
Aku tidak yakin dengan keputusan ibu menikahkan anaknya tanpa mengetahui sikap dan sifat Rusli yang sebenarnya, berniat menikah karena latar belakang pria yang seorang anak pak camat yang terkenal kaya.
"Apa ini tidak terburu-buru Bu? Maksudku, kita harus melihat sifatnya terlebih dulu, bagaimana dia memperlakukan Lisa." Ucapku pelan agar mereka tidak tersinggung dengan ucapanku.
"Gak usah ikut campur deh Mba, walaupun aku baru mengenalnya tapi aku menyukainya, dia tipikal suami idaman."
"Menikah bukan untuk sehari dua hari saja, itu ikatan seumur hidup."
"Bilang aja kamu iri sama Lisa, secara dia sebentar lagi jadi menantu pak camat." Sambung ibu mertua.
Aku terdiam karena saranku tidak pernah di terima oleh mereka, lebih baik aku pergi dan menjaga kedua anakku.
"Kenapa sih, Ibu menyetujuinya menjadi menantu? Aku benci dia yang sok berkuasa juga sok perhatian yang sebenarnya dia iri atas pencapaian ku."
"Benar, jangan di ambil hati. Mulai sekarang kamu harus dandan yang cantik, kamu tak inginkan kalau Rusli di ambil wanita lain? Percantik dirimu mulai sekarang, agar tidak ada pelakor.
__ADS_1
"Iya, pasti Bu. Demi bisa hidup enak, menjadi kaya mendadak dan aku sudah tidak sabar."
Keduanya sibuk berkhayal menjadi orang kaya, kecantikan Lisa sungguh sangat ampuh bila berhadapan dengan Rusli. Pertemuan pertama sudah menarik minat, apalagi pertemuan berikutnya.
****
Aku menghubungi mas Angga, mengabarkan kalau adik nya akan segera menikah. Hari pernikahan yang sangat di nantikan oleh mereka, sedangkan aku sibuk di dapur membantu ibu-ibu yang memasak setelah berhasil menidurkan kedua anakku.
Beberapa orang menatapku dan berbisik-bisik, aku mendengar samar kalau mereka sedang membicarakan penampilanku yang memakai baju lusuh. Salah satu ibu-ibu menghampiri ku, memegang bahuku lembut.
Aku tersenyum geming, tidak bisa aku ungkap dengan kata-kata. Pekerjaan ini bukan atas kemauanku, tapi ini peeintah ibu yang sangat malu kalau aku berada di depan. Secara di sana banyak para pejabat yang berdatangan, dia mengatakan kalau aku ini memalukan.
"Eh, gak apa-apa Bu. Aku di sini saja, toh sudah terlanjur juga." Aku berusaha menenangkan diri, berharap wanita paruh baya di hadapanku mengerti.
Ibu itu terus memaksaku keluar dari dapur, bersimpati padaku apalagi dia melihatku momong dua anak sekaligus.
__ADS_1
"Ganti pakaianmu!"
"Aku gak bawa baju ganti Bu,sudah terlanjur, aku di sini saja!" kekeh ku.
Ada yang mencibirku dan ada yang bersimpati padaku, setiap orang punya cara pandang mereka sendiri.
Dari kejauhan, aku melihat senyum di wajah ibu dan juga adik iparku yang telah sah menjadi istri orang. Aku berdoa akan kebahagiaannya, karena aku mendengar sedikit mengenai siapa itu Rusli dari ibu-ibu yang bergosip di dapur.
"Semoga saja firasat yang mengganjal di hati tidak terjadi." Batinku yang ikut bahagia walau tidak di perbolehkan ibu ikut turut serta di sana.
Aku mendengar ponsel yang berdering dan segera aku angkat, ternyata itu mas Angga. Aku mendengar keluh kesahnya dengan seksama, semenjak Lisa yang sudah dekat dengan Rusli tidak pernah lagi menjalin silaturahmi lewat telepon.
"Bagaimana keadaan kalian dan calon anak kita?"
"Mereka baik, tapi aku tidak tahu kondisi calon anak kita yang belum memeriksanya."
__ADS_1