Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Permintaan ibu


__ADS_3

Tampak ibu tidak senang dengan ucapanku, apa saja yang selalu aku kerjakan tidak pernah di matanya, selalu menyindirku dan di cap sebagai istri beban anaknya. Tiba giliranku memulai membuka usaha kecil-kecilan, juga di sindir karena tidak mengurus rumah dengan baik. 


Aku mulai berpikir untuk nasibku dan anak-anak kedepannya, apakah nanti setelah aku melahirkan ibu tetap tinggal di sini? Karena dulu aku hampir mengalami baby blues akibat ucapan yang sangat tajam. 


"Lisa itu capek, kamu aja yang bersihkan kamar."


"Dia seharian cuma rebahan Bu, apa yang membuatnya capek?"


"Kamu tuh ya, kalau di bilang selalu saja menjawab." 


"Bangunkan saja Lisa dan minta dia bersih-bersih kamar, aku sibuk di dapur." 


"Eleh, usaha brownies mu gak bakalan laku, buat apa di teruskan. Paling juga bertahan satu atau dua bulan, dan setelah itu gulung tikar."


Dadaku sesak bila setiap kali ibu berbicara, dalam perkataan tidak ada satupun hal baik yang terucap, dan sungguh miris. 


"Daripada ibu mendoakan usahaku bangkrut, sebaiknya ibu doakan diri ibu sendiri, biar berkah." 


Aku tidak menggubris perkataan ibu mertua, hal itu malah membuatnya semakin menjadi-jadi berteriak dan mencaci maki aku sebagai menantu. Aku mempertebal kesabaran dan juga telingaku dari hinaan yang datang bertubi-tubi, apa aku ini hanya dianggap pembantu di rumahku sendiri. 


Masa kehamilan trimester pertama membuat emosiku tidak stabil, apalagi kata-kata yang di lontarkan oleh Lisa dan juga ibu membuatku sangat marah. Andai aku tidak punya hati nurani dan melupakan hubungan, sudah pasti mereka aku usir dari rumahku. 

__ADS_1


Di sore hari, aku yang hendak memandikan anak-anak malah berselisih dengan adik ipar yang baru bangun tidur. Aku menggelengkan kepala melihat kelakuan anak perawan yang bangun sore hari, namun dia menatapku cuek dan tidak peduli. 


Tiba-tiba saja aku ingin memakan sesuatu yang rasanya asam, lidahku terus mengecap ingin makan rujak mangga muda. "Kemana aku harus mencari mangga muda?" pikirku.


Setelah selesai mengurus anak-anak, aku menyambut kedatangan suamiku yang pulang dari bekerja. Seperti biasa, aku menyajikan cemilan dan teh. Aku menemanmas Angga yang duduk di teras, sembari menggendong kedua anakku. 


"Mas."


"Heum." Mas Angga menoleh saat aku memanggilnya. 


"Aku ingin rujak mangga muda Mas, carikan aku mangga muda ya." 


Aku tersenyum dan mengangguk. "Terima kasih, Mas mau mengerti permintaanku." 


"Tidak perlu berterima kasih, ini bentuk kasih sayang yang selama ini tidak aku perhatikan." 


"Iya Mas." Aku merasa sangat aman dan tenang saat di peluk oleh mas Angga. 


"Baru pulang kamu, Angga?" 


Ucapan seseorang mengalihkan perhatian kami. 

__ADS_1


"Iya, Bu. Apa Ibu perlu sesuatu?" tanya mas Angga menatap ibunya. 


Aku melihat kalau ibu sedang merencanakan sesuatu, tergambar jelas di wajahnya. 


"Ibu pengen pasang AC, kamar itu panas dan sumpek." 


Benar dugaanku, ternyata ibu ingin memasang AC di kamarnya. Aku tidak masalah dengan itu, asal bukan menggunakan uang tabungan masa depan anak-anak ku. 


"Pasang aja Bu." 


"Beneran?" terlihat wajah sumringah di wajah wanita paruh baya itu. 


"Iya Bu." 


"Mana uangnya?" ucapnya tanpa tahu malu.


"Uang apa Bu? Aku tidak punya uang." 


"Ya … uang untuk beli dan pasang AC lah, pake uang tabungan Tari. 


"Pakai aja uang hasil menjual rumah bapak. Kalau pakai uangku itu tabungan anak-anak, jangankan beli AC, sudah makan syukur alhamdulillah." Terangku yang tidak peduli walau di cap menantu pelit. 

__ADS_1


__ADS_2