
Selama di Taiwan, Ken tidak pernah tenang dalam memikirkan perasaan istrinya yang masih tetap kesal padanya. Dia mencoba untuk menjelaskannya, memang kesalahpahaman itu teratasi, tetap saja di hatinya masih tidak tenang dan ingin pulang memeluk istri tercinta.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku lebih cepat," gumamnya seraya menyeruput kopi dan kembali dengan pekerjaannya, bukan hal yang mudah mengurus kepindahannya ke Indonesia, banyak prosedur yang harus dijalani.
Aku menghela nafas di saat kamar yang luas terasa hampa, aku sangat merindukannya. Andai saja aku tidak terburu-buru menyimpulkan sesuatu, pasti kejadian tadi tidak akan terjadi. Terkikik membayangkan betapa sang suami begitu antusias menjelaskan padanya, kehamilan ini membuatku sedikit lebih sensitif dari biasanya.
"Aku memarahi Raja dan Ratu tanpa alasan yang jelas, aku juga mengabaikan mereka demi mengikuti egoku. Ibu macam apa aku ini?" Aku segera beranjak dari tempat tidur, keluar dari kamar untuk melihat aktivitas yang dilakukan anak-anak.
Tari tersenyum lembut, melihat kedua anaknya yang tertidur. Hatinya tersentuh melihat Raja mengambil peranannya, membuat Ratu tertidur di dalam dekapan. Segera menutup pintu kamar dan pergi kembali ke kamarnya.
"Eh, Ken meneleponku?" ujarku yang terkejut saat memeriksa ponsel yang banyak sekali panggilan tak terjawab beberapa menit yang lalu, kembali kuhubungi suamiku.
"Apa kamu sudah tidur?"
"Kalau aku tidur, bagaimana caraku menghubungimu, suamiku tersayang."
"Apa? Coba ulangi perkataan akhir itu!"
Aku mengerutkan dahi. "Perkataan yang mana?"
"Panggilan tersayang yang tertuju padaku."
"Suamiku tersayang."
"Yeah, mulai sekarang kamu harus memanggilku seperti itu terdengar manis di telinga."
"Sesuai keinginanmu, suamiku tersayang." Aku mendengar jelas kalau Ken terkikik mendengar suaraku yang memanggilnya dengan manja, lembut, dan sangat halus.
"Bagus. Kamu sedang apa di jam segini? Tidak tidur?"
Aku gelagapan, mendengar suaranya saja membuatku gugup. Selama di rumah, dia yang menjaga pola makan dan sampai pola tidur, demi kesehatan janin yang ada di dalam kandunganku yang dulu pernah keguguran, katanya.
"A-aku … aku, aku masih kesal saja tiba-tiba mendapatkan kiriman foto lamamu dan wanita cantik juga seksi," jelasku.
"Kenapa baru sekarang kamu cemburu? Kemana saja saat aku digoda ibu-ibu komplek?"
Aku terkekeh, pasti sangat menyenangkan bila melihat ekspresi wajahnya saat ini. "Pasti Ken frustasi, maafkan aku … suamiku," ucapku di dalam hati. "Aku selalu cemburu jika kamu dekat dengan orang lain, tapi aku tidak pernah memperlihatkannya."
"Manis sekali. Andai saja kamu disini, pasti aku memakanmu, honey."
"Aku sedang tidak menggodamu, suamiku."
"Aku tahu. Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu tidur demi anak kita yang ada di dalam perutmu."
"Baiklah. Assalamu'alaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikumsalam."
Aku tersenyum setelah menelepon Ken, dia yang sangat pengertian dan yang paling penting setia. Aku menyukainya yang hampir sempurna sebagai seorang suami, dan aku belajar bahwa para wanita mendambakan suamiku tercinta.
Aku tidak akan percaya pada pesan ataupun perkataan orang lain, hampir saja aku meragukan kesetiaan suamiku sendiri. Dia mencintaiku dengan tulus, nikmat apa lagi yang aku dustakan? Semua lebih daripada cukup.
Sementara di sisi lain, Ken hendak membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Namun terdengar suara benda jatuh yang berasal dari arah dapur, dia yang sangat terkejut mengira ada pencuri yang masuk, tapi yang membingungkannya, bagaimana hal itu terjadi sementara di lingkungan tinggalnya sangat aman.
"Aku tidak yakin itu pencuri, tapi siapa yang berada di dapur?" pikirnya yang segera beringsut dari tempat tidur, berjalan menuju dapur.
Kembali terdengar suara yang berisik, Ken segera memeriksa dan memastikan kalau semua praduga itu salah. Namun, di saat dia berjalan mendekat pada target, tiba-tiba dia melihat seorang pria tengah mencari sesuatu di dalam kulkas.
Ken sangat kesal, karena bingung siapa tamu yang datang berkunjung di tengah malam. Meraih tongkat bisbol yang tak berada jauh darinya dan bersiap-siap untuk memukul sang pelaku, begitu banyak rintangan hari ini membuatnya sangat lelah dan capek.
Baru saja melayangkan tongkat bisbol, seorang pria langsung menoleh dengan mulut penuh makanan. Pria itu terdiam saat melihat tongkat bisbol melayang ke udara, tahu jika benda itu pasti dilayangkan padanya.
"Huan."
Pria yang merasa namanya diucapkan segera mengunyah dan menelan makanan di dalam mulutnya.
"Bagaimana kamu bisa masuk?"
"Kakak, aku masuk lewat pintu. Apa kamu pikir aku pencuri?"
"Salah sendiri, memberikan celah. Beruntung aku melihat pintu apartemenmu terbuka, kalau tidak?"
"Ck, kau pikir keamanan disini buruk? Kau saja yang masuk tanpa permisi."
"Tadinya, tapi tidak ada jawaban. Aku pikir Kakak sudah pindah ke Indonesia setelah menikah tanpa mengundangku," tutur Huan panjang.
Ken menggelengkan kepala, dia memang terlihat sempurna namun sering melakukan kecerobohan,seperti lupa mengunci pintu misalnya. Dia menarik pria itu ke dalam pelukannya, sudah beberapa tahun tak melihat pria itu karena kesibukannya, dan bahkan lupa mengundang adik angkatnya.
Huan menatap penampilan Ken dari bawah sampai ke atas, kagum dengan penampilan baru kakak angkatnya. "Ternyata kakak iparku merubahmu, aku terkesan."
"Jangan banyak berkomentar, ini sudah malam dan aku sangat mengantuk."
"Maaf, aku mengganggu waktumu sebentar."
"Hem, kamu butuh sesuatu?"
Huan tersenyum sambil menarik tangan Ken, membawanya menuju sofa dan mengobrol.
"Tidak bisa membicarakan nya besok saja?" Ken menguap beberapa kali, namun dengan cepat Huan mengatasinya, memberikannya secangkir kopi. "Ini kopi, kamu bisa menemaniku. Ini masalah hidup dan mati."
"Aku tidak tertarik." Ken hendak melangkah pergi, dia sangat mengantuk tapi Huan masih berharap dia menemaninya sebentar saja.
__ADS_1
"Hanya sepuluh menit."
"Baiklah."
Jujur di dalam hati Ken mengumpat adik angkat yang minim akhlak, dia yang baru sampai ke Taiwan langsung menghadapi berbagai macam cobaan dan yang terberat adalah pertemuannya dengan Huan.
"Kak, aku bosan hidup tanpa tujuan seperti ini."
"Ya sudah, kamu mati saja," jawab Ken asal membuat Huan sedikit kesal.
"Aku juga tidak ingin mati."
"Lalu, kamu mau apa?"
"Aku ingin menjadi sepertimu, sepertinya menyenangkan menjadi seorang mualaf."
Sontak kedua mata Ken berbinar cerah, dia tak menyangka kalau Huan berniat memeluk agama islam seperti dirinya.
"Kamu yakin? Tapi apa alasanmu?"
"Aku tertarik dengan seorang wanita Indonesia, dia unik."
"Kalau begitu lupakan saja niatmu," cetus Ken.
"Memangnya kenapa? Ada yang salah?"
"Niatmu saja sudah salah."
"Bu-bukan begitu, aku memang mencintai islam dan tertarik belajar agama islam, dan aku juga jatuh cinta dengan muslimah di Indonesia beberapa waktu lalu bertemu dengannya."
"Apa? Jadi kamu ke Indonesia tanpa mengabariku?" bentak Ken yang kesal.
"Kakak juga tak mengundangku ke pernikahanmu, untuk apa aku mengatakan keberadaanku," balas Huan tak kalah sengit.
Dengan cepat Ken beristighfar sambil mengelus dadanya. "Baiklah, ikut aku ke Indonesia. Nanti kamu aku masukkan ke pesantren, bagaimana?"
"Itu tidak masalah."
"Kamu pikir itu mudah?" Senyum Ken terlihat sangat menjengkelkan di mata Huan, ada perkataan tertahan yang terpancar disana.
Huan meneguk saliva dengan susah payah, berusaha mengartikan maksud dari ekspresi yang ditunjukkan oleh Ken. "Apa?"
"Tentu saja kamu harus sunat." Kekeh Ken yang pergi dari tempat itu menuju tempat tidurnya.
Huan segera memegang senjata andalannya, sudah merasa ngilu membayangkan dirinya harus di sunat.
__ADS_1