Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 114


__ADS_3

Dua orang yang saling bertatap muka dan tidak tahu bagaimana menyikapi keadaan, baik Bara maupun Ratu sama-sama terkejut jika mereka akan dijodohkan. Seakan dunia ini sangat sempit, tak bisa di pungkiri kalau ini kebetulan dan nasiblah yang membawa keduanya bertemu. 


Bara sangat terkejut, tapi dia terpukau akan kecantikan Ratu yang menggunakan sedikit make up. Gadis berkerudung yang sudah cantik alami, namun hari ini terlihat sangat-sangat cantik. Raut wajahnya yang tadinya kusut ketika akan dijodohkan dengan seorang gadis pilihan kedua orang tuanya, kini tersenyum bahagia. Andai dia tahu lebih awal, kalau yang akan dijodohkan dengannya adalah Ratu, mungkin dia tidak perlu buat drama. 


Seseorang yang baru saja tiba di tempat itu sudah disuguhkan dengan pemandangan itu, dia mengucapkan salam dan dijawab semua orang kecuali dua orang yang masih bertahan dalam kontes menatap. Kemudian Raja berdehem keras untuk menyadarkan keduanya, dan itu ampuh. 


"Eh, tuan Raja." Bara tersenyum cengengesan, sedangkan yang ditatap malah mengarahkan pandangan tajam.


"Panggilan itu hanya untuk di kantor, kamu bisa memanggil aku dengan namaku! Dan yang paling utama, jangan menatap adikku begitu!" ucap Raja yang memperingatkan Bara. Kemudian dia ikut dalam meramaikan pertemuan dengan dua keluarga itu, tatapan calon adik iparnya membuatnya mengerti, masih banyak pertanyaan yang ingin di ajukan. 


"Eh, tadi mukanya kusut. Kok sekarang tersenyum begitu?" ledek wanita paruh baya sambil menyenggol bahu anaknya. 


"Kenapa Bunda gak bilang kalau gadis yang di jodohkan dengan Bara itu Ratu? Kalau begini 'kan aku gak perlu capek-capek drama, mana mau minggat dari rumah," bisik Bara pada ibunya, mempertahankan senyuman pepsodent.


"Kamu gak nanya. Kalau kamu gak suka gadis itu maka masih ada adikmu yang bisa menggantikanmu." 


"Jangan, aku menerima perjodohan ini," sahut Bara dengan cepat, seraya menatap Ratu. 


Kedua keluarga itu memperkenalkan diri masing-masing, bersilaturahmi agar bisa membentuk suatu hubungan lebih erat. Adiba sangat sibuk menjamu para tamu yang datang, Raja memberikan isyarat agar adiknya membantu sang aunty. 


Ratu yang pasrah ikut membantu Adiba menyiapkan cemilan dan juga makanan lainnya. "Sini aku bantu, Aunty."


"Eeh … apa ini? Seharusnya kamu ada disana. Pergilah! Ini semua akan Aunty dan di bantu pelayan, jadi kamu tidak perlu membantu." Secara tak sengaja Adiba mengusir keponakan nya, Ratu menghela nafas kemudian kembali bergabung. 


Bara menatap Raja, pria yang akan menjadi calon kakak iparnya sekaligus bos di kantor. Dia merasa kalau bosnya itu tahu mengenai rencana ini, dan dia paham mengapa ayahnya memintanya untuk bekerja di perusahaan orang lain. 


"Jadi kamu sudah tahu mengenai perjodohan ini?" tanya Bara menatap Raja. 


"Aku tahu segalanya."


"Tapi mengapa tidak memberitahuku?" 


"Kalau aku memberitahumu, bagaimana aku bisa melihat sifat aslimu." 

__ADS_1


Bara menelan saliva yang seakan tersangkut di tenggorokannya, apalagi dia memperlihatkan sikap sombong dan juga angkuh, selalu merasa tinggi dan merendahkan orang lain. "Ya Tuhan, apa dia akan memusuhi ku?" batinnya berharap cemas. 


Begitu banyak pertanyaan yang ada di dalam pikiran Bara, tapi dia tidak ingin merusak momen ini. Ya, dia menyukai Ratu pada pandangan pertama, hanya saja gengsi untuk mengatakannya. Gadis yang dulu terlihat kurus, berkulit sawo matang kini berubah menjadi gadis cantik yang sudah glow up.


Ratu merasa risih pada Bara yang terus menatapnya, membuatnya menjadi salah tingkah dan mengalihkan perhatiannya ke yang lainnya. 


"Ratu. Sini Sayang, duduk di sebelah Bunda." Wanita paruh baya itu menepuk kursi kosong yang ada di sebelah kirinya, sedangkan di sebelah kanannya ada Bara. 


Rtu berdiri dan tersenyum sambil mengangguk, duduk di sebelah wanita paruh baya yang bicara dengan lembut padanya. 


"Kamu cantik sekali, mulai sekarang kamu boleh memanggilku Bunda, sama seperti Bara, Beno, dan Beni." 


"I-iya Bunda." Ratu tersenyum gugup, memang dia ingin menikah tapi mengapa harus menikah dengan Bara? 


"Pertama kali melihat fotomu, Bunda sudah menyukaimu. Tapi perjodohan ini akan meminta pendapat darimu dan juga putraku. Ini menyangkut Masa depan kalian karena kalian lah yang akan menjalankan pernikahan itu," jelas wanita paruh baya yang menggenggam tangan Ratu. "Kalau kamu tidak menyukai Bara, kamu bisa memilih antara Beno atau Beni, asalkan kamu mau menjadi menantu Bunda." Sedikit dengan nada paksaan, karena hatinya sudah merasa cocok pada Ratu, sejak dulu dia sangat ingin anak perempuan tapi rezekinya hanya memiliki tiga orang anak laki-laki. 


Jangan tanya bagaimana ekspresi yang ditunjukkan oleh Bara, yang jelas dia kesal, dan lain hal yang di tunjukkan oleh kedua adiknya yang tersenyum, karena menyukai calon kakak ipar mereka. 


Guyonan itu berhasil membuat semua orang tertawa, tapi tidak bagi Ratu yang saat ini sangat gugup. Dia memperhatikan senyum wanita yang di panggil Bunda, sangat hangat dan juga lembut, senyuman itu mengingatkannya dengan senyuman yang di miliki oleh almarhumah ibunya yang sudah berpulang. 


"Bun, inikan perjodohanku. Mengapa mereka juga jadi kandidatnya?" bisik Bara. 


"Semua keputusan ada di tangan Ratu, yang penting dia menjadi menantu Bunda." 


Bara melirik kedua saudaranya yang juga sama tertarik dengan Ratu apalagi sekarang gadis itu sudah grow up, tapi dia sudah menyukainya pada pandangan pertama saat mereka bertemu, walaupun pertemuan itu sangat tidak menyenangkan.


"Sebaiknya mereka butuh waktu untuk saling mengobrol," celetuk Wijaya, selaku ayah dari Bara. Dia tahu bagaimana kepribadian anaknya yang ingin membutuhkan privasi untuk saling mengenal, memberikan ruang adalah hal yang paling tepat.


Semua orang menyetujuinya dan Bara akhirnya membawa Ratu untuk menjauh dari semua orang, tapi tetap memilih tempat yang lebih terbuka seperti di taman. 


Keduanya tampak gugup dan tidak ada yang saling berbicara, Bara yang menyukai perjodohan itu, sedangkan Ratu hanya mengikuti arus yang terpenting dia bisa keluar dari peraturan kakaknya yang posesif, selalu mengekang.


"Apa kamu menyukai perjodohan kita?" tanya Bara yang memulai percakapan, sampai melihat taman yang ada di depannya.

__ADS_1


"Aku menerimanya."


 


Diam-diam Bara tersenyum tanpa ada yang tahu, dia menoleh ke samping dan menatap calon istrinya dengan intens. "Apa kamu menyukaiku?" 


Ratu terdiam untuk beberapa saat, kemudian berani menatap Bara. "Aku juga tidak tahu, tapi aku menghormatimu."


"Kalau begitu, apa alasanmu menerima perjodohan ini?"


"Tidak ada alasan apapun, jika ini takdirku untuk menikah … maka aku akan menjalaninya dengan ikhlas," jawab Ratu yang melirik Bara sebentar kemudian mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dia sangat berharap setelah menikah tidak lagi diatur oleh kakaknya yang begitu posesif, udah mulai belajar untuk mencintaimu suaminya. 


Tidak banyak yang dibicarakan oleh Bara maupun Ratu, keduanya menjadi sangat canggung dipertemukan dalam perjodohan yang tidak diduga oleh keduanya, tapi sudah direncanakan oleh dua keluarga. Mereka memutuskan untuk kembali bergabung dengan semua orang, tentunya dengan pikiran masing-masing.


Begitu banyak makanan dan juga cemilan yang terhidang di atas meja, kedua keluarga itu memutuskan untuk mengisi perut kemudian mulai membicarakan hal serius setelah selesai makan. Ratu diminta untuk melayani semua orang dengan bermaksud mengambil hati dari keluarga calon suaminya, sedangkan dia hanya mengangguk patuh apapun yang diperintahkan akan dikerjakan. 


Setelah selesai makan mereka kembali pada topik yang sebenarnya, menanyakan keinginan dari dua orang agar tidak ada yang mengganjal di hati. 


Baik Bara maupun Ratu mengangguk setuju untuk dijodohkan, semua orang bahagia dan juga senang dengan keputusan mereka. Raja yang melihat hal itu tak sanggup menahan tangisnya, dia memutuskan untuk menghirup udara segar di luar karena sebentar lagi adiknya akan pergi meninggalkannya. 


Huan dan Adiba saling menatap, Huan langsung menghampiri Raja dan terlihat sedih sekaligus bahagia.


"Mengapa kamu di sini sementara semua orang ada di dalam?" 


"Aku hanya ingin menghirup udara segar," sahut Raja tanpa menoleh, takut kalau raut wajahnya terbaca oleh paman Huan. 


"Jangan bohong! Paman sudah mengenalmu."


Raja memeluk pamannya seraya menyeka air mata. "Adik yang aku rawat dan aku jaga selama ini sebentar lagi akan meninggalkanku, sepertinya aku belum sanggup menerima keadaannya Paman.


"Inilah kehidupan, kamu harus bisa menerimanya." Nasehat Huan setelah pelukan itu terlepas. "Sebaiknya kita masuk ke dalam, tanggal pernikahan sedang dirundingkan."


"Iya Paman."

__ADS_1


Semua orang merundingkan tanggal pernikahan, setelah bernegosiasi untuk menentukan tanggal. Akhirnya mereka memutuskan dua minggu lagi akan mengadakan pernikahan. Walaupun waktunya sangat mepet, tapi keputusan itu diambil setelah berdiskusi cukup lama. 


"Ya ampun, dua minggu lagi aku sudah menjadi istri orang. Padahal aku hanya mengatakan ingin menikah sebagai guyonan, eh … ternyata ucapanku malah menjadi kenyataan. The real ucapan adalah doa," batin Ratu yang masih sangat terkejut, sekaligus kagum. 


__ADS_2