
Awalnya Adiba takjub dengan perkataan suaminya, kemudian tampak seperti biasanya karena susah mengetahui kalau suaminya itu suka bercanda. Dia tidak percaya, lebih tepatnya tidak tahu seberapa kekayaan suaminya, lagipula dia tak menghiraukan masalah harta, dapat suami yang mau menerima masa lalunya saja sudah sangat bersyukur.
"Bagaimana dengan anak-anak?" tanya Huan yang merangkul istrinya.
"Ada di kamarnya, sedang bermain." Oh ya, aku baru tahu ada pelayan di rumah ini?"
"Begitulah."
"Berapa banyak?"
"Aku juga tidak tahu pasti, mungkin sepuluh orang."
"Apa? Lalu, siapa yang menggaji mereka selama di sini? Bahkan aku tidak pernah melihatmu memberikan gaji mereka."
Huan tertawa kecil, sangat gemas dengan istrinya. "Zaman sudah maju, Sayang. Gaji mereka selalu di transfer lewat rekening, dan itu menjadi tugas tangan kanan kak Ken yang sekarang menjadi asistenku," jelasnya, sedangkan Adiba mengangguk paham.
"Kamu tidak perlu memasak ataupun beberes rumah lagi, serahkan semuanya pada pembantu atau pelayan. Maaf, selama pernikahan kita aku belum memberikan kebahagiaan yang telah aku janjikan sebelumnya."
"Aku mengerti, kamu menyayangi kakakmu."
"Benar, tapi dia lebih dulu dipanggil yang Kuasa. Sekarang aku akan fokus dengan hubungan kita, anak-anak dan yang pasti aku juga ingin kamu melahirkan anak untukku."
Adiba tersenyum sambil mencubit pelan pinggang suaminya, dia malu jika sang suami membahas hal itu.
"Untuk itulah aku akan giat berkeringat setiap malam, rasanya pasti sangat menyenangkan punya anak sendiri. Aku melihat Raja dan Ratu, dan aku melihat bagaimana kehidupan rumah tangga kakak dan kakak ipar." Huan begitu percaya diri, dia hanya tahu bagian manisnya saja.
"Aku juga menginginkannya."
"Kalau begitu, ayo kita kekamar dan mencicil nya."
"Ini masih siang, tunggu malam tiba ya."
Huan menghela nafas lesu, kecewa yang dia rasakan tak bisa ditutupi. "Baiklah, aku akan menunggu malam tiba."
"Itu jauh lebih baik."
"Aku ingin punya lima orang anak, dimana tiga perempuan dan sisanya laki-laki," tutur Huan yang berhasil membuat Adiba mengerjapkan mata beberapa kali. "Kenapa kamu menatapku seperti itu?"
"Kamu yakin?"
"Tentu saja, aku ingin lima. Ya, kurasa lima sudah cukup."
"Cukup? Lalu, bagaimana denganku? Apa harus hamil dan melahirkan setiap tahunnya?"
__ADS_1
"Tidak Sayang, maksudku bukan begitu. Aku memberimu hak untuk ikut kb. Aku tidak ingin kewarasanmu terganggu oleh keinginanku, selagi kita mampu punya anaka, kenapa tidak?"
Huan mengambil langkah seribu untuk menghindari amukan istrinya, kejahilan yang membuat warna dalam pernikahan mereka.
Adiba menarik nafas dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, melakukannya sebanyak tiga kali untuk mengontrol emosinya. "Suamiku itu, lihat saja nanti."
*
"Ibu, sekarang bagaimana?" tanya Angga yang memutuskan untuk berteduh, dia tak sanggup bila mendorong kursi roda ibunya, rasa sakit di perut menjadi pemicunya.
"Jangan tanya, Ibu juga pusing mau mengambil sikap bagaimana. Pria itu sangat kejam," ketus Weni yang sangat marah dengan penghinaan di dapatkannya.
"Kita harus menuntutnya, dan katakan kalau kamu ingin merebut hak asuh sebagai ayah biologis Raja dan Ratu."
"Ibu tidak dengar apa yang dikatakan pemuda kejam itu? Sepertinya dia kebal dengan hukuman. Apalagi kita ini orang miskin, rasanya tidak akan menang di pengadilan."
Wanita paruh baya itu menghela nafas. "Kita tidak akan berhasil, kita harus memikirkan caranya agar bisa menguasai kekayaan Tari."
"Percuma Bu, di mata pria tadi kita hanyalah upil."
"Apa tidak ada cara lain?"
"Sepertinya tidak ada, hanya menerima takdir saat ini yang menjadi pilihannya," ucap Angga, lalu meneguk air mineral melepas rasa dahaga.
"Tapi Ibu bosan hidup miskin, Angga."
"Kok kamu nyalahin Ibu terus sih?"
"Ya memang faktanya begitu, aku capek tiap hari banting tulang membiayai perawatan ibu yang gak ada kemajuan sama sekali."
"Oh, jadi kamu tidak ikhlas. Begitu?" nada Weni sedikit meninggi.
"Aku tidak bilang begitu, aku bilang capek. Selama ini Ibu selalu menuntutku ini dan itu, sampai aku menceraikan Tari dan menyia-nyiakannya, dan karena kesalahan Ibu pula aku juga kehilangan anak ketigaku. Hidupku sekarang terlunta-lunta tidak jelas, dan penyebabnya aku menyesal menuruti semua perkataan Ibu." Angga memutuskan untuk pergi meninggalkan ibunya, dia tidak peduli seberapa keras wanita paruh baya itu memanggilnya. Menyalahkan sang ibu, tapi dia lupa mengkaji kesalahannya sendiri.
"Dasar anak durhaka, lihat saja nanti. Aku tidak akan memberikan surgaku padanya, dan menutup pintu juga tidak memaafkannya," monolog Weni yang mengepalkan kedua tangannya, dengan terpaksa harus berjuang sendiri menjalankan kursi roda untuk sampai ke rumah.
Di malam hari, Huan segera mematikan sambungan telepon saat mendengar pintu yang sedikit berderit, melirik siapa yang masuk ke dalam. Dia langsung menyimpan ponselnya, dan berjalan menghampiri sang istri. Adiba tersenyum seraya melepas cadarnya, memperlihatkan kecantikannya hanya pada suaminya.
"Bersiap-siaplah, ini malam kita."
"Baiklah," jawab Adiba tersipu malu.
****
__ADS_1
Hanya sekali bagi Huan untuk menyingkirkan lawannya, sampai sekarang mantan suami dan mantan mertua dari kakak iparnya tak pernah lagi terlihat, bahkan tidak datang saat dia menunggu ke pengadilan.
Huan sangat bahagia, saat ini hak asuh sepenuhnya ada di tangannya. Menjalankan amanat dari mendiang kakaknya dengan sepenuh hati, jiwa dan raga.
Suasana saat ini sudah membaik dari sebelumnya, tidak ada lagi yang berbicara mengenai Tari dan Ken, tapi mereka sudah menetap di hati semua orang. Waktu terus bergulir tanpa tahu berhenti, suara detakan jam di dinding yang biasa terdengar bila hening.
Tanpa disadari semua orang, satu tahun berlalu dengan sangat cepat. Bertambahnya umur di setiap insan, dan juga angka kelahiran semakin berkembang pesat.
Saat ini Huan sangat mencemaskan istrinya, hari kelahiran dari buah hatinya dan cinta bersama Adiba. Rasa gugup terlihat jelas di wajahnya, pelipis dan tangan berkeringat yang ketiga kalinya. Fase menjadi seorang ayah sangatlah sulit baginya, apalagi kehebatan dan kepintarannya seketika menjadi blank. Dia terlihat seperti pria bodoh, yang hanya bisa mondar mandir tanpa melakukan apapun.
"Apa yang anda lakukan disini? Masuklah ke dalam dan temani istrimu melahirkan, dia membutuhkan suami di sampingnya," tegur suster yang masuk ke dalam ruangan bersalin.
Raja menghela nafas, melihat pamannya yang belum bergerak. Dia langsung bertindak, mendorong tubuh Huan masuk ke dalam ruangan.
"Dok, suaminya sudah ada di sini!"
Sang dokter wanita itu menatap Huan yang diam membeku seperti manekin. "Apa yang anda lakukan? Cepatlah kesini dan dampingi istrimu!"
Huan mengangguk dan berjalan, namun kedua tungkai kakinya terasa lemah. Adiba tak tahu apapun selain rasa sakit kontraksi yang semakin hebat, segera menarik tangan suaminya untuk mengelus pinggangnya agar sedikit berkurang.
"Dok, sudah buka berapa?" tanya Adiba menahan sakit sambil mengucapkan istighfar di dalam hati.
"Baru delapan, tunggu sampai bukaan sepuluh."
"Bukaan?" celetuk Huan bingung.
"Lebar dari jalan lahir si bayi."
Huan sangat kasihan dengan apa yang menimpa Adiba, bahkan dia yang merasakan kesakitan setiap kali melihat ekspresi yang di tunjukkan sang istri.
Adiba terus mengatur pernafasannya, dan selang beberapa lama barulah merasakan ingin mengejan. Dokter langsung bertindak dengan kembali memeriksa, dan menuntun ibu hamil itu cara mengejan yang baik.
Huan semakin panik, Adiba yang mengejan malah dia yang merasakan sakit. Bagaimana tidak, jika sang istri tak sengaja menarik rambutnya. Di dalam ruang bersalin, malah yang paling keras berteriak adalah Huan sendiri, sedangkan Adiba terlihat santai sesekali mengucapkan istighfar.
"Kak," panggil Ratu yang menoleh ke arah kakaknya, mereka duduk di kursi tunggu di luar ruang bersalin.
"Apa?"
"Kenapa paman berteriak?"
"Kakak juga tidak tahu," jawab Raja yang mengangkat kedua bahu dengan acuh.
"Selamat, anda mendapatkan seorang anak laki-laki dan kembar. Mereka sangat sehat," ucap dokter yang meletakkan kedua bayi laki-laki di atas dada Adiba.
__ADS_1
Adiba menangis haru dan mengecup anak kembarnya, begitupun Huan yang menangisi, tapi langsung dia menyekanya.
"Aku akan memberi mereka nama Zayn dan Zayden," ucap Huan memberi nama anak kembarnya.