Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 92


__ADS_3

Adiba merawat Ratu dengan sangat baik, berusaha menjadi ibu pengganti dikala gadis kecil itu membutuhkan kasih sayang. Dia menyuapi anak itu, dan menyuapinya dengan penuh kasih sayang, sambil menceritakan dongeng. Tak di sangka, Huan memperhatikan segalanya dan merasa terharu. Kematian kakak dan kakak iparnya membuatnya lupa akan tanggung jawabnya selama ini. 


"Bukankah aku sudah berjanji untuk membahagiakannya? Lalu apa ini? Mengapa aku sangat egois," ucap Huan di dalam hati, terus menatap ke depan untuk melihat dua objek. 


Tak lama, Adiba selesai menyuapi Ratu dan tatapan mereka saling bertemu. Dia meletakkan mangkuk kosong di atas nakas dan meminta gadis kecil itu untuk tenang dan tidak nakal selama dia pergi. 


"Ratu di sini dulu ya, Aunty mau menemui paman dulu!" Adiba tersenyum di kala gadis kecil itu hanya menganggukkan kepala. 


Adiba terkejut saat suaminya tiba-tiba memeluk di tempat yang tidak semestinya. "Bagaimana kalau ada yang lihat," ucapnya yang berharap cemas. 


"Sebentar saja," lirih Huan yang hanya ingin merasakan pelukan hangat dari istrinya, sangat nyaman. Lalu, kemudian dia melepaskan pelukan itu. "Maaf," lanjutnya. 


"Maaf untuk apa?" 


"Ketidakadilan padamu, aku sudah berjanji pada paman dan bibimu untuk menjagamu, tapi aku malah melanggarnya dan sibuk memikirkan kakak dan kakak ipar. Aku sampai melupakan keberadaanmu." 


Adiba tersenyum di balik cadarnya. "Aku memaafkanmu," jawabnya, dia menghentikan Huan. "Jangan memelukku disini, nanti di dalam kamar saja," bisiknya. 


"Kamu menggodaku?" 


"Siapa yang menggodamu? Kamar adalah privasi kita, jadi tidak masalah melakukan apapun." 


"Sekaligus keinginanku yang mau punya anak?"


"Ya, yang itu juga." 


Kedua pipi Adiba sudah memerah sedari tadi menahan malu, beruntung cadar itu menghalanginya agar tidak terlihat secara langsung. 


*


Seorang pria terus menghubungi orang lain lewat ponselnya, namun selalu tidak pernah terhubung dan ini sudah masuk ke bulan ketiga. 


"Kenapa Nak?" tanya Weni yang menatap anak sulungnya terlihat cemas, apalagi ponsel yang tidak bersalah selalu saja di pukul-pukul. 


"Ini Bu, sudah tiga bulan ini aku mencoba untuk menghubungi Tari, tapi nomornya gak aktif. Apa Tari ganti kartu ya Bu," jawab Angga yang menatap ibunya dengan raut wajah rumit, tidak tahu apa yang akan di lakukannya pada ponsel tidak bersalah itu. 


"Kok bisa? Kita samperin ke toko rotinya saja, dan bertanya sama Ratih." Ide Weni, wanita paruh baya memberikan usul karena dia sangat merindukan kedua cucunya. 

__ADS_1


"Iya Bu, boleh." 


Angga dan ibunya bersiap-siap untuk pergi ke toko roti, memesan taksi mengingat kondisi ibunya yang bergantung pada kursi roda. Mereka pergi dengan penuh harap bertemu dengan Tari yang selama ini tidak bisa dihubungi seperti putus kontak, dia tidak tahu kalau wanita yang mereka sakiti dulu sudah tiada di dunia.


Sesampainya di toko roti, Angga dan ibunya segera turun dan melihat bangunan besar yang ada di depannya. Usaha yang dirintis oleh Tari berkembang begitu pesat dan juga maju, hingga rasa penyesalan itu menghantui mereka. Andai saja dulu tidak pernah mengolok-olok ataupun menghina mantan istri atau mantan menantu yang sangat malang itu, sudah pasti mereka akan hidup bahagia dan tentunya berkecukupan dalam segi apapun. 


"Andai dulu kamu tidak selingkuh dengan Siska, tindakan bodoh itu malah menghancurkan kita," tutur ibu Weni yang merasa sangat menyesal telah melepaskan menantu yang sekarang sudah sangat kaya raya, ditambah lagi suami kedua dari Tari juga orang kaya yang pasti hidup mereka berkecukupan tidak perlu memusingkan masalah beras yang habis, kehabisan minyak goreng, kehabisan gas, maupun kehabisan token listrik, apalagi kehabisan secara bersamaan saat tidak memegang uang. 


Angga menundukkan kepalanya karena rasa malu dan juga diselimuti rasa penyesalan, namun semua itu tidak ada artinya sekarang. 


"Kamu harus bisa meminta Tari untuk rujuk sama kamu, jadikan Raja dan Ratu sebagai alasan agar kalian bisa kembali bersama." Ide dari bu Weni mempengaruhi pikiran Angga. 


"Aku sudah pernah membawa Tari untuk rujuk, tapi dia tidak mau dan malah menolakku," jawab Angga yang menunduk malu, mau menyesal tidak ada gunanya. Kehidupan yang keras membuatnya sangat sulit mendapatkan uang, andai saja dia tidak menyia-nyiakan sebongkah berlian hanya seonggok debu.


"Itu artinya usahamu belum maksimal, inilah saatnya kamu mulai menunjukkan dirimu dan melihat semua kebaikanmu demi kehidupan kita yang layak. Ibu sudah sangat bosan menjadi orang miskin, setidaknya ada Tari semua kebutuhan kita tercukupi." Weni sudah membayangkan kehidupan mewah seperti apa yang akan dijalankan jika Angga dapat merebut Tari dari suaminya. "Buat mantan istri mu kembali mencintai mu, kemudian berikan mereka jarak yang menjadi konflik rumah tangga sebagai badai kehancuran, hingga mereka memutuskan untuk bercerai." Ide licik yang tetap saja mengutamakan hidup yang mewah juga nyaman. "Kenapa kamu diam saja? Kamu setuju dengan pendapat ibu? Ini kesempatanmu untuk mengambil hati dan membuat jarak di hubungan mereka, andalkan saja anak-anak mu setelah kamu merebut hatinya," lanjutnya. 


Angga tidak menggubris perkataan ibunya, dan mendorong kursi roda untuk masuk ke dalam toko roti. Dia mengedarkan pandangan menyeluruh, begitu banyak pelanggan memenuhi tempat itu. Salah seorang karyawan mendekati mereka, tentu saja melayani seorang pembeli yang di anggap bagaikan raja.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya karyawan itu dengan wajah tersenyum. 


"Kami kesini bukan untuk membeli kue tapi untuk bertemu dengan pemilik toko roti ini," tutur bicara Angga yang begitu terkesan angkuh, dan benar kata Tari jika mantan suaminya itu tidak akan pernah berubah. Berubah hanya saat menghabiskan waktu bersama anak-anak waktu itu, melihat kemewahan kembali membuatnya ke setelan pabrik. 


"Tidak. Tapi pemilik toko roti ini mengenal kami, panggil dia kemari!" ucap wanita paruh baya yang duduk di atas kursi roda dengan angkuh. 


Ratih yang tengah melayani pelanggan mendengar keributan, berjalan menghampiri ke asal suara. Dia terkejut melihat kedatangan mantan mertua dan mantan suami dari bos lamanya. "Mas Angga … Bu Weni."


"Nah, kamu dengar sendirikan, Ratih mengenal kami." 


"Kamu urus customer yang lain!" titah Ratih yang menjadi kepala manajer di toko roti yang sudah ditunjuk oleh Huan.


Ratih menarik kedua orang itu menjauh dari para pelanggan yang merasa terganggu. 


"Gak sopan kamu!" ketus Weni menatap tajam Ratih. "Aku akan katakan ini pada Tari dan memecatmu," sambungnya. 


Ratih tak menggubris perkataan wanita paruh baya itu. "Apa yang membuatmu datang kesini?" tanyanya sambil menatap Angga. 


"Aku ingin bertemu dengan Tari, tolong panggilkan dia." 

__ADS_1


"Jadi mereka belum tahu kalau Tari sudah meninggal dunia?" batin Ratih. "Boleh aku tahu niat kalian?" 


"Heh, kamu itu hanya karyawan biasa yang dipercayakan oleh mantan menantuku. Tinggal panggilkan saja Tari, maka urusan kita selesai." 


"Apa kalian tidak tahu mengenai kabar Tari?" 


Angga mengerutkan kening penasaran dengan kelanjutannya. "Tidak. Sudah tiga bulan aku menghubunginya, tapi ponselnya tidak aktif. Mungkin dia mengganti nomor teleponnya," terka nya sok pintar. 


"Jangan banyak bertanya Ratih, tinggal kamu panggilkan mantan menantuku itu." 


"Sepertinya kamu tidak berubah, bahkan dalam kondisimu yang seperti itu masih saja bersikap sombong," tegas Ratih yang sudah muak mendengar perkataan Weni, melihatnya yang duduk diatas kursi roda namun perangainya masih belum berubah dan tidak belajar dari karma yang sudah mereka nikmati sekarang.


"Tutup mulutmu, Ratih. Angga akan rujuk dengan Tari dan kamu siap-siap di pecat."


"Sungguh pikiran yang dangkal." 


"Sudahlah, aku tidak ingin membuat keributan. Tolong pertemukan aku dengan Tari!" pinta Angga menengahi pertikaian itu. 


"Kalian sungguh ingin mempertemukannya?" ucap Ratih kebingungan. 


"Ya, tentu saja." 


"Tari sudah meninggal dunia tiga bulan yang lalu." Ratih menghela nafas, mengingat bagaimana perjuangan Tari yang selama ini mengembangkan bisnis ini sampai berkembang begitu pesat, tentu saja dengan peran Ken. 


"Apa?" ucap Angga dan ibunya serempak, mereka seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh Ratih. 


"Ya, mereka sudah meninggal dunia." 


"Wow, ini kesempatanku," gumam Weni di dalam hatinya, diam-diam dia tersenyum licik dan pastinya mengambil keuntungan. 


"Bagaimana bisa?" tanya Angga yang mendesak Ratih. 


"Tari dan suaminya sudah meninggal dunia saat mereka berlayar menggunakan kapal pesiar dan cuaca saat itu tiba-tiba buruk hingga menenggelamkan kapal yang ternyata mengalami kerusakan di bagian penting, sampai sekarang mereka tidak ditemukan dan dinyatakan telah meninggal dunia."


Diam-diam Angga juga menyunggingkan senyuman liciknya, kekayaan dari Tari bisa dia ambil lewat kedua anaknya. 


"Bagus. Aku bisa kaya mendadak, menguasai harta Tari dengan mengambil hak asuh Raja dan juga Ratu," batinnya tersenyum licik.

__ADS_1


"Mereka sepertinya merencanakan sesuatu, aku harus memberi tahu Adiba," ucap Ratih di dalam hatinya, gelagat mencurigakan dari dua orang yang langsung dia tandai sesuai perintah Huan.


__ADS_2