
Aku terkejut saat melihat Ratih yang ternyata sudah berada di belakangku. "Kamu mengejutkan aku saja." Ucapku yang sedikit kesal padanya, dia membalasnya cengengesan sambil menggaruk hidung yang tidak gatal.
"Ganteng banget Mba, siapa dia?" tanya Ratih penasaran.
"Penasaran banget kamu, Ratu dan Raja mana?"
"Mereka udah tidur."
"Terima kasih ya Ratih, udah bantuin aku jaga anak-anak. Oh iya, aku sudah belanja bahan-bahan yang kurang." Terangku pada Ratih.
"Iya Mba, nanti aja kita angkat ke dapur."
Ratih duduk di sebelahku, kami bersantai setelah selama ini di sibukkan oleh pekerjaan.
"Yang tadi itu siapa Mba?"
Aku menghela nafas, tingkat penasaran Ratih semakin meningkat saja. "Dia Chen, pria Taiwan yang ku tolong dulu."
"Kebetulan dia kesini atau memang di sengaja mau jumpai Mba Tari?"
"Gak ada yang seperti itu, dia ke sini urusan pekerjaan beberapa tahun ke depan."
"Ooh. Dia udah punya istri belum Mba?"
Aku terbelalak tak percaya mendengar pertanyaan Ratih. "Kamu mau selingkuh? Ingat perjuanganmu dan suamimu."
__ADS_1
"Ish, apaan sih Mba. Aku masih sayang sama suami, bukan untukku tapi Mba."
"Aneh-aneh aja kamu, dia itu cuma temanku. Aku dan mas Angga belum terdaftar bercerai secara hukum, tapi kamu malah mikir panjang."
"Kan sudah cerai secara agama Mba, tunggal nunggu masa iddah."
"Aku mau fokus jaga anak-anak, belum kepikiran untuk menikah lagi."
"Seandainya Chen melamar Mba? Apa Mba terima?"
Aku menghela nafas dengan pertanyaan yang sangat malas aku jawab. "Menghayal jangan ketinggian, nyungsep kan berabe. Gak ada yang seperti itu, bagai langit dan kerak bumi."
Ratih terkekeh mendengar pepatah ku. "Gak ada yang gak mungkin, pandangannya ke Mba itu seperti ketertarikan. Aku lihat sekilas tadi."
"Sudahlah, sebaiknya kamu pulang, sebab besok kita harus bekerja lagi."
****
Di pagi hari, sekitar jam lima pagi. Aku terbangun untuk membersihkan rumah setelah memasak dan mencuci lebih dulu, tetap menjalani peranku sebagai ibu dan aku yang mencintai kebersihan.
Aku terkejut saat seseorang berteriak memanggil namaku, dia berlari menghampiriku.
"Ada apa Ratih? Belum jam tujuh pagi, kamu datang terlalu bersemangat."
"Seseorang menelponku dan ingin memesan kue dalam jumlah besar."
__ADS_1
Sangat tidak percaya tapi itulah yang baru aku dengar. "Benarkah?"
"Iya Mba, dia juga sudah mengirimkan uang muka di rekening khusus toko Mba."
"Aku belum mengeceknya."
Aku sangat bersemangat melihat uang muka di kirim oleh customer, bahkan lebih dari cukup membeli bahan kue. Aku dan Ratih berdiskusi mengenai orderan dalam jumlah besar, terpaksa menambah karyawan yang di ambil dari para istri yang membutuhkan pekerjaan.
Aku mencari seorang istri bukan tanpa alasan, aku menerima mereka sekaligus membantu perekonomian.
Butuh waktu tiga hari menyiapkan semuanya, sudah mengemasi dan mengantarkan ke alamat tujuan. Tapi aku sangat heran, Ratih sendiri yang memintaku pergi karena salah satu syarat karena orang itu ingin bertemu denganku.
Aku sampai di rumah mewah yang tidak tahu siapa pemiliknya, aku menunjukkan alamat dan juga nama pemesan kue ku.
"Tuan Kenzi sudah menunggu anda, masuklah!"
Saat kaki melangkah masuk, ku lihat wajah seorang pria yang aku kenal.
"Chen?" kedua alisku tertaut saat melihat pria itu yang punya nama lain, apa dia punya kembaran? Aku rasa tidak mungkin.
"Itu nama margaku, nama asliku Kenzi." Dia berjalan menghampiriku, dan melihik pada kue yang dia order.
"Kamu memesan banyak kue?"
"Untuk di bagikan. Temani aku untuk membaginya pada anak-anak jalanan!"
__ADS_1
"Aku ...."