
Acara berjalan dengan lancar, terlihat raut wajah ibu dan Lisa yang amat bahagia. Aku sangat lelah seharian berada di dapur membantu ibu-ibu memasak, dan juga menjaga kedua anakku juga. Hari yang sangat berat bagiku, seluruh tubuhku sangat lelah dan ingin berbaring selonjoran kaki.
Tidak ada acara apapun lagi, aku memutuskan untuk pulang membawa anak-anakku yang pastinya mereka juga lelah. Baru saja aku membereskan keperluan anak-anakku, lebih dulu Ibu sudah berdiri di hadapanku. Tapi aku lihat wajahnya, dia pasti membutuhkan sesuatu dariku, lalu aku menanyakannya.
"Ada apa Bu?"
"Ibu capek, kamu angkatin kado yang ada di depan ya!"
"Suruh saja orang lain Bu, aku juga capek seharian di dapur dan jaga anak sekaligus." Jawabku yang membalas keluhannya.
"Kamu tuh gimana sih, jadi orang jangan malas. Ibu sudah tua, sudah gak sanggup angkat semua kado itu. Gak ada yang di suruh lagi, semua sudah pulang."
Dengan terpaksa aku mengerjakan perintah ibu, ku paksakan tubuhku bekerja lagi mengangkat kado-kado pernikahan milik Lisa dan juga suaminyanya. Aku tidak melihat pasangan pengantin itu mungkin saja mereka menuju ke hotel yang sudah di booking oleh keluarga pihak pengantin pria.
Aku menghela nafas kasar saat melihat banyaknya kado yang harus aku angkat ke dalam bagasi mobil, dan setelah itu memindahkannya ke dalam mobil yang akan dibawa ke rumah pak camat. Semua kado-kado itu akan dibuka oleh pasangan pengantin yang baru saja menikah.
__ADS_1
Tanganku kram hampir saja menjatuhkan salah satu kado, beruntung seorang pria yang lebih muda dariku jangan sigap memegang tanganku yang kram.
"Hati-hati Mba, pekerjaan ini seharusnya tidak Mba lakukan seorang diri." Ucap pria itu yang membantuku memasukkan semua kado-kado itu ke dalam mobil.
"Terima kasih sudah membantuku."
"Sama-sama, seharusnya ini bukan pekerjaan Mba, ini khusus pekerja laki-laki."
Mana mungkin aku mengatakan kalau ini suruhan dari ibu. "Aku lihat tidak ada pekerja di sini, jadi aku berinisiatif untuk mengangkat kado itu ke dalam mobil. Terima kasih sudah membantuku!"
Aku berjalan dengan segenap kekuatanku hampir saja tubuhku ambruk karena sangat kelelahan dan butuh istirahat, sesampainya aku di sana aku malah melihat ibu yang sudah tertidur dan membiarkan Ratu menangis. Segera aku berlari menghampiri putriku dan menenangkannya, melihat sikap ibu yang menyuruh ku tapi tidak ingin menjaga anakku membuat hatiku sakit.
Di malam harinya, aku sudah berada di dalam kamarku ditemani oleh kedua anakku yang sudah tertidur. Ponselku yang berdering, kulihat panggilan telepon dari suamiku. Rasa capek dan juga lelah menghilang seketika setelah mendapat telepon darinya dan bersemangat, aku segera mengangkat dan tersenyum, dengan sengaja aku menutupi raut wajah lelahku.
"Apa caranya sudah selesai?"
__ADS_1
"Sudah mas, acaranya berjalan dengan lancar. Lisa sudah dibawa oleh suaminya dan sekarang aku masih berada di rumah."
"Apa ibu menyuruhmu untuk bekerja di dapur seharian?"
"Tidak Mas, memangnya mengapa tiba-tiba menanyakan itu."
"Sudahlah … jangan mengelak, kamu tidak pandai dalam hal berbohong."
"Iya, aku membantu ibu-ibu di dapur sekaligus menjaga kedua anak kita."
"Lah, itu kan pernikahan Lisa, tidak seharusnya kamu bekerja di sana."
Aku mendengar intonasi dari Mas Angga yang terlihat marah. "Tidak apa-apa, yang penting acaranya sudah selesai Mas."
"Tidak apa-apa bagaimana? Jelas-jelas kamu itu lagi hamil muda, yang bisa saja keguguran bila sudah kelelahan. Seharusnya kamu tidak bekerja di sana, Ibu sungguh keterlaluan."
__ADS_1