Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 82


__ADS_3

Mau tidak mau Huan menghubungi Ken untuk meminta bantuan, meminjam ponsel milik teman sekamarnya. Dia melihat jam dan menurutnya sangatlah tepat, apalagi tahu rutinitas dari kakak angkatnya. 


"Assalamu'alaikum. Ini aku, Huan." 


"Wa'alaikumsalam. Eh, ada apa menelponku?" 


"Kak, aku butuh bantuanmu. Ini menjadi permintaan terakhirku," ucap Huan yang sangat membutuhkan pertolongan. 


"Baiklah, tapi apa yang harus aku bantu?" 


Huan menjelaskan segalanya, awalnya Ken tidak setuju tapi karena bujuk rayu sang adik membuatnya tak berdaya. 


"Hah, kamu selalu saja menyeretku dalam masalah." 


"Mau bagaimana lagi? Kamu itu kakakku, aku tidak punya siapapun di dunia ini selain dirimu." 


"Kamu ini, jika butuh bantuan mulut sangat manis." 


Huan cengengesan mendengar perkataan kakaknya. "Aku sudah memberitahu rencanaku, lakukan sesuai yang aku katakan tadi."


"Kenapa kamu nekat, Huan. Jika Adiba jodoh pria lain, kamu tidak boleh memaksakan kehendakmu." 


"Apa aku seburuk itu?" tanya Huan yang bernada tinggi, tidak terima jika dirinya di pandang pria perebut calon istri orang lain. "Aku bisa mengerti dan mundur bila Adiba bahagia dengan perjodohan itu, tapi aku tak bisa melihat kesedihan di matanya yang tergambar cukup jelas."


"Kamu benar-benar nekat, Huan." 


"Bercerminlah kak, kita itu sebelas dua belas.Tapi aku tidak ingin menjadi sad boy sepertimu, menunggu wanita pujaan sampai dia janda? Oh, no." 


"Terserah kamu saja." 


"Jangan terlalu mengomentariku, lakukan saja demi kebahagiaan adikmu yang tampan sejagat raya ini." 


"Hah, mulai lagi." 


Ken yang kesal langsung memutuskan sambungan telepon, bahkan dia tak peduli jika kesabaran Huan tengah diuji. 


"Dia selalu saja begitu, menyebalkan." 


Huan segera memberikan ponsel itu pada pemiliknya, dia mengucapkan terima kasih tapi itu tidaklah cukup. Ya, dia harus mengeluarkan sejumlah uang dan sialnya malah lupa meminta pada kakak tersayangnya. 


"Aku lupa." Ken menepuk keningnya, kembali mengambil ponsel itu. "Dua menit lagi, ini penting! Aku akan membayarnya." 


"Baiklah, lakukan dengan cepat." 


"Tentu."


Huan kembali menghubungi Ken, meminta uang karena dia kehabisan uang. 


"Ada apa?" 


"Jangan ketus begitu, kak. Aku kehabisan uang, bisa ditransferkan uang untukku? Sekaligus beserta uang maharnya." 


"Kamu ini, ingin pinjam uang tapi melunjak."


"Hehe … ini terdesak kak." 

__ADS_1


"Berapa yang kamu butuhkan?" 


"Tidak banyak, dua ratus juta saja." 


"Apa? Dua ratus juta kamu bilang tidak banyak? Apa uang itu muncul dengan menjentikkan jari?" 


"Kenapa kakak mulai perhitungan sekarang? Aku 'kan meminjam, yang artinya aku bayar setelahnya." 


"Heleh, apa kamu lupa? Atau pura-pura lupa? Kamu selalu meminjam uang tapi tidak pernah kembali."


"Ya … sekalian aku membayar hutang lamaku, ini terdesak kak," bujuk rayu Huan. 


"Mulutmu sangat manis sekali, sewaktu di tagih malah amnesia."


"Sudahlah, dan jangan mengungkitnya. Kirimkan saja uang yang aku minta!" 


"Dasar pemaksa, baiklah. Tunggu, aku mengirimkannya sekarang!" 


"Baiklah, aku menunggu."


"Sudah. Kamu bisa cek." 


"Kamu yang terbaik kak." 


Huan menyerahkan ponsel pada pemiliknya, dia tersenyum karena mendapatkan apa yang di inginkan. "Ini, terima kasih sudah meminjamkannya," ucapnya sembari menyerahkan benda pipih itu pada sang pemilik. 


"Ini lebih dua menit," ujar sang pemilik ponsel. 


"Kamu hitung saja berapa yang harus aku bayar, nanti malam aku bayar lunas." 


"Iya, lagipula kita satu kamar dan aku tidak akan kabur kemanapun." 


"Hem. Ya sudah."


Huan tersenyum saat semua rencananya sudah tersusun rapi, langkah selanjutnya yaitu membicarakan hal ini langsung pada pemilik pesantren. Sebelum berhadapan dengan kyai Abdullah, ada baiknya mengumpulkan keberanian untuk berhadapan langsung. Melamar seorang wanita pujaan yang beberapa hari akan menikah adalah hal yang sangat sulit, dan dia juga harus berhadapan dengan Yusuf mengenai niatnya yang pasti lebih sulit. 


***


Adiba membantu bibi nya di dapur. "Aku akan memasak ayamnya."


"Tidak perlu, Bibi bisa melakukannya." 


Adiba tetap bersikeras membantu membuat wanita paruh baya itu memahami, jika Adiba sedang membalas budi baik yang selama ini dia dan suaminya berikan.


"Bibi tahu, kamu bersikeras karena membalas budi."


"Tidak. Adiba melakukannya karena tidak ingin Bibi capek." 


"Bibi biasa melakukannya. Pernikahan mu tinggal menghitung hari, jangan karena budi kamu mengorbankan kehidupanmu."


Adiba tidak kuasa menahan air mata, dia segera menyekanya tapi terlambat karena sang bibi sudah mengetahui. 


Wanita paruh baya itu langsung mendekap tubuh keponakannya, teringat bagaimana masa lalu Adiba yang sangat memprihatinkan. 


"Tolak saja pernikahannya, Bibi dan pamanmu tidak akan marah. Kami tidak bisa mengorbankan dirimu, kita bisa membicarakan ini." 

__ADS_1


"A-aku …." Mulut Adiba seakan tersekat untuk tidak melanjutkan perkataannya. 


"Ada apa ini?" Terdengar suara bariton seseorang yang sangat familiar, mereka mengalihkan perhatian dan langsung terdiam tatkala menatap siapa yang datang. 


"Abi."


"Aku tahu dan mendengar semuanya."


"Pa-paman." Adiba tak kuasa menahan tangisnya. 


"Adiba, Paman ingin bertanya padamu." 


Adiba menoleh menatap wajah pamannya. "Iya, Paman," lirihnya dan langsung menundukkan kepala. 


"Apa kami ini bukan keluargamu?" 


"Me-mengapa Paman mengatakan itu?" Adiba sangat gugup dengan pertanyaan yang mengintrogasinya. 


"Apa kami tidak seperti orang tuamu?" 


"Apa yang Paman katakan? Kalian sudah seperti ayah dan ibuku," Adiba menatap sedih keduanya secara bergantian. 


Kyai Abdullah meneteskan air mata, menatap keponakannya yang seorang anak yatim piatu. "Jika kamu menganggap kami sebagai orang tua, mengapa harus ada balas budi? Kami menginginkan kebahagiaanmu." 


Adiba tak mampu berkata-kata, dia hanya bisa melampiaskannya dengan bulir cairan bening bening di pelupuk mata. 


"Jangan anggap kami sebagai bebanmu, kamu itu adalah anak kami." 


Adiba terpaksa mengungkap segalanya, mengenai masa lalu yang begitu buruk. "Paman … Bibi," panggilnya menatap keduanya secara bergantian. "Aku tidak ingin membuat kalian malu, masa laluku sudah di ketahui oleh orang lain."


"Paman baru tahu, kalau sebenarnya kamu tidak bahagia dengan perjodohan itu."


"Paman," lirih Adiba yang menatap sendu. 


"Paman tak bisa mengorbankan perasaanmu demi membalas budi kami, Paman dan bibi menginginkan kebahagiaan mu, Adiba."


Adiba menatap pamannya dengan kening yang berkerut. "Apa maksud Paman?" 


"Paman akan membicarakan ini kepada Yusuf, menolak perjodohan itu." 


"Jangan lakukan, Paman. Sudah cukup aku merusak citra mu, biarkan aku menikah dengan Yusuf."


"Kamu punya hak untuk menolak, segera Paman akan membicarakan mengenai ini pada Yusuf terlebih dulu agar dia tidak tersinggung." 


"Tapi Paman__."


"Sudahlah Adiba, jangan menghentikan pamanmu. Kami ingin yang terbaik untuk kehidupanmu di masa depan, dan mengenai jodoh … sang Rabb pasti telah menyiapkannya untukmu, pasangan dunia akhirat dalam membentuk rumah tangga sakinah mawaddah warahmah, yang bisa membimbingmu ke jalan yang benar. Terutama pria yang bertanggung jawab dan mencintaimu dengan tulus, tanpa mempermasalahkan masa lalu." 


"Aamiin. Apa ini tidak akan berpengaruh Bi? Aisyah sangat menginginkan anak, dan dia yang memilihku menjadi adik madu nya." 


"Jangan khawatir, paman mu dan bibi akan menyelesaikan permasalahan ini."


Adiba tersenyum sambil memeluk erat bibinya, dia sangat bersyukur mendapatkan orang tua kedua yang memahaminya. 


"Bagus. Setelah ini, aku akan bertemu janji dengan Yusuf dan istrinya, semoga saja rencanaku berhasil," batin Huan tersenyum karena keberhasilannya. 

__ADS_1


__ADS_2