
Beberapa tahun sudah aku jalani, merintis usaha dari awal sampai sekarang sudah maju. Aku sangat bahagia bisa memberikan pekerjaan bagi warga sekitar, sengaja aku memilih ibu-ibu yang kesulitan ekonomi dan merekrutnya menjadi karyawanku, dan sekarang aku sudah menikmati hasilnya menjadi bos dan hanya melihat karyawan bekerja dan mengatur mereka jika ada yang salah dalam pembuatan adonan.
Aku sangat bersyukur Tuhan begitu banyak mempunyai rencana untuk kedua anak-anakku, begitu banyak ujian yang aku hadapi dan tidak menyangka bisa sampai ketitik kesuksesan. Toko rotiku sudah banyak dikenal luas baik di media sosial maupun ke berbagai daerah. Perjalanan bisnisku tidak semulus yang terlihat, terkadang aku mengalami kerugian yang sangat besar. Jatuh bangun aku merintis usaha roti dan aku bersyukur keadaannya lebih stabil dari sebelumnya.
Usia Raja saat ini tujuh tahun, sedangkan Ratu berusia lima setengah tahun. Begitu cepat mereka tumbuh besar, bahkan aku baru merasa kalau mereka masihlah bayi dan juga balita. Aku menjadi ibu sekaligus seorang ayah untuk mereka, tapi tetap saja kedua anakku itu tetap menanyakan keberadaan ayahnya.
Aku bingung jika mereka menanyakan mas Angga, aku sendiri juga tidak tahu rimbanya. Selalu mencari alasan dan mengalihkan perhatian mereka, sedih jika anak menanyakan ayahnya yang bahkan tidak peduli pada mereka.
Seperti biasa, aku menjemput Raja yang sudah masuk sekolah dasar. Menggunakan mobil silver yang aku beli dari hasil jerih payahku sendiri, semua demi anak-anak dan masa depan mereka.
Sesampainya di rumah, aku melihat seorang pria mengenakan baju koko berwarna putih, celana panjang berwarna mocca yang hanya menampakkan bagian punggung saja. Aku mengerutkan dahi melihat siapa yang hendak bertamu di rumahku, ya … aku masih tinggal di tempat yang lama dan memperluas ruangan saja menjadi perbedaannya.
"Maaf, kamu perlu sesuatu?" tanyaku yang menghampirinya.
Pria yang mengenakan baju koko berwarna putih berbalik badan dan menatapku, senyuman khas yang masih aku hafal. Aku terkejut melihat keberadaan pria itu, penampilan yang sangat jauh berbeda saat terakhir kali dia berkunjung ke rumah.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam." Aku menganga tak percaya, tercengang melihat kehadiran pria yang beberapa tahun lalu melamarku. "Chen?"
"Panggil aku, Ken."
"Ken." Aku menatap tak percaya melihat penampilannya jauh berbeda.
Ken tersenyum memperlihatkan lesung pipinya, mengusap wajah kedua anakku dengan gemas dan pasti dia merindukan merek.
"Silahkan duduk!"
"Hem." Jawabnya yang tersenyum.
Aku ke dapur untuk membuatkan secangkir teh dan juga cemilan berupa roti hasil produksi.
__ADS_1
"Cara pakaianmu sudah jauh berbeda."
"Aku sudah memeluk islam, aku datang ke sini untuk melamarmu dan menjadikanmu istriku."
Tanpa berbasa-basi, Ken kembali mengeluarkan cincin putih bermata berlian yang beberapa tahun pernah aku tolak melingkar di jari manis.
"A-apa?"
"Aku menghilang selama bertahun-tahun bukan tanpa sebab, aku memutuskan mualaf dan mempelajari mengenai agama islam."
"Alasanmu berubah hanya karena aku?"
Ken menggeleng. "Bukan, aku berubah demi mendapatkan jalan yang benar, dan ketenangan, aku mencintai islam. Aku sedih dan juga kecewa, tapi seseorang memberikan lampu harapan dan membuat aku berubah. Aku berani melamarmu setelah belajar menjadi imam yang baik. Will you marry me?"
Aku juga kehilangan Ken setelah beberapa tahun lalu menolaknya, tekadnya yang kuat membuatku mengangguk setuju. "Aku terima."
__ADS_1