Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 81


__ADS_3

Aku sangat bosan bila berada di rumah, kehamilan ini membuatku ingin sekali dekat dengan suamiku. Berencana aku mengunjunginya, tentunya terlebih dahulu memasak menu makan siang dan menjadi sebuah kejutan. 


Aku mulai mencuci bersih seluruh sayuran dan juga ayam, memotong bawang dan memasak adalah hobi. Aku melakukannya dengan ikhlas, masakan yang dimasak dengan sepenuh hati dan di habiskan lahap membuatku sangat senang juga bahagia. 


Anak-anak yang berada di sekolah membuatku kesepian untuk beberapa jam, itu sebabnya lebih baik ke kantor Ken karena dia sendirilah yang mengizinkan aku kapanpun mau kesana, ya … sekaligus ingin melihat sejauh mana Mona menggoda suamiku. Kejadian waktu itu mengajarkanku satu hal, si pelakor sedang mencari celah dan juga kesalahanku agar bisa masuk ke dalam hubungan kami, walaupun aku mempercayai suamiku tapi tidak dengannya. 


Setelah semuanya selesai, aku bersiap-siap agar terlihat rapi, bersih, dan wangi pastinya. Berjalan keluar rumah masuk ke dalam mobil yang dibawa oleh pak supir, karena Ken melarangku mengemudi sendirian dalam kondisi hamil. 


"Mau diantar kemana Nyonya?" 


"Kantor suamiku." 


Sang supir tidak bertanya banyak, karena tugasnya hanya supir bukan ingin mengetahui urusan orang lain. Di sepanjang perjalanan, aku masih memegang kotak makan siang khusus untuk Ken, tersenyum membayangkan dia yang sedang lahap memakan masakan buatanku. 


"Aki sudah tidak sabar. Pak, tambah kecepatan laju mobilnya!" titahku. 


"Untuk kali ini tidak bisa Nyonya." 


Alisku langsung bertaut. "Kenapa?" 


"Tuan melarangku, ini kecepatan yang sudah pas." 


Aku menghela nafas, tapi aku mengerti mengapa dia begitu posesif dengan ku dan juga calon bayi kami. "Baiklah, lakukan yang terbaik."


Sesampainya di kantor, aku masuk dan tersenyum dengan sambutan pada karyawan yang mengenalku sebagai istri dari Kenzi Liang Chen, pemilik serta bos mereka bekerja. 


Aku masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu, bukan tidak sopan, melainkan ingin memberikan kejutan pada suamiku. Asisten dari Ken mengatakan kalau suamiku ada di dalam ruangan baru saja beristirahat dari rapat. 


Saat membuka pintu, aku mengira hanya ada satu objek saja, melainkan dua. Ya, kalian pasti bisa menebak siapa objek kedua. Aku berjalan menghampiri suamiku, dan menatap Mona yang perlahan mengambil jarak. 


"Bukankah ini sudah jam istirahat? Mengapa kamu malah disini?" tanyaku sambil mengambil peranannya yang tadi membenarkan dasi Ken. 


"Hanya membetulkan dasi tuan Kenzi," jawabnya, terlihat sekali sedang kesal padaku yang merebut momennya. 


"Aku ada disini, dan akan kesini setiap harinya. Simpan saja perhatianmu pada Ken karena istrinya ada disini, lebih baik selesaikan saja tugasmu." 


"Ba-baik, saya permisi dulu." 


Aku menatap kepergian Mona, pakaian ketat membuat bentuk tubuhnya tercetak dengan sangat jelas. "Dia cantik dan juga bodinya sangat bagus, tapi sayang dia mengincar suamiku." 

__ADS_1


"Siapa yang diincar? Aku?" 


"Siapa lagi kalau bukan kamu, Suamiku. Kalau tidak aku disini, mungkin dia terus berusaha mencari celah." Aku menarik dasi Ken, hingga wajahnya berada di depanku. "Dia pasti berusaha merayumu lagi, tapi aku tidak akan diam lagi." 


Ken mencubit kedua pipi ku dengan gemas. "Aku tidak akan memberinya celah, jadi kamu tenang saja." 


"Benarkah? Tapi aku lihat kamu menikmatinya," ujarku yang sedikit cemberut. Ken langsung memeluk membuatku kembali tersenyum, tanpa mereka sadari jika seseorang mengintip dibalik celah pintu yang tidak tertutup sempurna. 


"Hei, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya asisten yang melihat kehadiran Mona. 


"A-aku ingin masuk ke dalam, tapi melihat tuan dan nyonya Ken."


"Hem, pergilah dan selesaikan tugasmu!" 


"Baik Tuan." 


Aku membuka kotak makan siang dan menyajikannya pada Ken, dia terlihat sangat senang aku memasak untuknya. 


"Wah, semuanya tampak sangat lezat." 


"Kalau begitu, makanlah! Apa perlu aku menyuapimu?" godaku yang memiliki sikap berbanding terbalik dengan pernikahan pertamaku, karena apa? Karena dulu aku tidak bisa menjadi diriku sendiri, bahkan untuk bermanja dan menggoda membuatku berpikir berulang kali jika berhadapan dengan mantan suamiku. Aku bukanlah wanita munafik, memang inilah sifat asliku yang tertutup selama pernikahan dengan mas Angga. Ken mengembalikan watak asli yang ada di dalam diriku, sifat yang tertanam dulu. 


Aku tersenyum dan menyuapi bayi besarku dengan penuh cinta, Ken tidak mempermasalahkannya dan malah menyukai tindakanku. 


"Honey," panggil Ken membuatku mendongakkan kepala menatap wajahnya. 


"Ada apa?" 


"Aku melihat ada tradisi untuk kehamilan empat bulan dan tujuh bulan, bagaimana kalau kita juga merayakannya?" 


"Aku tidak masalah, tapi alangkah baiknya kalau kita memberikan makan fakir miskin dan anak yatim." 


"Hem, itu ide yang luar biasa." Ken tersenyum menyetujui pendapatku, mengelus perutku dengan lembut. "Biar berkah," lanjutnya. 


"Terima kasih sudah memahami maksudku." 


"Kamu istriku, aku menginginkan yang terbaik untukmu." 


Aku menghamburkan pelukan di dada bidang suamiku, mencium aroma maskulin di tubuhnya menenangkan pikiranku, aku nyaman berada dekat dengannya. 

__ADS_1


****


"Adiba," panggil Huan saat berpapasan. Dia tak bisa menahan dirinya untuk tak memanggil, rasa simpati yang tinggi di tambah dengan rasa cinta kian membesar yang dia sendiri tidak tahu datang darimana. Jika pria lain yang berada di posisinya,, pasti perlahan memundurkan niat setelah mengetahui masa lalu dari sang wanita. 


"Hem, ada apa?" 


Huan menatap Adiba dengan seksama. "Aku hanya ingin memastikan, apa kamu bahagia?"


"Cukup. Aku sudah pernah mengatakan padamu untuk tidak ikut campur dengan urusan pribadiku, mengapa kamu melakukan itu?" Adiba sangat marah dengan Huan yang selalu mencampuri privasinya, berpikir mengapa pria itu ikut campur. "Apa motif mu hingga tertarik dengan privasiku?" lanjutnya. 


"Aku ingin berta'aruf denganmu, mengenalmu lalu menikahimu." 


Adiba terkejut mendengar perkataan Huan. "Sebaiknya kamu urungkan niatmu." 


"Kenapa?" 


"Kamu akan kecewa denganku." 


"Aku tidak akan menyesali apapun dengan menikahimu, aku tahu kamu tidak bahagia menjadi yang kedua." 


"Cukup Huan! Kamu tidak tahu apapun mengenai aku dan juga masa laluku." 


"Setiap orang punya masa lalu, tapi aku serius ingin melamarmu." 


Adiba tak habis pikir ada pria yang keukeuh ingin menikahinya, dia memutuskan untuk pergi karena tak ingin menjadi sebuah fitnah yang hanya akan memperkeruh suasana. 


"Aku tahu segalanya, Adiba."


Perkataan Huan berhasil menghentikan langkah Adiba, langsung menoleh. "Apa maksudmu?" 


"Aku tahu masa lalu, dan apa yang terjadi." 


"Tidak seharusnya kamu tahu." 


"Pernikahan mu tinggal menghitung hari, jangan sakiti hatimu dengan balas budi."


Adiba terdiam dan kembali melanjutkan langkahnya, dia tidak tahu apapun dan terasa dirinya di penuhi dilema. 


Huan menatap kepergian Adiba dengan rasa simpati, cinta pandangan pertama tak berjalan dengan mulus. "Aku tahu … aku tahu kamu tidak bahagia menikah dengan Yusuf. Di hari pernikahanku, bukan Yusuf yang mengucapkan ijab qobul, tapi aku," ucapnya di dalam hati. 

__ADS_1


__ADS_2