Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 110


__ADS_3

"Ikut aku!" ucap Bara yang hendak menarik tangan gadis berada di hadapannya. Tapi dengan cepat gadis itu menarik tangannya, takut kulitnya tersentuh oleh laki-laki asing. 


"Jangan mencoba menyentuhku!" pekik Ratu yang juga bersikap waspada, menatap pria menyebalkan tajam dan intens. 


Mereka yang saling menatap menyadari sesuatu, pernah bertemu di suatu tempat. 


"Wajahnya tidak asing," batin Bara yang mencoba mengingatnya. 


"Dia sangat menyebalkan, sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?" ucap Ratu di dalam hati. 


"Mengapa kamu ada di ruangan ini?" 


Ratu mendelik kesal, dia tidak ingin bertemu dengan pria yang sangat angkuh dan menuduhnya sebagai mata-mata perusahaan lain. "Bukan urusanmu," ucapnya lantang. 


Bara juga sama kesalnya, dia menarik paksa gadis itu dan menyeretnya keluar, tanpa menggubris teriakan dan ancaman. Dia melepaskan cengkramannya hendak menghempaskan gadis itu dengan kasar, tapi siapa sangka jatuh dalam pelukan bosnya. 


Raja marah melihat adiknya di perlakukan seperti itu, menatap tajam Bara yang sudah berani. "Beraninya kamu bersikap kasar begitu!" 


"Apa Tuan mengenalnya?" 


"Dia adikku. Mengapa kamu menyeretnya keluar seperti hewan?" ulang Raja yang menahan amarahnya, berusaha untuk mengontrol. 


Bara sangat terkejut mendengar penjelasan itu, gadis yang di usir dan dicap sebagai mata-mata adalah adik dari atasannya sendiri. "Adiknya? Matilah aku," gumamnya di dalam hati. 


Raja menjadi lepas kendali, pria di hadapannya bungkam membuatnya semakin marah. Ratu mengerti dan segera menahan kakaknya, takut jika lepas kendali maka pria sombong dan angkuh itu bisa masuk ke rumah sakit. 


"Kak, ini hanya salah paham." 


"Cepat minta maaf pada adikku!" tegas Raja yang berjalan maju, tidak peduli dengan ucapan adiknya. Ratu yang bingung mau melerai orang itu, tidak ada cara lain selain memeluk kakaknya, berniat untuk menjauhkan perkelahian. 


"Kenapa kamu diam saja? Pergilah!" kata Ratu mengusir Bara.


"Ratu, lepaskan aku!" 


Bara yang tidak ingin cari perkara mematuhi perkataan Ratu, suasana semakin tegang akibat salah paham. 


"Kenapa kamu malah memihaknya? Dia memperlakukanmu seperti hewan," geram Raja yang perlahan mengontrol emosinya yang hampir memuncak. 


"Ini murni salah paham, sama seperti wanita di depan itu. Mereka mengira aku adalah mata-mata perusahaan orang lain, dan pria itu lakukan hanya ingin melindungi perusahaan mu dari orang asing yang berniat jahat," ungkap Ratu. "Kesalahpahaman ini bisa diselesaikan, Kak." 


"Tapi pria itu tidak mencari tahu dulu kebenarannya," protes Raja yang masih tidak terima. 


"Bawa istighfar Kak, jangan mau di kuasai amarah." 


Lantas Raja beristighfar sebanyak-banyaknya, dia menyadari dirinya yang di selimuti amarah yang berasal dari setan. Bagaimana pun juga dia hanya manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Ratu yang berhasil menenangkannya, membawanya masuk ke dalam ruangan. 


Tak beberapa lama kemudian, Bara mengetuk pintu merasa bersalah karena sudah bersikap kasar pada adik dari atasannya. "Tuan, boleh aku masuk?" ucapnya yang tak berani menatap Raja, walau atasannya itu lebih muda darinya. 


"Masuklah." 


Bara masuk dan berdiri, tidak berani duduk saat dia tidak diminta duduk. Tapi, gadis yang dianggapnya buruk malah memintanya untuk duduk dan menyelesaikan kesalahpahaman. Dia tidak menyangka, gadis itu memiliki daya tarik tersendiri dan membuat orang lain patuh dengan ucapannya. 


Raja merasakan sesuatu dengan Bara, apalagi dia tahu apa yang ada di otak pria lainnya. Segera dia berdehem, memberikan kode untuk berhenti menatap adiknya, bahkan adiknya masih terlihat polos dan tidak mengerti. 


"Begini Tuan, setelah aku renungi dan merasa kesalahan ada padaku yang terlalu cepat mengambil keputusan. Aku meminta maaf yang sebesar-besarnya pada Tuan dan juga Nona …." 


"Ratu, itu namaku." 


"Juga Nona Ratu, tolong maafkan perlakuan kasarku tadi." 


Mata Ratu berkedut, panggilan nona yang di terimanya setelah berada di kota sangtlah tidak menyenangkan, seakan orang-orang itu diciptakan berbeda. Semua orang yang ada di muka bumi di ciptakan dengan tanah, bukan dari emas satu kilogram. 


"Panggil Ratu tanpa ada embel-embel di depannya, aku risih mendengarnya. Apalagi kamu terlihat lebih tua dariku dan kakak," ujar Ratu. 


Perkataan sederhana mampu meluluhkan pria yang bernama Bara, dia menyukai cara bicara Ratu. Sedangkan Raja yang seperti nyamuk di antara mereka kembali berdehem, tapi kali ini sedikit lebih keras.


"Aku dan adikku sudah memaafkanmu, sekarang pergilah!" usir Raja yang masih tersisa dongkol dari dua point. 


Bara masih terdiam sambil terus menatap Ratu, walaupun gadis itu berkulit sawo matang dan juga dekil, tapi senyumannya sangatlah manis. Kembali dia menatap bosnya sebagai perbandingan keduanya, bagai langit dan bumi. 


"Apa mereka benar-benar kakak adik? Wajah mereka memang sedikit memiliki kemiripan, tapi warna kulit mereka berbeda. Bos punya kulit putih bersih l, sedangkan adiknya kucel, kumel, dan terlihat oenuh lebih daki, untung senyumnya menjadi penolong," pikirnya di dalam hati. 

__ADS_1


Dengan sengaja Raja menjentikkan jari di hadapan Bara, untuk menyadarkan pria itu agar tidak menatap adiknya. Hingga asiatennya keluar dari ruangan, namun dia sangat kesal melihat bawahannya terus saja menatap adiknya. 


Ratu terkikik saat melihat Bara yang tidak fokus menabrak pintu, dan akhirnya tertawa lepas merasa itu sangat lucu. Sedangkan Raja menatap adiknya tajam, dia tidak ingin kesayangannya bersikao seperti itu pada pria asing. 


"Apa?" 


"Kamu sadar? Seharusnya kamu tidak menatapnya." 


"Aku juga tidak sengaja Kak. Selain angkuh dan sombong, dia terlihat konyol dan payah." 


"Jangan membicarakannya, hanya kita yang ada di ruangan ini."


Setengah jam berlalu, Ratu memutuskan untuk pergi ke toko roti untuk melepaskan kerinduan pada makanan favoritnya. Baru beberapa langkah, seseoang mencegat langkahnya. 


"Ada apa?" tanya Ratu polos. 


Bara terdiam saat berada di hadapan gadis itu, niatnya hanya ingin bertukar nomor ponsel tapi suaranya seakan tertahan hingga tidak mengeluarkannya. Ratu menggeleng dan pergi, tapi suara pria itu kembali menghentikan langkahnya. 


"Apa?" 


"Tidak, terima kasih sudah membantuku." 


"Ya, sudah tugasku." 


Bara merutuki kebodohannya, hanya bisa melihat kepergian gadis itu tanpa menukar nomor ponsel. 


Ratu menikmati semua roti dan kue yang di pesannya, bernostalgia dengan makanan itu. Seorang wanita yang sebaya dengan mendiang ibunya duduk di hadapannya, dan mata yang berkaca-kaca. 


"Masyaallah, kamu sudah besar." Ratih menatap Ratu penuh kerinduan, kerinduan pada Tari yang sudah membantu perekonomiannya dan keluarga. 


"Eh, ada Bibi Ratih." 


"Iya, Bibi dengar kamu sekolah di pesantren ya?" 


Ratu mengangguk. "Benar, aku ambil cuti tujuh hari dan kembali ke pesantren. Tahun ini adalah tahun terakhir aku belajar," sahutnya dengan semangat. 


Ratih di panggil oleh Adiba membuatnya tak bisa mengobrol lama, sedangkan Ratu kembali melanjutkan makanannya. 


"Rasa kuenya sama dengan buatan ibu, aku jadi merindukannya," monolog Ratu yang menghabiskan kue itu hingga tandas. 


*


Situasi disini sudah lebih baik, semua orang mengenalnya dan ada beberapa orang berbisik menceritakan keburukan Ratu yang mempunyai kulit sawo matang, dekil, dan belum bisa dandan karena memang tidak mood. 


Baru saja Ratu ingin mengetuk pintu ruangan milik kakaknya, seseorang datang melah menghentikan aksinya. "Ada apa?" tanyanya sambil menatap orang itu. 


"Tuan Raja tidak ada di ruangannya. Ada pertemuan dengan pemilik perusahaan secara pribadi di suatu tempat." Bara memberikan kabar itu kepada Ratu. 


"Apa itu akan lama?" 


"Hanya satu sampai dua jam saja, kamu butuh sesuatu?" Bara bersikap seperti robot, sangat formal membuat Ratu menatapnya aneh. 


"Lalu, apa yang aku lakukan selama itu?" Ratu tidak bisa memikirkannya, bahkan membayangkannya sangat sulit. 


"Bagaimana kalau aku mengajakmu berkeliling?" 


"Aku sudah pernah berkeliling." 


"Menyeluruh?" 


"Tidak. Tidak ada yang menarik di tempat ini," jawab Ratu dengan jujur, dia menghela nafas memikirkan akan pergi ke pesantren, raut eajah cemasnya terlihat jelas oleh Bara.


"Ada apa?"


Ratu menatap pria itu sekipas kemudian beralih pandang. "Aku ingin bertemu kakak untuk terakhir kali." 


"Terakhir kali? Memangnya kamu mau kemana?" Sontak Bara terkejut mendengar ucapan gadis itu secara spontan. 


"Aku ini masih belajar dan harus menyelesaikannya tahun ini, di pesantren Al Muhajirin."


"Benarkah?" Bara mencoba untuk mengingatnya, hingga sepenggal ingatan muncul setelah dia berusaha keras. "Beberapa tahun lalu aku pernah berkunjung kesana." 

__ADS_1


Ratu menjadi sangat tertarik dengan pembahasan mereka. "Kapan?" 


"Itu sudah sangat lama, aku bahkan tidak tahu mengapa aku ada di sana. Sekitar … sepuluh tahun lalu, dan pernah bertemu dengan seorang gadis ingusan yang sok keras," ungkapnya yang mengingat momen ketika dia bertemu dengan gadis seperti itu. 


Deg


Sontak perkataan dari Bara membuat telinga, hati, dan pikiran Ratu serasa di hantam. Mendengar semua ungkapan dari Bara, apalagi sampai mengatakannya bocah ingusan yang sok keras. 


"Tunggu dulu! Pantas saja aku pernah melihatmu, dan ternyata kamu pria galak itu."


Bara juga sama terkejutnya, tidak menyangka dia bertemu dengan gadis itu lagi tapi dalam bentuk yang berbeda penampilan. "Kamu orangnya? Tapi bocah itu tidak mirip denganmu, dia punya kulit putih dan kamu, maaf … sedikit gelap." 


Ratu sangat kesal. "Lalu apa salahnya? Apa kulit sawo matang suatu kejahatan? Bahkan orang luar negeri saja suka menggelapkan kulitnya. Apa kulit putih adalah standar kecantikan?" ucapnya meninggikan suara, menjadikannya pusat perhatian. 


"Jangan tersinggung, aku tidak bermaksud begitu. Hanya saja aku tidak yakin bila bocah ingusan itu kamu sendiri." Seingat Bara, bocah yang menabraknya itu sangat cantik, apalagi rambutnya yang bergelombang dan berkulit putih. 


"Dasar konyol. Kalau bukan aku, siapa lagi? Waktu itu tidak ada orang, terserah mau percaya atau tidak. Aku juga tidak peduli!" 


Bara akhirnya percaya, dia tak menyangka kalau mereka pernah bertemu 10 tahun yang lalu. Ratu memutuskan untuk pergi dan menunggu kakaknya di rumah, sekaligus bersiap-siap mau ke pesantren. 


*


Ratu mengemasi semua pakaian barunya kedalam tas, berpamitan pada semua orang. Dia menangis akan berpisah, waktu satu minggu itu sangatlah kurang. Dia berpamitan satu persatu, celingukkan mencari keberadaan kakaknya yang tidak ada di sini. 


"Semua orang ada disini, kecuali kak Raja. Bahkan untuk mengantarku sampai ke depan pintu saja dia tidak bisa," ringis Ratu yang kehilangan kakaknya semenjak bekerja di kantor. 


"Maaf, Paman yang memberikan beban pikul perusahaan pada kakakmu." Huan merasa bersalah, tapi dia harus melakukannya. 


"Iya Paman, aku mengerti!" 


"Lap ingusmu!" ucap Huan membuat drama Ratu terhenti. 


"Apa?" 


"Aku sudah mengatakannya!" 


Ratu memgangguk dan meraih tisu yang di berikan Zayn padanya. "Terima kasih," ucapnya yang berjongkok menyamakan tinggi mereka. 


"Sama-sama Kak." 


"Aku berpesan padamu untuk belajar lebih giat lagi. Perlu di garis bawahi, belajar dengan rajin dan juga mandiri, kakakmu tidak akan bisa membantu dan Paman harap kamu lulus walau nilaimu pas-pasan." 


Sedih Ratu berubah menjadi wajah masam. "Apa Paman meragukan kemampuanku?" 


Huan tidak ingin menghancurkan kepercayaan diri Ratu, tapi dia harus mengatakan yang sebenarnya. "Aku berkata benar, jangan sampai kamu tidak lulus di pesantren dan menjadi murid abadi. Paman akan membuatkan kursi dari semen jika kamu tidak lulus tahun ini, lihat saja nanti!" 


"Heh, itu masalah yang sepele jangan dibesar-besarkan. Walaupun aku tidak pintar dan otakku selalu lambat dalam belajar, tetap saja aku punya kemauan untuk lulus," ucap Ratu dengan penuh percaya diri. 


"Yah, buktikan ucapanmu nanti." 


"Siapa takut." 


Ratu masuk ke dalam mobil dan melambaikan tangan, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Sedih? Tentu saja, dia tidak bisa berpamitan pada kakaknya yag sibuk di kantor. Namun siapa sangka kalau dia sebenarnya akan mendapatkan kejutan. 


Kesedihan berubah, saat Raja bersembunyi di belakang kursi penumpang dan mengejutkan adiknya. 


"Kakak?" pekik Ratu tak percaya. 


"Kamu pikir apa? Aku harus mengantarkan adikku ke pesantren, sudah lama aku tidak bertemu kakek dan nenek." Raja berganti posisi dan duduk di sebelah adiknya. 


Ratu memukul pangkal lengan Raja. "Aku pikir Kakak sibuk di kantor, selama aku disini selalu saja begitu."


Raja menghentikan adiknya. "Mana mungkin aku mementingkan pekerjaan dan mengabaikanmu, kamu adikku." Dia mengeluarkan sebuah hadiah dan menyerahkannya pada sang adik. "Ini hadiah dariku dan ini dari Bara, aku dengar kamu sudah akrab dengannya." 


Ratu mengambil hadiah itu dan menyimpannya. "Akrab? Tidak, itu hanya perasaan Kakak. Dia hanya menemaniku saat Kakak sibuk bekerja, hanya sebatas itu," jelasnya dengan polos. 


"Hem, aku juga tidak mengerti. Dia juga memberikan hadiah padamu, dan itu artinya kamu akrab Bara," lanjutnya. 


"Sungguh Kak, tidak ada apapun di antara aku dan dia. Lupakan dia dan ceritakan bagaimana Kakak bisa sampai disini, apa paman dan aunty tahu?" 


"Tentu saja tahu, aku akan mengantarmu dan menginap semalam." 

__ADS_1


Kedua kakak beradik itu saling berbincang satu sama lain, sampai mereka tidak menyadari panjangnya perjalanan. Sementara di sisi lain, Bara memikirkan Ratu yang sudah pergi, dia menunggu gadis itu beberapa bulan saja. 


"Aku pasti merindukannya?" lirih Bara seraya kembali berkutat di layar laptop. 


__ADS_2