatkan pria seperti suamiku, mendapatkannya harus melalui ujian yang sangat berat, kehilangan anak ketiga yang bahkan belum sempat melihat dunia.
Aku mengelus perutku yang semakin hari merasakan perkembangannya, hingga responku dibalas oleh si janin dengan rasa denyut yang terasa. Aku tersenyum dapat merasakannya, sudah tidak sabar untuk segera bertemu dengan calon buah hatiku.
Aku terkejut, di saat melamun tiba-tiba tubuhku ditarik, dan hal itu membuat bibirku menempel pada bibir Ken. Tunggu dulu? Sejak kapan dia bangun. Entahlah, tapi yang jelas kami menikmati ciuman di pagi hari yang terasa manis sekali.
Setelah beberapa menit kemudian, Ken melepaskan bibirku dan tersenyum sambil menoel hidung ku yang mancung. "Kamu melakukan pelanggaran."
"Pelanggaran?" Aku menautkan kedua alisku, tak memahami maksudnya.
Cup
Ken kembali mencium bibirku, namun kali ini durasinya cukup lama. Aku menikmati setiap sentuhan dan kelembutan yang kami cari bersama, rasa nyamat saat bertaut tak bisa dibandingkan dengan yang lain. Melupakan semua orang dan menjadikan pagi menjadi milik berdua, rasa tiada tara kembali melakukan hubungan yang semestinya bila sudah terikat akan pernikahan.
"Ken … sudah, mereka pasti menunggu kita!" ucapku setelah dia melepaskan bibirnya yang bertaut di bibirku.
Aku terkekeh melihat bagaimana kekecewaan sangat tergambar jelas di wajah suamiku, ingin sekali aku membuatnya bahagia, tapi aku bukanlah orang yang egois. "Nanti malam pasti aku berikan yang terbaik."
"Benarkah?"
"Janji. Huan pasti menunggumu, cepat antarkan dia ke pesantren!"
"Hah, kenapa harus aku?"
"Kamu walinya, sekaligus kakaknya. Mungkin saja dia perlu untuk ditemani, karena grogi mungkin."
"Aku tak yakin soal itu, Huan selalu bertemu dengan banyak orang di luar. Aku yakin dia tidak akan kesulitan nantinya, atau dia bisa kibarkan bendera putih sebagai bentuk kegagalannya."
"Suamiku tersayang," ucapku yang menekan, tersenyum dengan perkataannya, seraya menepuk pengan Ken dengan sangat lembut.
"Lihat saja nanti, siapa yang bisa bertahan tinggal di pesantren? Apalagi Huan pria bebas yang sangat sulit dikontrol, bahkan aku menendangnya di apartemenku dulu."
Aku tidak menyangka bila suamiku kejam pada adik angkatnya sendiri, namun perlakukan aku sebagai ratu. "Dia adikmu, jangan begitu lagi ya!"
__ADS_1
"Pasti, bila dia tak merusak citraku." Ken kembali menciumku, namun kali ini di bagian kening. Aku merasa disanjung dan begitu dicintai, sungguh beruntung mendapatkannya. "Cepatlah mandi dan antarkan Huan!"
Dengan cepat Ken menggeleng, memejamkan kedua matanya sembari memelukku seperti seorang anak kecil, aku kembali terkekeh disaat dia melebarkan kedua kaki agar bisa memeluk tubuhku yang mungil.
"Cepat sana!" Aku gemas melihat tingkahnya yang kekanak-kanakan, tidak ada yang tahu dengan sifat manjanya yang satu ini.
"Baiklah, kamu yang mandikan."
"Oh Suamiku, jika aku yang mandikan, aku yakin tidak akan selesai." Tentunya aku membujuk Ken, sifat malas dan manja bercampur menjadi satu.
"Baiklah, aku mandi."
Aku menggelengkan kepala melihat Ken yang sudah masuk ke dalam kamar mandi, segera aku mengeringkan rambut dan turun kebawah menemui semua orang.
"Kenapa Ibu lama sekali?" tanya Ratu yang menatap kesal.
"Ibu kalian harus merawat seorang bayi berkepala hitam." Bukan aku yang menjawabnya, melainkan Huan.
"Ah Paman benar sekali, tapi bagaimana Paman tahu kalau bayi di dalam perut ibu berkepala hitam?" tanya Ratu sedangkan Raja menatap Huan yang juga menantikan jawabannya.
"Ayo!" ajakku yang menuntun semua orang menuju meja makan.
Tak lama, Ken menuruni tangga dengan penuh karisma, dan juga cool. Dia ikut bergabung, dan aku langsung melayaninya untuk mendapatkan pahala.
"Dia sangat rapi sekali," gumam Huan yang kembali melirik penampilannya yang serba hitam seperti berduka.
Kami makan dengan khidmat, tidak ada suara selama dimeja makan. Setelah beberapa saat, aku mengantarkan suami dan juga Huan ke depan pintu, merelakan mereka untuk pergi ke pesantren dan sementara anak-anak aku yang mengantarnya, tentunya dengan persetujuan suamiku dan juga dibawa oleh supir pribadi.
Di dalam mobil, Huan menatap keluar jendela, masih mengingat bagaimana gadis bercadar itu menolaknya. Cinta dan harapannya kandas di saat dia belum memulainya, andai saja gadis itu menerimanya dan akan di jadikan ratu olehnya.
"Jika dia memang bukan ditakdirkan untukku, lalu untuk apa aku bersedih kehilangannya?" batin Huan yang berusaha menyemangati dirinya sendiri dari patah hati yang sangat sakit.
"Tumben kamu diam, biasanya berkicau seperti burung kakak tua," ejek Ken yang paham kalau Huan masih atah hati.
"Sudahlah Kak, jangan menggangguku hari ini!"
__ADS_1
"Eh, ini bukan Huan yang aku kenal. Huan adikku itu orangnya sangat ceria dan selalu semangat. Lalu, kamu siapa?"
"Apa maksudmu?" Huan menoleh sebab perkataan Ken sangatlah menarik untuk disimak.
"Jodoh, rezeki, dan maut sudah ada yang mengatur. Jika kamu percaya pada Allah subhanallah ta'ala, kun fayakun. Jadilah, maka terjadilah. Jangan bersedih dan lupakan gadis itu, mungkin sebentar lagi kamu dipertemukan dengan jodohmu."
"Hem, semoga begitu."
Mobil berhenti di sebuah bangunan yang tampak sederhana, namun tempat itu sangatlah luas. Pesantren yang menjadi tujuan harapan terakhir dari Huan, Ken hanya membantunya sedikit.
"Kita sudah sampai, ayo turun!"
Tampak Huan kebingungan, segera turun dari mobil dan mengedarkan seluruh pandangannya ke sekeliling. Sangat luas, asri dan terlihat tenang juga damai. Banyak pepohonan buah dan juga bunga sebagai mempercantik bangunan tersebut, bahkan mata tak akan pernah bosan bila memandangnya.
Ken yang menjadi wali, menarik tangan Huan menuju ruangan pemilik dari tempat itu.
"Ini adikku, Huan." Ken memperkenalkan pria di sebelahnya, setelah mengenalkan dirinya terlebih dahulu. "Maksud kedatangan kami untuk mendaftarkan Huan belajar ilmu agama, dan dia sangat tertarik untuk menjadi seorang mualaf."
"Masyaallah, niat yang mulia akan selalu dipermudahkan."
"Percayakan adikmu, kami akan membimbingnya sesuai syariat islam," sambung bu Nyai. "Sebentar … saya kedalam dulu!"
"Iya Nyai."
Tak lama kemudian, seorang gadis yang mengenakan cadar dan gamis syar'i berwarna hitam keluar dengan membawa nampan yang berisi tiga cangkir teh dan juga cemilan. Tak sengaja Ken menatap Huan yang tercengang melihat gadis bercadar itu.
"Kamu kenapa?" bisikku yang mendekatkan wajahku padanya.
"Di-dia gadis itu," balasnya berbisik.
"Bagaimana kamu bisa mengenali nya?" tanya Ken yang mengerutkan kening penasaran.
"Bros yang menyemat di sisi bahunya itu," jawab Huan yang sangat detail, sedangkan aku menggelengkan kepala mengaguminya sebagai penggemar gadis bercadar itu.
"Oh, saya lupa memperkenalkan. Dia Adiba, keponakan saya," celetuk Kyai yang memperkenalkan gadis bercadar.
__ADS_1