Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 85


__ADS_3

Semua sudah selesai, Yusuf bersama istrinya memutuskan untuk berpamitan dengan kekuatan hati yang begitu besar, mau melepaskan Adiba dan merelakan wanita yang akan membuat mereka menjadi orang tua sungguhan. Harapan dengan zuriat yang selama ini di dambakan, mereka berharap bila di masa depan akan menjadi lebih baik lagi. Benar kata Ken, pernikahan delapan tahun belum bisa disebut penantian, mereka masih memiliki waktu tanpa perlu mengorbankan perasaan wanita lain.  


Di sini Yusuf dan Aisyah merasa sangat malu dengan apa yang dikatakan Huan, keegoisan orang lain tidak dapat dibandingkan dengan ego yang selama ini mereka junjung. 


"Abi, Umi merasa malu dengan apa yang terjadi," celetuk Aisyah yang membantu mengemasi semua pakaian suaminya, tentu saja membawa suaminya pulang dan menjadi sepenuhnya miliknya tanpa harus berbagi. 


"Semua sudah terjadi, dan Huan telah menyadarkan kita. Dia berkata benar, kita masih memiliki kesempatan mempunyai anak, bahkan orang ada yang menunggu belasan sampai puluhan tahun demi buah hati mereka. Lalu, kita juga harus mencontohnya. Abi tidak ingin memasukkan orang lain dalam pernikahan kita, takut tidak berbuat adil." Yusuf berjalan mendekat dan memeluk istrinya, mereka hanyut dalam suasana itu. Mereka juga memutuskan untuk pergi dari pesantren dan memulai hidup yang baru.


Sementara di tempat lain, Adiba melirik Huan beberapa kali, tentu saja dia ingin berbicara dengan calon suaminya. Gelagat yang dibuat olehnya sangat terlihat dengan jelas. 


"Ada yang ingin kamu bicarakan denganku?" ucapnya dengan sengaja mengeraskan suara, membuat yang lain mengalihkan perhatian mereka pada Huan dan Adiba. 


"Aku … aku, tidak ada." 


"Kalian boleh pergi untuk saling mengenal, tapi harus ada yang menemani," celetuk sang bibi yang tersenyum, menunjuk Tari sebagai penengah agar tidak ada fitnah. 


Tari setuju, namun kedua anaknya malah memutuskan untuk ikut. Huan menghela nafas jengah, bila berurusan dengan kedua keponakannya urusan akan semakin panjang. 


Adiba berdiri dan di ikuti yang lainnya, mereka berjalan menuju taman yang tak berada jauh dari rumah. Tentu saja Raja dan Ratu malah bermain lari-larian, sedangkan Tari berusaha menghentikan anaknya. 


"Biarkan saja, mereka anak-anak yang suka bermain," ucap Adiba yang tersenyum pada Tari, berusaha untuk menenangkannya. 


"Benar, hanya saja mereka yang terlalu asyik membuatku sangat cemas, takut mereka kesandung misalnya."


"Kamu tenang saja." 


"Hem, lebih baik begitu. Sebaiknya kalian mengobrol saja, aku akan menyusul anak-anak," tutur Tari yang berjalan kedepan beberapa meter, dia tidak ingin mengganggu mereka. 


"Iya, ide yang bagus," sahut Huan yang tersenyum bahagia pastinya. "Apa yang ingin kamu tanyakan?" katanya yang menoleh menatap wanita bercadar yang berjarak dengannya. 

__ADS_1


Adiba tak berani menatap Huan, dia menundukkan pandangan karena merasa bersalah. "Maaf, selama ini aku selalu berkata buruk denganmu."


"Iya, itu melukai hatiku," sambung Huan semakin membuat Adiba merasa bersalah.


"Tolong, maafkan aku!" 


"Dengan satu syarat." 


"Apa?"


"Kamu harus menerima lamaranku, jarang-jarang pria tampan import … ya, teman sekamarku mengatakan aku begitu. Aku mencintaimu pada pandangan pertama saat kita bertemu, tapi ternyata sang Kuasa menyayangi aku." Huan mengatakan betapa bahagianya dia mendapatkan Adiba, tanpa mengingat masa lalu yang buruk dari wanita itu. 


"Maafkan aku," lirih Adiba yang merasa tersentuh. 


"Kamu minta maaf untuk apa?" tanya Huan yang mengerutkan keningnya. 


"Aku belum mencintaimu, menerimamu sebagai pengganti Yusuf tapi hubungan kita …." 


Adiba tersenyum di balik cadarnya. "Apa kamu tidak menyesal? Bahkan kamu tidak tahu bagaimana wajahku, cantik atau jelek." 


"Aku tidak peduli, aku ingin mencari wanita dan calon ibu dari anak-anakku kelak yang bisa membimbing mereka dunia akhirat, sesimple itu." 


"Jangan menyesal ataupun mengeluh mengenai ini nanti."


"Aku tidak akan pernah melakukannya," Huan yang hendak mendekati Adiba, malah semakin jauh saat terdorong oleh anak-anak yang bermain lari-larian. "Suasana yang pas, tapi kedua keponakanku malah mengacaukan nya," kesalnya di dalam hati. 


Setelah permasalahan sudah sepakat, tentu Huan membutuhkan waktu untuk menyiapkan urusan surat menyurat pernikahan. Namun siapa sangka bila pria itu datang dengan persiapan penuh, memberikan surat dan memasukkannya ke dalam satu map. Kyai dan nyai ternganga sebab tindakan Huan yang ternyata di luar dugaan, tanpa terkecuali Adiba dan juga tari, tapi tidak bagi Kenzi yang sudah mengenal adik angkatnya. 


"Aku sudah menyiapkan segalanya, apa aku bisa menikahi Adiba besok pagi?" celetuk Huan yang bersemangat membuat sepasang suami istri paruh baya menahan senyum mereka. 

__ADS_1


"Tentu saja bisa. Hanya saja kami tidak punya persiapannya," jawab Nyai. 


"Tidak perlu memikirkan itu, aku sudah menyiapkana semuanya. Tidak perlu menghidangkan apapun, bahkan aku sudah mempersiapkan ini secara lengkap, tinggal duduk manis menyaksikan ijab qobul." 


Mau merasa aneh pun Ken melihat Huan, tapi dia juga tahu bagaimana sifat sang adik. Ingin sekali dia menjitak kepala adiknya, jika itu dibicarakan padanya tentu akan merasa biasa saja. Tapi, semua orang lain yang berada di sana malah terkejut dengan Huan yang sungguh di luar nakar, ya … begitulah kiranya. 


"Kapan kamu menyiapkannya?" tanya Adiba yang penasaran, cukup sulit menebak Huan. 


"Pertanyaan yang tidak perlu dijawab, besok orang-orang akan datang kesini untuk merias mu sebagai mempelai wanitanya, dan beberapa orang dari dekorasi, catering, juga yang lainnya." 


Semua sudah disepakati, Huan menginginkan pernikahannya sempurna dan saking mau sempurna dia meminjam uang lagi kepada Ken. 


"Apa? Belum lama kamu meminjam uang dua ratus juta, dan sekarang pinjam lagi. Apa itu yang namanya pinjam terakhir kali?" geram Ken pada Huan setibanya mereka berada di ruangan yang telah disiapkan oleh pemilik pesantren. 


"Kamu bisa menghitung seluruh hutangku, tanpa bunga tentunya." 


"Ck, aku bisa bangkrut bila tidak memberikan bunganya," jawab Ken yang bercanda. 


"Benarkah? Apa kamu tidak takut memakan uang riba? Dasar lintah darat." 


Ken yang kesal mengarahkan jari telunjuk dan jari tengah nya menyumpal hidung sang adik. "Ini yang terakhir, bila tidak membayarnya? Siap-siap aku menendangmu dari rumahku." 


"Kamu kejam sekali, seperti ibu tiri. Singkirkan tanganmu di hidungku!" 


Ken dan Huan selalu begitu, namun di lubuk hati terdalam mereka saling menyayangi satu sama lain dan tidak bisa melihat salah satunya kesusahan atau terkena masalah. 


"Sekarang Adiba sudah menjadi tanggung jawabmu, berikan dia nafkah lahir dan batin. Eh, tunggu dulu … apa kamu sudah sunat?" Pertanyaan Ken berhasil membuat Huan diam membisu. "Hah, berarti benar. Kamu belum sunat, belum sunat artinya belum boleh menikah." 


"Apa? Aku … aku." 

__ADS_1


"Kamu harus disunat dulu!" Ken tertawa di dalam hatinya melihat bagaimana ekspresi ketakutan Huan saat ini, persiapan yang tidak sempurna karena mempelai wanitanya belum bersih.


__ADS_2