Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Kebahagiaan Tari, penyesalan Angga


__ADS_3

Ken tersenyum bahagia saat aku menerima lamarannya, namun ada hal yang mengganjal pikiranku adalah setelah pernikahan nanti. Apakah aku dan ibu mertua, adik ipar, atau kakak ipar akan bisa hidup rukun? Aku tidak ingin jika sampai kegagalan terjadi untuk kedua kalinya. 


"Aku sebatang kara." 


Sepertinya Ken tahu kegelisahanku mengenai itu, namun malah membuatku tak enak hati. "Eh?" 


"Aku mengetahui kalau kamu pasti merasa trauma menjalin hubungan baru, seperti yang aku katakan kalau aku anak yatim piatu bahkan sejak pertama kali bertemu."


"Maaf, kamu tahu mengenai hal ini." 


Ken tersenyum memperlihatkan lesung pipinya. "Aku tidak tersinggung, tidak ada yang akan menindas mu selain aku," ucapnya menahan tawa. 


"Eh?"


"Bercanda. Aku akan menjadikanmu ratu di singgasana ku, kamu menerima lamaranku dan itu cukup bagiku." 


Aku tersipu malu mendengar dia mengatakan itu, sudah lama aku menutup diriku pada seorang pria asing. Tapi takdir masih mempertemukanku dan Ken, aku cukup terharu melihat penampilan dan sikapnya yang lebih baik. Apakah ini pilihan yang tepat bagiku? Aku takut bila dia marah akan melampiaskannya pada anak-anak ku, dan bagaimana jika kami punya anak nanti? Apakah dia akan menyamaratakan kasih sayang atau tidak.


"Katakan saja apa yang ingin kamu katakan, aku akan menjawabnya dengan sejujur-jujurnya." 


"Hem. Setelah kita menikah nanti, apakah kamu bisa berlaku adil pada kedua anakku dan anak kita nanti?" 


"Pertanyaan yang bagus. Jika kamu masih belum bisa mempercayaiku, kita tidak perlu anak dan merawat anak-anakmu." 


Terbesit pikiran yang membuatku sedih, walau dia menjawabnya dengan senyuman yang meneduhkan, bukan berarti aku bersikap egois. 


"Aku mempercayaimu. Sekali dirusak, maka aku akan pergi selamanya darimu!" Sedikit ada nada ancaman di sana, tapi kau lakukan untuk melihat kejujurannya. 


"Apa perlu menggunakan materai? Jika aku selingkuh, menyakitimu, atau mengabaikan anak-anak, maka kamu boleh mengambil seluruh harta yang aku punya." 


Aku ternganga tak percaya, bahkan pria itu berani mempertaruhkan harta yang susah payah dicari demi seorang janda kelas menengah yang mempunyai dua orang anak. 


"Tidak. Kamu pikir aku ini apa?"

__ADS_1


Ken tertawa melihat ekspresiku, aku segera memulihkannya agar di tidak lagi tertawa. Semua pertanyaanku telah di jawabnya, salut dengan kesungguhan hati sampai rela melamarku untuk kedua kalinya. 


****


Hari pernikahan yang diadakan di hotel, aku mengundang seluruh karyawan dan warga desa yang ikut membantuku memajukan bisnis. Beruntung Ken tidak mempermasalahkan itu, baginya ini disebut ajang jodoh untuk koleganya yang berada di luar negeri yang masih menjomblo. 


Aku menginginkan pernikahan sederhana, mengingat aku yang janda merasa tak pantas. Tapi Ken selalu saja memberikan dukungan, karena katanya menikah sekali seumur hidup. 


Pernikahan berjalan lancar, Ken mengucapkan ijab qabul dengan sangat lancar dalam satu tarikan nafas. Aku meneteskan air mata, ternyata aku sudah sah menjadi istri dari Kenzi Liang Chen. 


Aku menyalami tangannya dengan lembut, setelah itu dua meletakkan tangannya lain ke atas kepalaku, lebih tepatnya di atas ubun-ubun. Dia merapalkan doa, barulah mengecup keningku dengan sangat lembut. Acara yang sakral dan khidmat, semua orang ikut hanyut dalam suasana itu. 


Setelah pernikahan selesai, aku dan Ken naik ke atas pelaminan yang sudah di dekorasi sangat indah. Aku membawa Raja dan juga Ratu duduk di sebelah kami, dia tak mempermasalahkannya dan malah menyukai keberadaan anak-anakku. 


"Lihatlah! Tari beruntung dapat terong import." Kekeh Ratih dan karyawan lainnya yang bergosip di meja makan khusus tamu. 


"Hihi … untung lepas dari Angga. Bisa gak ya, suami aku di tukar tambah? Mau coba yang impor, apalagi dari Amerika." 


"Biarkan ajalah Mba Ratih, toh suamiku dan mantan suami mba Tari gak jauh berbeda."


"Kalau begitu, kamu jangan mau kalah. Buktikan kalau kamu bisa lebih dari pelakor gatal itu." 


"Tenang aja Mba, aku udah dapat caranya melawan."


"Bagus Karmila, aku mendukungmu. Infokan setelah mendapat terong import yaa …." tawa Ratih pecah menjadikannya pusat perhatian semua orang. 


Aku mengusap pipi Ratu dengan lembut. "Sayang … mulai sekarang kamu panggil Paman Ken 'Ayah' ya." 


"Baik Bu." 


Di hari membahagiakan, Ken menggandeng tangan istrinya seperti tak ingin melepaskannya. Namun suasana itu tak berjalan lancar di kala seseorang menjatuhkan nampan membuat perhatian semua orang teralihkan. 


Prang

__ADS_1


Jatuhnya wadah stainless memusatkan perhatian ke sumber suara, aku dan Ken juga memperhatikan pria bertopi yang memakai baju sama dengan karyawan yang bekerja di bidang menyajikan makanan. 


"Maaf, aku tidak sengaja." 


Suara itu cukup familiar, tapi aku tak ambil pusing dan tak menghiraukannya. 


"Selamat … selamat, aku pikir kamu akan menjomblo di sisa hidupmu." 


"Lihatlah dirimu sendiri, juga jomblo sampai sekarang dan usia kita sama." 


Pukulan telak di berikan Ken membuat temannya itu tersenyum kecut, aku ikut terkekeh mendengar pembahasan mereka. 


Pria yang menjadi pusat perhatian beberapa menit segera kembali ke pekerjaannya, dia membuka topi hitam dan tertunduk lesu melihat sang mantan istri sudah sah menjadi orang lain. Pernikahan Tari dan Ken, awalnya dia tidak tahu jika itu adalah mantan istrinya yang jauh lebih bahagia dipersunting pria lajang dan tajir melintir. 


"Heh, aku membayar jasamu bukan untuk bengong. Andai yang punya pesta komplain mengenai tadi, aku pasti langsung memecatmu. Kembali bekerja atau gajimu aku potong." 


"Baik Bos." Angga segera beranjak dan melupakan rasa sedihnya, penyesalan mendalam telah kehilangan mutiara berkilau keemasan. Bahkan kedua anaknya sangat akrab pada suami baru Tari. 


Angga pulang bekerja dan wajahnya masih tetap sedih, tinggal di kontrakan kecil dan sedikit kumuh membuatnya harus menelan pil pahit kehidupan. 


"Aku pulang!" Angga membuka pintu dan tersenyum melihat seorang wanita tua yang duduk di kursi roda, menyalami tangan sang ibu untuk memberikan rasa hormat. 


Angga senang bertemu kembali dengan ibunya, tapi dia juga sedih karena sekarang sang ibu mengalami stroke yang membuat dirinya tak bisa bicara, hanya kedipan mata di jadikan alat komunikasi. 


"Bu, ternyata orang kaya tempat aku bekerja adalah Tari. Dia sudah menikah dan aku juga melihat Raja dan Ratu, aku iri melihat mereka lebih dekat pada suami Tari." 


Bu Weni meneteskan air mata, keadaan membuatnya mengerti dan juga menghilangkan keegoisannya.


Angga pergi meninggalkan ibunya dan mengecek keadaan Lisa yang baru ditemui dua tahun lalu, namun adiknya selalu mendapatkan pelecehan hingga menjadi ODGJ. 


Nasib yang seperti derita di alami oleh Angga, namun Tari malah mendapatkan kebalikannya. 


"Andai waktu bisa berputar dan aku tidak khilaf." Andai yang hanya akan menjadi andai-andai, nasi telah menjadi bubur yang tidak akan kembali seperti bentuk semula. Penyesalan mendalam, namun Angga harus kuat mental demi menjaga ibunya yang stroke dan adiknya yang di pasung. 

__ADS_1


__ADS_2