Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Takdir yang tidak bisa diubah


__ADS_3

Kehamilanku semakin besar, aku dan Ken sudah tidak sabar menunggu kelahiran mereka, terutama Raja dan Ratu yang sangat antusias dengan kehadiran adik mereka yang segera lahir ke dunia. Suamiku selalu menjelaskan kepada mereka mengenai kasih sayang yang tidak akan terbagi, mendapatkan cinta yang sama banyak adalah hal yang paling utama. 


Aku juga semakin deg-degan menunggu kelahiran baby girl, namun aku terlihat sangat santai dan rileks, tidak seperti Ken yang membuatnya tak tenang, takut terjadi masalah padaku saat melahirkan nanti. 


Tidak mempunyai mertua membuatku tidak mengalami bahan hinaan, namun aku juga membutuhkan sosok itu dan menjadi sedih bila membayangkannya. 


"Eh, kamu menangis?" Ken menghapus air mataku, dia menatapku bingung. 


"Hanya masalah kecil saja, dan tidak terlalu penting."


"Apapun itu, katakan padaku!" 


Aku bingung mau mulai dari mana, aku rasa plin-plan dengan ucapanku sendiri. Di saat aku trauma dengan yang namanya sosok ibu mertua, namun aku juga sangat merindukan sosok itu. "Aku hanya mengingat ibu mertua, ibumu." 


"Ibuku? Aku hanya sebatang kara di dunia ini, maaf … untuk masalah ini aku tidak bisa menyelesaikan keinginanmu," tutur Ken yang menekuk kepalanya kebawah, sedih karena dia tak punya keluarga. 


"Maaf, membuatmu memikirkannya, aku tidak bermaksud seperti ini." 


"Aku mengerti, hanya Huan satu-satunya keluargaku. Dia yang selalu ada dan yang menemaniku saat masih menjadi pria miskin." 


"Apa kamu keberatan bila menceritakan mengenai masa lalu kalian?" ucapku dengan nada pelan, takut suamiku malah tersinggung. 


"Baiklah. Aku dan Huan tumbuh bersama di kota yang sangat kejam, kami bekerja apa saja tanpa pernah memilih, yang penting kami bisa makan. Kami bekerja kasar dan mendapatkan uang, hampir enam puluh lima persen penghasilan selalu kami sisihkan untuk tabungan." 


Aku sangat bersimpati dengan apa yang dialami suamiku dimasa lalu. "Bagaimana dengan keluargamu?" 


"Aku di asuh paman dan juga bibiku, tapi mereka malah berniat menjual ku. Beruntung aku mendengar percakapan mereka dan melarikan diri ke kota, sedangkan Huan … hampir setiap hari dia mendapatkan siksaan penganiayaan dari ayahnya yang pemabuk dan gila wanita, dan juga memutuskan kabur ke kota. Kami dipertemukan dalam keadaan yang sangat terdesak, kami melindungi satu sama lain dan juga berkongsi makanan. Dewasa yang dipaksa keadaan, aku dan Huan mencoba berbisnis. Jatuh bangun yang kami lewati, di tambah lagi pernah di tipu orang lain yang membuat kami hampir frustasi." Ken segera menutupi setetes cairan bening di pelupuk matanya, kisah masa lalu membuatnya berhasil di masa sekarang.

__ADS_1


"Andai saja aku di pertemukan dengan Ken lebih awal, dan melamarku lebih dulu. Mungkin kamu sudah bahagia, tapi aku tetap bersyukur bisa melewati masa itu, seperti kebanyakan istri yang selalu mendapatkan penghinaan dari mantan suami, yang menginginkannya melahirkan anak tanpa mau ikut campur dalam hal merawat," gumamku di dalam hati. Aku menghamburkan memeluk tubuh suami ku, cukup beruntung mendapatkan seorang perjaka walau status janda beranak dua, dan yang paling terpenting dia menyayangi anakku tanpa membedakan anak kandung maupun tidak. 


"Aku mencintaimu, Ken." 


Ken tersenyum membalas pelukanku. "Aku juga sangat-sangat mencintaimu. Tetaplah bersamaku, aku bisa gila bila kamu pergi jauh." 


"Aku akan menemanimu sampai ajal menjemputku." 


"Kamu janji."


"Iya, aku berjanji." 


Aku cukup terkesan dengan perutku yang tanpa di sadari semakin membesar, hidup tanpa tekanan memanglah sangat menjaga kewarasanku. 


"Besok, aku ingin berkunjung ke pesantren."


Aku menoleh pada Ken. "Eh, kenapa mendadak?" 


"Apa aku boleh ikut?" 


"Tentu saja, namun kita akan membawa salah satu penolong medis. Jarak dari sini ke pesantren cukup jauh memerlukan tenaga medis bila terjadi sesuatu di pertengahan jalan." 


"Iya, terserah kamu ingin mengaturku bagaimana."


"Hem, terima kasih telah memahamiku."


"Harusnya aku berterima kasih." 

__ADS_1


Keduanya berencana untuk melihat kondisi Huan, Ken sangat bingung dan juga heran, bagaimana adik angkatnya tidak menghubungi satu minggu pertama saat berada di sana. 


Sementara di sisi lain, Huan yang dulunya bersemangat menjadi tiba-tiba tak bersemangat. Tanpa sengaja dia mendengar percakapan Kyai Abdullah dan Yusuf, ternyata mengenai perjodohan Yusuf dan Adiba benar-benar membuat patah hati, seperti di tenggelamkan di kerak bumi. 


Teman satu kamar dengan Huan juga merasakan hal yang berbeda dari pria Taiwan itu, mereka merindukan aksi kocak dan konyol yang menjadi penghibur di kala banyak hafalan yang harus di setor, belum lagi membaca kitab kuning. 


Seorang pria yang sudah tidak tahan, melangkahkan kaki menuju Huan dan menepuk bahu pria itu pelan. Dia duduk di sebelah pria itu yang tiba-tiba menjadi pendiam. 


"Ada apa?" 


"Bukan apa-apa," jawab Huan yang tak ingin menceritakannya. 


Ingin sekali Huan menghubungi kakak angkatnya, menceritakan mengenai permasalahan yang tengah dirundung saat ini. Ponsel yang tidak sengaja nyemplung dan masuk ke air, hal itu di anggap sebagai clue kalau dirinya harus berjuang di sana. Selain dia di bekali ilmu agama, dia juga bisa melihat Adiba dari kejauhan setiap harinya. 


"Kalau bukan apa-apa, mengapa kamu tidak banyak bicara dan tiba-tiba menjadi pendiam. Walaupun kamu sangat menyebalkan, tapi kami semua merindukan aksimu yang selalu menghibur." 


Huan yang merasa terganggu, segera beranjak dari kursinya dan pergi dari sana. 


Di bawah pohon yang rindang, Huan terdiam membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu tak sengaja di dengar. Ya, ternyata wanita yang menjadi incarannya akan melangsungkan pernikahan minggu depan dengan Yusuf. Dia membandingkan dirinya, bersaing dengan Yusuf akan membuatnya terlihat semakin kecil. 


"Hah, seharusnya aku tidak mengharapkan ini, pasti rasa ini tidak akan menyakitiku." Dia merasa semangat untuk belajar memudar, memangnya siapa dirinya? Yang punya pemikiran dan mengklaim Adiba sebagai calon anak-anaknya kelak. Tapi, dia tidak bersalah karena cinta tidak tahu kepada siapa dia hendak berlabuh. 


Huan masih ingat, bagaimana di sepertiga malamnya selalu menyelipkan doa untuk Adiba, meminta gadis bercadar itu dengan merayu Allah subhanallah ta'ala. Dia mendengar ceramah yang di sampaikan Yusuf, dan melakukannya. Namun semua takdir sudah di atur, jodoh, rezeki, dan maut berjalan hampir beriringan.


Huan menarik oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan, tidak ingin bersedih terlalu lama dan bisa merusak perubahan chapter yang di bangun agar lebih baik mempunyai sebuah tujuan. 


"Untuk apa aku bersedih, jika memang Adiba milik Yusuf, aku akan berusaha melupakannya walau itu sangat sulit," batinnya yang menghentikan kegalauan merana yang hinggap di hati. 

__ADS_1


Huan hendak berlalu pergi meninggalkan tempat itu, namun tak sengaja melihat seorang pria yang berdiri tak jauh darinya berada. 


"Itu terlihat seperti Yusuf, mengapa dia kesini?" batin Huan sambil berpikir. 


__ADS_2