Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Beda pendapat


__ADS_3

Teriakan Huang menggema di penjuru ruangan, pria malang yang berkeringat dingin saat melihat pisau yang tersedia cukup besar ukurannya. Dia menelan saliva dengan susah payah, ingin sekali kabur tapi Ken malah mematahkan niatnya. 


"Kamu tidak bisa kabur." 


"Memangnya siapa yang ingin kabur? Aku ingin masuk islam dulu baru bersunat, ini bisa dilakukan nanti, kan?" tutur Huan yang memberikan seribu alasan menolak melakukannya karena takut dengan pisau besar seperti pisau pencincang daging sapi. "Oh ya ampun, bisa putus sampai ke tandan tongkat bisbolku," batinnya sambil menelan saliva dengan susah payah, seakan tersangkut di tenggorokan. "Kak, kita bicarakan ini nanti setelah aku memeluk islam, bukankah pemaksaan itu tidak baik."


"Hanya bermulut besar, tapi nyali ciut." 


"Biarlah, memangnya siapa mau di sunat dengan pisau yang lebih pantas memotong daging," geram Huan yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu, diikuti oleh Ken yang tertawa. 


"Aku tadi hanya bercanda, jangan memasukkannya ke dalam hati." 


Huan tak habis pikir dengan sikap Ken sesantai itu, bahkan dia sudah pucat dengan melihat pisau yang berukuran besar, pasti rasanya ngilu bila membayangkannya. "Oh my God, bisanya dia bersikap santai begitu. Kakak macam apa dia?" gumamnya kesal. 


Aku sudah tidak sabar menunggu kedatangan suamiku, hanya jamuan kecil dengan menu sederhana yang aku masak sendiri. Aku mengajak Raja dan Ratu untuk ikut menemaniku, mereka juga sangat antusias menunggu kepulangan ayah sambung yang sudah dianggap ayah kandung sendiri. 


Tak lama, terdengar suara bel pintu. Aku buru-buru mengejar sumber suara, tak lupa kupasang senyum manis di wajah sebagai obat kelelahan suamiku. Aku sangat deg-degan, segera membuka pintu dan langsung menatap mata Ken. Dia memelukku erat, kedua anak aku pun berlari mengejar suamiku, terjadilah peluk memeluk melepaskan kerinduan. 


"Ayah …. kami merindukanmu." Kedua anakku memeluk ayah sambing mereka dengan penuh kasih sayang, dan aku tersenyum melihat interaksi itu. 


Kemudian, tatapanku menangkap seorang pria yang dari tadi berdiri melihat interaksi keluarga kecil kami. Aku melihatnya dengan seksama, hal itu dimengerti oleh Ken dan langsung memperkenalkan kami. 


"Oh iya, aku sampai lupa. Ini adik angkatku, namanya Huan … dan Huan, dia adalah istriku, namanya Tari dan mereka anak-anakku, Raja juga Ratu." 


"Hai," sapa Huan yang melambaikan tangan pada kedua anakku, berjalan menghampiriku dengan sedikit merentangkan tangan. 


"Hai," balas Raja dan Ratu serempak yang juga melambaikan tangan. 


"Eh, mau apa dia?" batinku yang berjalan mundur, sepertinya dia ingin memelukku. 


Pletak


"Kakak," rengek pria itu yang menatap suamiku. 

__ADS_1


"Dia istriku, tidak ada yang boleh memeluk-nya selain aku dan anak-anak," tegas Ken yang memperingati Huan agar tak menerapkan kehidupan luar negeri. 


"Pelukan itu hal yang biasa dilakukan, kamu berlebihan sekali menjitak kepalaku. Bagaimana kalau aku sampai geger otak, hah? Mau tanggung jawab?" 


Aku sedikit terkejut, usia pria itu sepertinya tak jauh berbeda dari Ken. Tapi sikapnya malah tak jauh berbeda dari kedua anakku, entahlah … entah seperti apa dia. 


Aku pikir Ken pulang seorang diri, tapi dia membawa seorang tamu dan tentunya aku menyambut tamu dengan sangat baik sebagai pemilik rumah. 


"Hem, sebaiknya kita ke meja makan. Aku sudah memasak untuk kalian," kataku yang berlalu pergi, membiarkan mereka menyusulku. 


"Wah, ternyata kakak ipar sangat memahami perutku, tahu saja aku lapar. Bahkan kakak ku sendiri tidak peka, sedari tadi perut ini berbunyi minta di ini." 


Kalimat sindiran yang ditujukan pada Ken, namun pria itu tak memperdulikannya dan memilih membawa anak-anak ikut makan bersama. 


Aku ingin melayani semua orang, tapi Ken mencegatku karena tak ingin aku kecapean. Hari ini sangat membahagiakan, apalagi besok adalah kontrolku untuk USG. Aku sudah tidak sabar ingin mengetahui jenis kelamin anakku, dan bagaimana perkembangannya sekarang yang paling aku nanti-nantikan. 


Kuarahkan pandanganku pada tamu suamiku, Huan makan sangat lahap. Aku mengerutkan kening akibat rasa penasaran, apa dia begitu menyukai masakanku? 


Setelah selesai makan, kuajak mereka semua duduk di ruang keluarga sambil duduk dan menonton televisi. Beberapa kali aku melirik Ken, agar dia mengatakan maksudnya yang sedari tadi ingin mengatakan sesuatu padaku. 


"Istriku, untuk malam ini Huan menginap di sini ya!" ucapnya yang meminta izin padaku. 


"Kalau Kakak ipar keberatan, aku bisa tidur di hotel saja," sambung Huan yang menatapku dengan mata memelas. 


Aku merasa tak tega dan tidak mungkin meminta tamu untuk menginap di hotel. "Masih banyak kamar kosong yang bisa kamu tempati, dan aku juga tak mempermasalahkan kalau kamu mau tinggal disini." Tidak mungkin pula aku menelantarkan adik suamiku, walaupun statusnya adik angkat. 


"Jadi kamu mengizinkannya tinggal di rumah kita?" tanya Ken yang menatapku seakan tak percaya, dia mempercayaiku dan juga adik angkatnya. 


"Dia adikmu, tidak ada hak untuk ku menolaknya." 


"Kakak ipar yang terbaik, aku akan menjaga anak-anak sebagai bentuk balas jasa." 


Aku tersenyum. "Itu tidak diperlukan, anggap saja ini rumahmu sendiri." 

__ADS_1


"Terima kasih sudah memberikanku tempat tinggal Kakak ipar, aku perlu menghemat uangku untuk melamar gadis yang sedang aku incar."


Aku membalasnya dengan senyuman, meminta pembantu untuk menyiapkan kamar tamu.


Inilah hal yang aku nantikan, semua orang tertidur di kamar masing-masing. Aku dengan leluasa menghabiskan waktu bersama suami import ku, sangat merindukannya walau pergi menjauh walau sebentar saja. Aku tidur di pangkuannya, menatap wajah tampannya. 


"Mengapa tiba-tiba menjadi manja, apa kamu menginginkan yang itu?" goda Ken yang menatapku dengan senyum nafsunya. 


"Aku merindukanmu, Suamiku tersayang. Kata rindu bukan ditujukan pada hal itu saja, ini lebih ke arah positif."


Aku melihat Kem yang terkekeh, lesung pipinya menambah senyuman kian menawan. "Itu juga hal yang positif, membuat nak contohnya." 


Seketika aku cemberut. "Kita memberikan jarak kehamilan sesuai program keluarga berencana, kan?" tanyaku yang memastikan, takut anak-anakku tak mendapatkan perhatian secara adil. 


"Apa aku tidak pernah menyetujuinya, kamu saja yang menyimpulkan begitu." 


Aku membulatkan kedua mata, langsung duduk dan menatap suamiku dengan intens penuh penyelidik. "Apa ini artinya kamu melarang ku ber-kb?" 


"Untuk apa kb? Kita menikah untuk mempunyai keturunan, aku ingin saat tua nanti anak-anak merawat kita dengan penuh kasih sayang seperti kita merawat mereka ketika kecil." 


Terbesit rasa ketakutan jika hal itu sampai terjadi lagi, tekanan batin yang aku rasakan dulu masih membekas sampai sekarang. 


"Hei, kamu kenapa?" tanya Ken mengangkat daguku. 


"Bagaimana dengan tubuhku, penampilanku yang pasti tidak akan sama?" 


"Aku mencintai ragamu, bukan tubuhmu. Melahirkan banyak anak adalah impianku," lanjut Ken. 


"Aku bukan kucing dan mesin, aku tidak ingin melahirkan banyak anak!" tegasku. 


"Tapi …."


"Setelah melahirkan, aku ingin kb dan jangan melarangku!" ujarku yang mendengus kesal, menarik selimut dan langsung memejamkan kedua mata. 

__ADS_1


__ADS_2