Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 103


__ADS_3

10 tahun kemudian..


Seseorang melirik jam tangan dan menunggu dengan raut wajah yang tegang, sudah sepuluh menit dia menunggu tapi tak melihat siapapun yang keluar dari pintu utama. Dia melirik ke atas yang langsung disuguhkan dengan pemandangan langit yang cerah, matahari yang mulai naik membuatnya mendelik. Menunggu selama itu membuatnya kesal, beberapa kali dia memanggil tapi tetap mendapatkan jawaban yang sama. memainkan jemarinya sambil celingukan masih di pintu utama. 


"Cepatlah sedikit, kita sudah sangat terlambat!" pekiknya seraya melirik jam yang melingkar di tangannya, menghitung waktu yang akan dihabiskan dan jarak tempuh yang cukup jauh. Memperhitungkan segalanya dengan sangat baik, karena mengejar hari penting yang tidak ingin dia lewatkan.


"Kami sudah siap," sahut dua anak kecil dengan serempak, memperlihatkan senyum yang membuat wajah mereka terlihat tampan. 


"Kenapa lama sekali? Apa kalian berencana mengemasi semua pakaian?" ujar Huan yang menatap kedua anak kembarnya yang sekarang sudah berusia sepuluh tahun. 


"Maaf Abi, tadi kami tidak menemukan pakaian yang akan dibawa," ucap Zayn. 


"Pasti ulah Hanna, dia sangat nakal," sambung Zayden. 


"Itu adik kalian, apa masih tega menyalahkannya?" 


"Abi tidak tahu saja, kalau Hanna itu nakal. Selalu saja usil menyembunyikan barang-barang kami." 


"Jangan limpahkan semua kesalahan pada Hanna, kalian juga salah meletakkan barang-barang di sembarang tempat." Huan menceramahi kedua putra kembarnya, dia menginginkan hubungan semua anaknya seperti hubungannya dengan Ken, saling menyayangi satu sama lain, tapi bedanya dia tak punya ikatan darah. 


Zayn dan Zayden menghela nafas, pasrah mendengarkan perkataan ayah mereka yang dipanggil dengan sebutan 'Abi' sesuai permintaan dari istrinya. Beruntung kehidupannya tidak ada yang mencoba untuk mengusiknya lagi, tapi dia masih tetap waspada takut bila Soni mencoba merusak keluarga kecilnya yang harmonis. 


Kedua bocah laki-laki itu meletakkan pakaian mereka di bagian belakang kursi yang mereka duduki, memasang seal bet untuk keamanan.


"Mana Hanna dan ummi kalian?" 


"Masih di dalam, Bi."


Huan menghela nafas berusaha mengontrol emosinya sebab sudah sangat terlambat untuk datang ke acara wisuda Raja di pesantren yang kabarnya keponakannya itu akan melanjutkan studi di Turki. Praduganya sepuluh tahun lalu ternyata tidaklah tepat, nyatanya kedua keponakannya itu tidak mau pulang dan ngotot untuk belajar di pesantren. Pertemuan mereka sangat jarang, kesibukan Huan mengelola bisnis dan istrinya yang ikut membantu membuat mereka tidak punya waktu luang untuk datang ke pesantren secara rutin, dalam setahun mereka datang tiga sampai empat kali ke pesantren. 


"Istriku, cepatlah sedikit!" pekik Huan yang berusaha tetap sabar. 


"Aku sudah siap," sahut Adiba yang menggendong gadis kecil yang berusia tiga tahun, dan tangannya dipenuhi banyak makanan. 


"Makanan sebanyak itu? Ummi, kita sedang tidak berpiknik … tapi ke acara wisuda Raja." 


"Aku sengaja masak banyak, sudah lama Raja dan Ratu tidak makan masakan aku. Aku sengaja membuat menu makanan kesukaan mereka, rendang, opor ayam, dendeng batokok, dan sayur bening." Adiba begitu bersemangat untuk merayakan acara itu, makan bersama dan kembali mendapatkan momen hangat di antara mereka. 


"Hah, ya sudahlah … ayo masuk!" titah Huan yang langsung dipatuhi oleh wanita bercadar itu. 


Di sepanjang perjalanan, tangan Huan berkeringat dan merasa gugup untuk bertemu dengan kedua keponakannya yang tumbuh menjadi anak remaja. Sedih dan senang dirasakan bercampur menjadi satu. Dia sedih, akibat tidak bisa memantau langsung bagaimana psikis dan tumbuh kembang dari kedua keponakannya, dan senang karena akhlak dan adab keduanya terbentuk selama belajar, juga mandiri. 


Adiba menyadari sikap suaminya yang menjadi pendiam, dia tahu bagaimana Huan luar dan dalam. "Abi gugup?" 


Huan tak bisa memungkirinya, mengangguk sebagai bahasa. 

__ADS_1


Adiba menggenggam tangan suaminya, memberikan kekuatan. "Tarik nafas dalam dan keluarkan dengan perlahan, lakukan itu sebanyak tiga kali." 


Huan mengikuti perkataan istrinya, dan itu sangatlah manjur mengurangi rasa gugup yang menyelimuti pikiran dan juga hatinya. "Terima kasih," ucapnya seraya fokus mengemudi dengan kecepatan sedang. 


Sementara seorang remaja yang akan menginjak dewasa celingukan mencari seseorang di ruangan terbuka itu, mengedarkan pandangan menyeluruh dan satu persatu. Seketika kepala Raja di tekuk karena tak melihat kedatangan paman dan auntynya yang sudah berjanji akan mengunjunginya di hari yang spesial ini. 


"Apa mereka tidak akan datang juga?" batin Raja yang sudah berharap bila keduanya datang, tapi keinginannya juga tak bisa di penuhi. Begitu banyak luka yang dia simpan sendiri, beban di usia 18 tahun semakin menumpuk, apalagi menjaga adiknya yang sangat bar-bar. Dia menganggap kalau Huan dan Adiba sudah melupakannya dan juga adiknya, selalu saja sibuk bekerja sampai lupa menjenguk mereka yang ada di pesantren. 


Tidak ada yang tahu, Raja menolak pulang ke rumah milik ayah sambung yang sudah mengatasnamakan dirinya dan sang adik sebab paman dan bibinya sangat sibuk dengan dunia mereka masing-masing dan melupakan kehadiran mereka yang semakin lama menghilang. 


"Untuk apa aku berharap? Mereka selalu sibuk dengan dunianya. Paman Huan dan ayah Ken itu dua orang yang sangat berbeda, untuk apa aku menunggu hal yang tidak pasti?" batinnya merengut kesal, tidak peduli seberapa harapannya yang selalu digantung. 


Raja yang melamun langsung tersentak kaget saat pundaknya di pukul, segera mengucapkan istighfar dan menatap sang pelaku yang menunjukkan wajah tanpa dosa. 


"Bisa gak sih kalau datang ucapkan salam, bukan mengejutkan orang begini. Kalau orang itu punya riwayat penyakit jantung?" 


"Apa sih Kak, lebay deh. Jarang-jarang nih aku mengagetkan Kak Raja." 


"Udah ah, Kakak malas debat sama kamu."


"Dih, kok gitu? Sumpek banget tuh muka," ledek Ratu yang melihat raut wajah kakaknya. "Ngomong-ngomong, aku datang kesini mau ucapin selamat untuk Kakak, sudah lulus dengan nilai terbaik dari ratusan santri pria." Mau bagaimanapun dia akan memberikan ucapan selamat serta hadiah sederhana untuk kakak tersayang yang sudah seperti ayah, ibu, kakak, dan juga temannya, berkamuflase menjadi apa saja saat membutuhkannya. "Ini hadiah dariku," ucapnya yang menyerahkan kotak yang dibungkus dengan kertas kado berwarna pink. "Buka saat Kakak di dalam kamar." 


Raja menyunggingkan senyuman, lalu mengambil hadiah yang diberikan oleh adiknya. Tidak peduli apa isi di balik kotak yang dibungkus kertas kado berwarna pink, yang terpenting ini adalah hadiah dari adik kesayangannya. "Terima kasih. Aku akan membuka hadiahnya di dalam kamar." 


"Itu baru oke." 


Raja menarik tangan adiknya menghindari acara itu, dia tidak tertarik lagi. 


"Kak, kamu mau membawaku kemana?" 


"Hari ini Kakak susah lulus dari pesantren, dan untuk merayakannya kita akan makan di luar." 


"Memangnya Kakak punya uang?" tanya Ratu menatap kakaknya menyelidik. 


"Kamu tenang aja. Hari ini kita puaskan makan di luar, hanya kita berdua saja!" 


"Iya Kak, dengan senang hati." Ratu setuju patuh, urusan perut adalah hal utama. Dia sangat merindukan makan diluar, dan kakaknya sangat pengertian diam-diam membawanya keluar dari pesantren tanpa diketahui orang lain.


Banyak yang penasaran bagaimana Raja sampai tidak memiliki uang, tapi yang sebenarnya terjadi dia mengumpulkan uangnya ke dalam celengan untuk dipergunakan kuliah di turki atau ke kairo. Bukan apa-apa, dia hanya ingin mencoba hidup mandiri tanpa uang yang dikirimkan paman Huannya setiap bulan dalam jumlah yang sangat besar, tapi dia menyimpannya tanpa berniat menggunakannya. 


Dua kakak beradik duduk dan memesan nasi uduk, makanan ekonomis yang berada di pinggir jalan yang letaknya tidak jauh dari pesantren. 


"Selain ini, kamu mau makan apa?" 


"Aku ingin cemilan dan juga es krim." 

__ADS_1


"Baik. Nanti kita singgah di AbsenMart." 


"Kakak yang terbaik." Ratu mengacungkan kedua jempolnya ke udara, namun aksi bar-bar langsung terdiam saat mencium aroma lauk ayam bakar dari nasi uduk yang mereka pesan.  


Keduanya menghabiskan waktu di luar dn melupakan kesedihan mereka, juga menghibur diri karena merindukan kasih sayang dari ibu kandung mereka. 


Dua jam kemudian..


"Kak, kita berada di luar cukup lama. Bagaimana kalau kakek dan nenek mencari-cari kita disana?"


"Gak apa-apa, kita nikmati waktu ini dulu. Kamu sendiri tahu, sebentar lagi Kakak mau kuliah ke Turki. Eh, mungkin ke Turki atau ke Kairo." Usai menjelaskan keinginannya, Raja menangkap jelas raut wajah Ratu yang sedih dengan kepergiannya. "Kamu kenapa?" tanyanya pura-pura tidak tahu. 


"Tolong pikirkan ini sekali lagi Kak. Masih banyak universitas terbaik disini, lalu bagaimana denganku? Siapa yang akan memarahiku? Menjadi guruku yang cerewet? Dan menjadi apa saja bila aku membutuhkannya." 


Raja terdiam sesaat, lalu mengangkat wajahnya menatap sang adik yang duduk di hadapannya. "Aku kuliah jauh untuk masa depan kita, Kakak juga akan mencari pekerjaan paruh waktu agar kamu tetap kuliah." 


"Kenapa Kakak repot membiayaiku? Sudah ada paman Huan yang membantu mendanai pendidikan kita Kak." 


Raja memegang bahu adiknya dan menatapnya dalam. "Sudah cukup kita berpegangan pada paman Huan, kita harus sadar diri kalau hidup kita hanya kita sendiri. Berhentilah berharap banyak, Ratu."


"Apa yang Kakak katakan?" 


"Dengar Ratu, Kakak akan tetap kuliah di luar negeri demi kehidupan kita agar lebih baik. Setelah kamu lulus, Kakak juga akan membawamu tinggal di negeri orang."


Ratu terdiam di sepanjang perjalanan menuju kembali pulang ke pesantren, dia tidak menyangka hal ini dapat didengarnya langsung dari mulut sang kakak. Bukan saja sang kakak yang merasa sedih, dia juga merasakan hal yang sama. Namun menutupinya dengan canda dan tawa juga sikap tingkah laku yang membuat orang lain kesal sampai menggeleng-gelengkan kepala.


"Assalamu'alaikum." Kedua kakak beradik itu melangkahkan kaki masuk kedalam rumah milik kyai Abdullah, salam mereka langsung di sahut oleh semua orang yang ada disana. 


"Kalian dari mana saja?" tanya Huan yang langsung menghampiri kedua keponakan yang sangat di rindukannya. 


"Jangan banyak bertanya, sebaiknya kita makan dulu!" ajak Adiba menengahi. 


Semua orang setuju terkecuali Raja dan Ratu yang masih diam terpaku di posisi mereka saat ini, seakan tidak percaya kalau keluarganya datang walau acara sudah selesai. 


Huan menyadari hal itu, dan kembali menghampiri kedua keponakannya. "Ada apa? Sepertinya kalian sedang marah karena Paman datang sangat terlambat."


"Gak masalah, yang penting Paman sudah datang, terima kasih untuk itu," celetuk Raja dingin. 


"Kalau tidak masalah, bagaimana kalau kita makan bersama? Aunty Adiba membuatkan kalian makanan kesukaan kalian, ayo makan!" 


Huan bingung dan tidak memahami apa yang ada di hati Raja saat ini. 


"Tapi kami baru saja makan di luar pesantren, untuk sekarang perutku sudah sangat kenyang bahkan tidak ada ruang lagi untuk mengisinya," tolak Ratu sembari mengelus perutnya dengan raut wajah yang gembira mendapatkan traktiran dari kakak tersayangnya. 


"Apa kakek dan juga nenek tahu kalau kalian makan di luar? Atau jangan-jangan Kalian pergi secara diam-diam?" tanya Huan yang terus menyelidiki menatap kakak beradik itu secara bergantian. 

__ADS_1


"Kami … kami diam-diam menyelinap keluar, dan yang menentukan jalan keluarnya adalah kak Raja." Ratu mengatakannya dengan kepolosan, dia tidak tahu jika nama yang disebutkan sudah menatapnya dengan tajam. 


"Raja," panggil Huan membuat sang empunya nama menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokan, sekaligus mencari solusi bagaimana terlepas dari cengkraman pamannya yang sudah menjadikannya tersangka di hari pertama mereka bertemu setelah sekian lama. 


__ADS_2