
Semua orang berkumpul setelah acara telah selesai, Raja saat ini menjadi pusat perhatian karena mendapatkan nilai yang terbaik dari yang terbaik. Semua orang mengapresiasi, bahkan beberapa undangan menyambut Raja untuk kuliah ke luar negeri berkat prestasinya yang cemerlang. Namun dia tetap memikirkan perkataan Huan, kalau dia pergi jauh, dia tidak bisa mengawasi adiknya lagi.
Dia menghela nafas, pikirannya penuh dengan dilema yang sangat besar. Mengambil sebuah keputusan sekali dalam seumur hidup, tidak mau mengambil resiko menyesal kemudian hari. Jadi dia benar-benar mempertimbangkannya masak-masak, sebelum hal itu semakin sulit.
"Kakek dengar kamu mengambil beasiswa ke Turki atau ke Kairo?" tanya kyai Abdullah yang menatap ke arah samping.
"Iya Kek, rencananya memang begitu. Tapi aku tidak bisa mengambil keputusan dengan gegabah, takut menyesal di kemudian hari."
"Jadi bagaimana dengan pertimbangan Paman?" Kini Huan mengambil alih pembicaraan, berharap Raja menerima hadiah dari kakak dan kakak iparnya lewat dirinya.
"Pertimbangan?" Dahi kyai Abdullah langsung berkerut.
"Pertimbangan, aku juga memberikan semua usaha milik ayah dan ibu mereka kepada Raja," terang Huan serius. "Selama ini aku yang mengurusnya, dan memberikan hak mereka setelah cukup umur untuk bisa mengelola harta dan usaha orang tuanya tanpa harus repot-repot pergi keluar negeri."
"Tapi Raja punya keinginan belajar ketingkat yang lebih tinggi," sela nyai Fatimah.
"Aku tidak sanggup bila harus mengurus semuanya sendirian Bi, aku jarang meluangkan waktu untuk Zayn, Zayden, dan juga Hanna."
Raut wajah kesedihan dan mata yang berbinar penuh harapan berhasil meluluhkan hati dan keinginan seseorang, dan menganggap kalau ini adalah takdirnya, jalannya dalam menempuh kehidupan.
"Biarkan Raja yang memutuskan, ini menyangkut masa depannya," celetuk Adiba yang memberikan kebebasan pada Raja untuk menentukan jalan hidup, sedangkan mereka hanya bisa menuntun.
"Bagaimana Raja? Apa pendapatmu?"
Raja menghirup oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan, menatap semua orang secara bergantian serta berpegang teguh pada pendiriannya. "Paman Huan sudah memberikan tanggung jawab ini padaku, dan aku akan berusaha mengelola perusahaan dan toko roti milik ibu dan juga ayah." Keputusan yang diambil karena dia masih memiliki hati nurani, dua alasan yang membuatnya memilih untuk mengelola usaha dari keluarganya, yang pertama dia tidak ingin meninggalkan Ratu seorang diri walaupun banyak yang menemani, tetap saja dia tidak percayai. Kedua adalah karena dia tidak tega memberikan beban tanggung jawab dan seharusnya dia pikul kepada pamannya yang selama ini berjuang, bahkan tidak memiliki waktu luang untuk keluarganya sendiri.
Semua menghargai keputusan yang diambil oleh Raja, karena itu memang pilihan yang sangat bijak. Sedangkan Huan merasa sangat bahagia karena dia sekarang akan memiliki waktu luang yang banyak, menghabiskan bersama keluarga tercinta.
Semua orang menyambut gembira keputusan yang diambil oleh Raja, itu adalah pilihan yang tepat tapi tidak bagi satu orang, yaitu Ratu. Ya, selama ini dirinya selalu dikekang oleh kakaknya, hingga dia kesulitan untuk melangkah karena semua keputusan harus atas persetujuan dari sang kakak.
"Apa Kakak sudah mempertimbangkannya? Bukankah selama ini Kakak menginginkan pergi ke luar negeri untuk belajar?" Sekarang mulai Ratu yang berbicara, tentu saja bermaksud untuk membuat kakaknya kembali merubah keputusan, walau itu terlihat … tidak mungkin.
"Aku sudah memikirkannya, ini adalah keputusan yang tepat."
Ratu tersenyum kepada semua orang tapi senyuman itu palsu hanya untuk menutupi rasa kesal yang ada di hatinya, dia tidak ingin berada di dekat sang kakak.
Raja mengamati ekspresi yang ditunjukkan oleh adiknya, dia tahu kalau Ratu sedang berpura-pura tersenyum. Bahkan dia juga tahu isi hati yang diucapkan oleh Ratu, yang pasti mengumpat dirinya tidak jadi pergi ke luar negeri.
Para tetua dan orang tua berbicara satu sama lain, berbincang karena sudah lama tidak bertemu melepaskan rindu yang tidak pernah bersua. sedangkan Ratu membawa ketiga keponakannya untuk main di luar, Dia sangat bahagia karena memiliki waktu bermain bersama Zayn, Zaydan dan juga Hanna.
Kedua anak kembar laki-laki itu tidak terlalu menyukai hal-hal yang begitu rumit, hingga mereka beralih untuk menemui kakak tertua mereka yaitu Raja. Lebih menyukai Raja, sebab mereka sedikit memiliki kesamaan dan juga lebih care.
__ADS_1
"Bailah Hanna, biarkan kedua kakak kembar mu itu menyusul kak Raja. Aku masih ada di sini, dan membawamu berkeliling juga kita akan membeli es krim." Ratu begitu bersemangat membawa bocah yang berusia 3 tahun itu, sangat menggemaskan di matanya seperti seekor kelinci putih.
Ratu memberikan bocah 3 tahun itu cup es krim berukuran besar yang akan mereka makan berdua, sengaja mau memakannya di tempat yang sangat indah yaitu di bawah pohon.
"Apa tidak ada semut atau serangga?"
Ratu tertawa kecil, kemudian menggelengkan kepalanya. "Kakak hampir setiap hari di sini, jadi dijamin tidak ada serangga maupun semua," ucapkan sembari membersihkan akar pohon yang akan dijadikan tempat duduk, menepuk di sebelahnya dan menarik tangan gadis kecil itu ikut duduk tanpa berpikir panjang.
Keduanya menikmati satu cup besar es krim dengan tertawa dan canda riang mereka hanya bertemu sekali dan sekarang menjadi lebih akrab. Ratu lebih menyukai Hanna karena teringat jika sang ibu hamil anak perempuan, sedih dirasakan jika mengenang masa lalu yang masih diingat sampai sekarang, memori yang tidak bisa dia lupakan.
*
Raja mulai mengemasi barang-barang dan juga pakaian hanya sebagian saja, sengaja tidak membawa semuanya karena yakin akan menginap di sini untuk memantau adiknya. Tak lupa, dia membawa foto keluarga masuk ke dalam koper, tidak ingin melihat foto itu takut mata nya akan memerah hendak menahan tangis.
Setelah selesai, dia mengedarkan pandangan menyeluruh dalam ruangan itu. Ruangan yang ditempati 10 tahun tanpa ada yang berubah, hidup sederhana dan hidup mandiri. Inilah saatnya dia harus berpisah dengan pemilik pesantren yang telah menganggapnya sebagai cucu kandung sendiri, sedih bila meninggalkan orang-orang yang sangat dia sayangi. Tapi dia harus tetap kuat, demi orang-orang yang dia cintai dan tidak dianggap lemah.
Kedua kakinya melangkah keluar dari kamar, sebelum menutup pintu, dia menoleh dan melihat beberapa detik begitu banyak kenangan di dalam ruangan itu. Kemudian dia menguatkan tekad menutup pintu dan kembali melanjutkan langkah kakinya keluar dari sana. Dia tersenyum dan tidak memperlihatkan kesedihannya, berpamitan dengan semua orang terutama adiknya yang masih tersisa waktu 1 tahun belajar dan baru lulus, itupun tergantung niat adiknya yang ingin lulus atau menjadi santri abadi.
Walaupun Ratu kesal karena kakaknya tidak jadi pergi ke luar negeri, setidaknya selama 1 tahun ini dia bebas tanpa adanya halangan, dan tanpa harus meminta persetujuan terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Dia sedih karena kakaknya harus meninggalkannya pergi, tetap menangis di saat dia berjuang di sini sendirian. Dia teringat bagaimana kakaknya terus memaksanya belajar agar selalu naik ke kelas yang lebih tinggi setiap tahunnya, membantu kesulitannya.
"Kakak tidak bisa menemanimu satu tahun ke depan, jadi kamu harus berjuang sendirian agar lulus. Telepon Kakak jika mengalami kesulitan, dan jadilah gadis yang patuh dan juga penurut." Nasehat yang disampaikan Raja agar adiknya bisa mengerti.
"Jaga dirimu baik-baik di sini!"
"Iya, Kak Raja juga."
Ratu melambaikan tangan menatap mobil hitam yang perlahan menjauh dari pandangan, dia menulis kakek dan juga nenek dengan raut wajahnya yang sedih. "Aku permisi dulu, Kek … Nek."
"Iya Sayang."
Sepasang suami istri pemilik pesantren itu menatap iba Ratu, apalagi melihat kesedihan yang membuat mereka ikutan sedih.
"Umi jadi sedih melihat Ratu begitu, Abi."
"Abi juga, dia sekarang harus belajar menjadi gadis yang mandiri."
"Umi juga menginginkan hal yang sama."
Sedangkan di sisi lain, Ratu yang tadinya memasang raut wajah yang sedih setelah menutup pintu kamar langsung tersenyum sumringah, tak lupa bersujud syukur karena kakaknya sudah pergi. Tidak ada lagi mata-mata ataupun kekangan seperti di penjara, harus lapor seperti berada di pos penjaga.
"Akhirnya aku bebas, kenapa tidak dari dulu saja kak Raja pergi." Ratu selalu tersenyum sumringah tanpa ada beban yang mengikatnya, tidak ada lagi yang namanya peraturan ketat yang dibuat oleh kakaknya. "Satu tahun sudah lebih dari cukup untukku."
__ADS_1
Rasa bahagia yang ada di hati Ratu langsung terhenti saat mendengarkan ketukan pintu kamar, dia segera membuka dan kembali memasang kesedihan di wajahnya. "Ada apa Nek?"
"Nenek hanya memastikan kalau kamu baik-baik saja."
"Aku baik kok, Nek. nanti juga terbiasa, Nenek tidak perlu cemas."
"Ya sudah, besok jangan lupa sebelum subuh dan sesudah sholat subuh kamu belajar dulu, itu waktu yang pas untuk menghafal."
"Iya Nek."
Huan dan istrinya bahagia, apalagi Raja memutuskan untuk tinggal di rumah. Suasana akan semakin ramai tapi sedih meninggalkan Ratu yang masih ada 1 tahun untuk lulus, tapi dia tidak yakin apakah itu hanya satu tahun, mengingat keponakan yang satu itu sangat sulit menangkap.
Mobil terhenti di sebuah bangunan mewah yang cukup besar, tidak ada yang berubah dari tahun ke tahun hanya saja pohon yang semula kecil sekarang menjadi lebih rindang dan sudah berbuah. Semua orang ikut turun dari mobil, begitupun dengan Raja yang langsung menatap semua yang ada di sekitarnya. Dia menghirup oksigen sedalam mungkin dan mengeluarkannya secara perlahan, untuk menikmati keindahan dan kerinduan mengenai rumah yang penuh kenangan itu. Terlintas dipikiran Raja saat ini yaitu berkunjung ke kamar yang pernah ditempati oleh ayah dan ibunya, ingin lihat apakah ada perubahan di sana atau masih seperti yang dulu.
Anak-anak berlarian masuk ke dalam rumah, Huan dan diikuti oleh yang lainnya.
"Apa aku boleh melihat kamar ayah dan ibu?" Raja menatap paman dan juga bibinya, kedua matanya berbinar penuh harap.
"Boleh, tidak ada yang melarangmu."
Raja tersenyum dan berlari melewati beberapa anak tangga dan berhenti di depan pintu kamar, sebelum membuka Raja tertegun untuk beberapa saat, kemudian menguatkan dirinya.
Sebelum masuk tak lupa dia mengucapkan salam, melangkahkan kaki kanannya sembari mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan itu. Ruangan yang masih sama saat dia meninggalkan 10 tahun yang lalu, tidak ada yang berubah, dan dia sangat berterima kasih karena paman dan juga bibinya telah menjaga kamarnya tanpa memindahkan apapun.
"Tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu."
Raja langsung menghubungi adiknya dan mengatakan kalau dia sudah sampai, dia tertawa mengingat bagaimana ekspresi adiknya saat ini.
"Pasti dia sangat bahagia aku pergi," gumamnya setelah mengirimkan pesan singkat lewat aplikasi hijau.
Huan dan Adiba memutuskan untuk menyambut kedatangan Raja di rumah itu dengan mengundang beberapa tetangga sekaligus mengenalkannya, sebagai anak.
Raja sebenarnya tidak nyaman dengan suasana yang seperti ini, tapi dia harus menghargai usaha dari paman dan juga bibinya. Bukan di sana saja tetapi huan mengenalkannya di kantor sebagai pengganti, tentu saja dia yang masih pemula langsung shock karena tidak ada training terlebih dahulu.
Setelah pengenalan itu, Raja mendekati Huan dan mulai berbisik. "Aku tidak yakin bisa mengelola perusahaan ini? setidaknya beri aku training dulu, Paman!"
"Kamu bisa belajar dengan asistenku, kalau mengalami kesulitan tinggal tanyakan saja padaku."
"Apa ini tidak terlalu gegabah? Aku bahkan tidak mengerti apapun," ucap Raja yang tidak yakin.
"Paman menunjukmu karena Paman percaya pada kemampuanmu, hanya saja Paman tidak bisa percaya kepada adikmu," jawab uang yang membuat Raja tertawa kecil. "Semoga saja Ratu bisa lulus tahun depan, hanya itu doaku untuknya."
__ADS_1