
Pasangan suami istri itu sangat bersyukur atas kelahiran putra kembar mereka yang dalam keadaan sehat walafiat tanpa ada satu kekurangan pun, mereka menangis terharu membuat suasana di rasakan oleh orang sekitar. Huan selalu mengucapkan kata terima kasih pada dokter yang telah membantu persalinan istrinya, bahkan dia yang tadinya panik menjadi begitu dramatis dengan kelahiran si kembar. Tak lupa pula Huan mengeluarkan seikat uang dan memberikannya kepada dokter sebagai bentuk ucapan terima kasih atau biasa disebut dengan uang tip, memaksa dokter dan suster untuk menerima pemberiannya.
Huan menggendong salah satu bayi kembar mereka dengan sangat hati-hati, takut dia melukai bayi mungil yang sudah bersih dan selesai di bedong agar tetap hangat.
"Silahkan di adzankan bayi kembarnya!" ucap dokter yang langsung disetujui oleh Huan, mendekatkan wajahnya ke telinga bayi dan mulai mengazankan mereka. Air matanya jatuh beriringan dengan pengucapan kalimat akhir adzan yang dilantunkannya, begitupun Adiba tersenyum penuh haru, rasa sakit melahirkan seketika menghilang saat melihat putra kembar mereka yang di beri nama Zayn dan Zayden.
Raja dan Ratu yang sudah tidak sabar menjenguk bayi kembar, mereka menerobos masuk dan tersenyum bahagia melihat dua bayi kembar nan lucu juga imut.
Raja terdiam beberapa saat yang disadari oleh Adiba. "Kenapa kamu diam? Ada apa?"
"Aku hanya teringat pada ibu, andai ibu di sini dan aku juga punya adik lagi," sahut Raja yang ingat bila ibunya sedang hamil adiknya, tapi nasib tidak mempertemukannya dengan adik satu ibu.
Adiba dan Huan saling berkontak mata, mereka menjadi ikutan sedih.
"Kamu juga bisa menganggap Zayn dan Zayden sebagai adikmu sendiri, sama seperti Ratu." Huan mencoba menghibur anak kecil itu.
Kemudian senyum Raja mengembang, dia mengangguk setuju dengan perkataan pamannya.
"Eh, jadi namanya Zayn dan Zayden?" celetuk Ratu yang menatap Huan dengan polos.
"Benar. Itu nama mereka, kalian berdua akan menjadi kakak mereka. Setuju?"
"Setuju," jawab Raja dan Ratu dengan serempak.
"Kita belum memberitahu paman dan bibi," kata Adiba yang menatap suaminya.
Huan yang panik di kala itu melupakan segalanya, dia menjadi sangat payah. "Astaghfirullah, aku lupa kasih tahu mereka," ucapnya seraya menyerahkan bayi yang ada di gendongannya kepada sang istri.
*
Telinga Huan di jewer oleh kyai Abdullah, membuat sang empunya merasa kesakitan.
"Seharusnya kamu mengabarkan kami mengenai ini, kenapa baru sekarang? Bahkan aku dan bibimu belum melakukan persiapan."
"Maaf Paman, aku lupa."
__ADS_1
"Lupa?"
"Suamiku melupakan segalanya saat panik, bahkan dia yang lebih panik," jawab Adiba yang tertawa, di ikuti oleh bibinya.
Kyai Abdullah melepaskan tangannya di telinga Huan. "Apa kalian sudah memberi nama?"
"Sudah Paman. Zayn dan Zayden."
"Namanya aneh sekali," celetuk sang bibi.
"Itu nama yang keren, Bi."
"Terserah kamu saja," jawab sang bibi setelah itu menatap Adiba. "Bibi akan menemanimu, pasti repot mengurus dua bayi sekaligus."
"Tidak usah repot-repot, Bi. Aku bisa mengurus putra kembar ku, ada Huan juga yang membantuku nanti."
"Ya sudah kalau itu keinginanmu, nanti setelah masa nifas mu selesai, Bibi ingin membuat syukuran di pesantren."
"Aku setuju."
Adiba tidak menyangka dapat merasakan kehidupan yang sempurna, memiliki suami yang penyayang, tanggung jawab, dan juga imam yang baik. Berharap jika pernikahan ini akan sampai ajal menjemput, kebahagiaan yang dirasakan tetap mengenang perjuangan Ken dan juga Tari.
"Kak, aku sudah merasa bahagia. Ternyata menikah bukan hanya menyempurnakan, tapi juga membawa kebahagiaan yang tidak bisa aku ucapkan dengan kata-kata. Dimanapun kakak dan kakak ipar sekarang berada, aku akan selalu mendoakan kalian, menjaga Raja dan Ratu juga menyayangi mereka sama seperti kedua putra kembarku. Aku bahagia, mendapatkan dua anak sekaligus, mungkin kelahiran kedua pasti juga kembar. Aku akan mengatakan ini karena aku tidak akan iri dengan kehidupanmu, kak Ken. Oh ya, aku juga akan menjalankan usahamu dan juga kakak ipar sampai Raja dan Ratu sampai cukup umur," monolog Huan di dalam hatinya, lebih tepatnya sedang curhat andai Ken berada disini.
Persalinan secara normal membuat Adiba bisa pulang lebih cepat, hanya tiga hari berada di rumah sakit. Itupun Adiba memaksa pulang dengan cepat karena kasihan dengan suaminya yang terus bolak-balik.
Akhirnya mereka sampai ke rumah, kyai Abdullah dan istrinya menggendong si kembar, sedangkan Huan membopong tubuh istrinya menuju kamar yang sudah di siapkan oleh pelayan di rumah mereka. Raja dan Ratu bertambahnya usia menjadi lebih mandiri, apalagi status mereka menjadi kakak bagi Zayn dan juga Zayden.
"Aku ingin mandi wiladah, di rumah sakit tidak sempat," ujar Adiba menatap suaminya setelah mereka berdua sampai ke kamar lebih dulu.
"Baik, aku akan membantumu." Huan menjadi suami sigap, setelah dia meminta bantuan pada bibi untuk menjaga di kembar.
Huan sendiri yang menyiapkan air mandi, dia juga memandikan istrinya dengan telaten. Mulai dari mandi sampai mengenakan baju, dia menjadi peran penting di setiap aktivitas sang istri. Adiba tersenyum mendapatkan suami yang sangat menyayanginya, mempedulikannya di saat membutuhkan.
Adiba duduk di tempat tidur, bibinya masuk ke dalam ruangan setelah meminta izin dengan membawa si kembar untuk disusui. Huan memutuskan untuk keluar dari kamar dan menemani aman Abdullah di ruang tamu sedang membawa beberapa barang dan juga keperluan si bayi yang sudah dipesan, sebagai bentuk hadiah.
__ADS_1
"Untung kamu menikah dengan Huan, dia merawatmu dengan sangat baik."
"Iya Bi, aku beruntung. Dia menerimaku dan juga menerima masa laluku," sahut Adiba sambil menyusui kedua anak kembarnya secara bersamaan.
"Anak kembar mu sangat lucu, Bibi bahkan tidak rela pergi dari sini. Ingin terus bersama si kembar," ujar wanita paruh baya yang tersenyum.
"Bibi boleh menginap di sini, atau mengunjungi kami kapanpun. Setelah si kembar sedikit besar, aku akan sering mengunjungi bibi dan paman di pesantren."
"Itu baru bagus. Kamu rawat anak-anak mu dengan sangat baik, bekali mereka dengan ilmu agama, dan tanamkan budi pekerti sesuai yang bibi dan paman ajarkan padamu." Sang bibi sangat cemas memikirkan nasib kedua cucu kembarnya, apalagi di kota besar seperti ini pasti lingkungannya lebih bebas.
"Iya Bi, aku akan menyekolahkan mereka di pesantren milik paman."
"Iya Nak. Apa kamu tidak apa-apa bila bibi dan pamanmu pulang?"
"Iya Bi, aku gak apa-apa kok."
Di malam hari, Huan dan Adiba menatap kedua bayi kembar mereka. Sangat bahagia yang dirasakan oleh pasangan suami istri itu, namun dua kakak beradik malah seperti tersisih.
Ratu mengetuk pintu kamar kakaknya, membawa boneka teddy bear di tangan dengan perasaan gelisah. "Kak Raja, buka pintunya!"
Ratu tersenyum saat pintu terbuka, masuk ke dalam kamar kakaknya dan duduk di atas kursi belajar.
"Ini sudah malam, seharusnya kamu sudah tidur!"
"Maaf Kak, tapi aku tidak bisa tidur."
"Kenapa?"
"Aku merindukan ayah dan ibu," kata Ratu menimpali.
"Aku juga merindukannya, kita doakan saja ayah Ken dan Ibu agar tenang di sana."
"Iya Kak."
Kedua kakak beradik itu saling menguatkan diri mereka, kehilangan orang tua di saat usia masih kecil. Mereka dituntut untuk mandiri, apalagi kasih sayang dari paman dan juga aunty mereka terbagi dengan si kembar.
__ADS_1