Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
I love you, honey


__ADS_3

Aku terkejut melihat apa yang ada di layar ponsel, bahkan aku tak sanggup merasakan patah hati untuk kedua kalinya. Suasana hatiku langsung berubah, segera aku seret tangan kedua anakku yang tengah asyik bermain. 


"Ibu, kami baru saja main." Raja menahan langkah kakinya agar tidak terseret, menatap mata sedih baru saja menikmati liburan. 


"Kita pulang!" Aku menarik tangan Raja dan Ratu, hati tak tenang membuatku tak bisa melakukan apapun selain pulang ke rumah. 


Tiba-tiba aku menjadi egois, mengingat Ken yang masih berada di dalam pesawat menuju Taiwan. Namun foto itu membuat hatiku sakit dan juga perih, melihat seseorang yang mengirimkan foto suamiku bersama dengan wanita seksi. 


"Pengkhianat kamu, Ken," umpatku kesal di dalam hati, sedikit mendorong tubuh Raja dan Ratu agar masuk ke dalam mobil menuju pulang. 


"Apa yang membuat Ibu marah? Apa kami melakukan kesalahan?" ucap Raja yang menatapku dengan raut wajah sedih dan bersalah. 


Aku tak mampu berkata-kata, menahan air mata agar tak keluar tapi aku tidak sanggup melakukannya, lebih menyakitkan dari perbuatan mantan suamiku dulu. Tapi, aku sangat mencintai Ken dan tengah mengandung anaknya, membuat emosiku tidak stabil dan bahkan lebih parah dari kehamilan ketigaku yang dulu pernah gugur akibat mantan ibu mertua yang zalim. 


"Bu …." 


Belum sempat "Diamlah dan jangan tanyakan apapun!" ucapku sedikit membentak anak-anak, namun aku menyadari kalau perkataanku kurang pantas di dengar. Aku bisa kuat di masa lalu, mengapa sekarang aku begitu rapuh dan mudah sekali sensitif. 


Sesampainya di rumah, aku meminta kedua anakku untuk masuk ke dalam kamar. Aku menangis sejadi-jadinya dan sangat marah melihat foto itu. 


Diam-diam Raja mengirimkan pesan singkat ke ayah sambungnya, dia tahu kalau sekarang ayahnya masih di dalam perjalanan menuju Taiwan. Dia segera memeluk adiknya dan menenangkannya, usia yang menginjak 7 tahun membuatnya mengerti harus bersikap. 


"Kak, ibu jahat."


"Sudah ya, jangan menangis lagi! Ada dedek bayi dalam perut ibu." 


"Biasanya ibu tidak pernah begitu." 


"Gak apa-apa, ada Kakak disini. Yuk main! Kita main berdua aja."


"Iya kak, tapi main apa?" tanya Ratu sambil berpikir, tangisannya mereda.


"Main petak umpet aja gimana?" 

__ADS_1


"Boleh deh, ayo!" 


Kedua anak itu mencoba menghibur diri mereka, emosi tak stabil yang ditunjukkan Tari membuat mereka takut dan juga shock. 


****


Di Taiwan


Seorang pria menghamburkan dirinya pada sofa empuk di dalam apartemen mewahnya, perjalanan yang cukup melelahkan membuatnya merasakan nikmat ketika berbaring sebentar meluruskan urat yang terasa kaku. 


"Akhirnya aku sampai juga." Ken melirik jam yang melingkar di tangan nya, segera dia mengeluarkan ponselnya. Tapi dia lupa mengisi daya, keadaan ponselnya mati total. "Astaghfirullah, aku lupa charger." Segera dia beranjak dari sofa dan mengisi ulang daya ponselnya, sementara itu, dia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. 


Mandi air hangat sangat menyegarkan tubuhnya, dan pilihan tepat yaitu berendam di dalam bathtub. "Luar biasa, rasa pegal di tubuhku sedikit berkurang."


Setelah beberapa menit, Ken keluar dari kamar mandi menggunakan piyama putih, rambut yang di lap dengan handuk kecil membuatnya terlihat seksi. 


Namun, kenikmatan kesendiriannya langsung sirna dikala seorang wanita cantik tiba-tiba masuk ke dalam apartemen miliknya. 


"Darling, akhirnya kamu kembali." Wanita bergaun merah nan seksi bergelayut manja di lengan Ken, mendekatkan wajahnya hendak mencium pria itu. 


"Tentu saja aku tahu, kamu tidak mengganti kata sandinya." Gadis itu tersenyum menyeringai, mendekati Ken dan berusaha untuk mendapatkan pria itu menggunakan daya tariknya yang memikat juga menggoda. 


Ken mengusap wajahnya kasar, dia lupa mengganti kata sandi yang juga diketahui oleh wanita yang bernama Annchi, dan biasa dipanggil Ann.


"Hah, kenapa aku bisa lupa menggantinya?" batinnya yang kesal pada dirinya yang ceroboh. 


"Jadi Ken … apa kamu masih ingin menolak ku?" 


"Aku sudah menikah." 


"Dengan janda anak dua yang di Indonesia itu? Ayolah, itu hanya pernikahan pertama mu, dan aku tidak masalah menjadi wanita kedua sekalipun, atau …" Ann kembali tersenyum ala pelakor menggoda suami orang. "Menjadi yang kedua atau simpanan." Lanjutnya tersenyum penuh harapan. 


"Aku mencintai istriku, dan tidak akan mendua. Aku tidak ingin menyakiti Tari … kamu harus tahu dimana posisimu. Keluarlah dari apartemenku atau ingin aku usir secara paksa?" Ken yang sudah kehabisan kesabaran, pantas mengusir Annchi dari kediamannya. 

__ADS_1


Annchi sangat marah, mengusir sama saja mempermalukan dirinya sendiri. "Pria sombong dan tetap saja angkuh, untuk apa aku mengejarnya? Lebih baik aku kembali pada mantan suamiku," monolognya, seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Senyum tipis di wajahnya terukir saat dia berhasil mengirimkan foto masa lalunya yang bersama Ken, sedikit membuat permasalahan di dalam rumah tangga pria itu sebagai aksi balas dendam. "Pria yang sombong akan mendapatkan balasan yang setimpal, semoga saja rumah tanggamu awet karena sebelumnya aku sudah mengirimkan foto kita pada istrimu, Kenzi Liang Chen." 


Setelah kepergian Annchi, akhirnya Ken bisa bernafas dengan lega. Dia segera memeriksa ponsel untuk memberikan pesan dan menghubungi istrinya, kalau dia sudah sampai dengan selamat di Taiwan. Namun tiba-tiba pesan masuk yang dikirim oleh Raja, dia tersenyum dan segera membuka isi pesan itu. 


Di detik berikutnya, perasaannya menjadi sangat khawatir, cemas, dan juga gelisah memikirkan bagaimana perasaan istrinya yang menerima foto masa lalu yang menjadi bukti. 


"Ini pasti ulah Annchi." Ken terus menghubungi Tari tanpa lelah, beberapa kali mengirimkan pesan yang juga tidak dibaca sama sekali. Hal itu membuatnya sangat frustasi, segera dia mendapatkan ide untuk menghubungi Raja dan melakukan sambungan video call agar dia bisa memantau apa yang terjadi kepada istrinya. 


"Ayah sudah sampai?" 


"Sudah. Dimana ibumu?" 


"Masih ada di dalam kamarnya." 


"Coba kamu intip lewat jendela, dan salah satu jendela itu ada yang tidak pakai terali besi, kamu lewat sana ya nak." 


"Iya, ayah."


Raja berlari melakukan perkataan dari ayahnya, dia memperlihatkan kamera ke arah ibunya yang ternyata menangis. Hal itu membuat Ken merasa tak tega, apalagi kondisi istrinya sedang hamil. Ingin sekali dia menjelaskan secara langsung, tapi tidak mungkin kembali sebelum menyelesaikan pekerjaannya demi bisa tinggal lama bersama istri tercinta. 


"Honey … jangan sedih dong!" 


Tari celingukkan mencari sumber suara yang ternyata Raja sudah masuk ke dalam kamar tanpa dia sadar, melihat wajah suaminya di layar ponsel. 


"Ayah ingin bicara sama ibu, aku pergi dulu!" Raja segera keluar dan kembali ke kamarnya, tak ingin mendengar teriakan ibu yang sangat memekikkan telinga. 


"Dasar pengkhianat … kamu ke Taiwan menyusul perempuan itu, kan?" pekik Tari yang mengeluarkan kekesalan pada suaminya. 


"Maaf, aku sudah membuatmu menangis. Honey … aku mencintaimu tulus dan sangat mencintaimu." 


"Bohong." 


"Apa karena foto?" 

__ADS_1


"Eh, kamu tahu darimana?" 


Ken tersenyum. "Itu foto lama, lihat model rambutnya yang sudah ketinggalan zaman. Honey … jangan membuat dirimu stres, anak kita juga ikut merasakannya. Ini hanya salah paham, apa perlu aku kesana menyusulmu?" godanya sambil terkekeh, kecemburuan istri yang sangat dia sukai. "I love you, honey." 


__ADS_2