
Terdengar suara dering ponsel menghentikan obrolan suami istri itu, Huan segera merogoh saku celana dan melihat siapa yang menghubunginya. Setelah tahu nama kontak yang tertera di layar, dia memutuskan untuk menjawab sambil keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana?"
"Kami menemukan potongan pakaian, dan juga dompet."
"Baik, saya akan segera kesana."
Setelah memutuskan telepon, Huan berlari keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil. Mengendarainya dengan kecepatan tinggi tanpa peduli keselamatan jika mendengar menyangkut kakaknya, walaupun dia dan Ken sering bertikai seperti anak kecil, namun itulah bentuk kasih sayang mereka satu sama lainnya. Sementara Adiba sedih melihat kepergian suaminya tanpa mengucapkan sepatah katapun padanya, bahkan tak sempat berpamitan.
"Lebih baik aku memeriksa anak-anak," gumam Adiba yang memahami suasana hati Huan, hatinya sedih dengan apa yang terjadi.
Mobil berhenti tak jauh dari bibir pantai, berjalan keluar menghampiri beberapa polisi, tim sar, dan juga orang sewaan. "Tunjukkan padaku apa yang kalian jumpai!" titahnya menjadikannya pusat perhatian.
Salah seorang pria berseragam orange membelah kerumunan, dan di tangannya membawa barang-barang yang ditemukan beberapa meter dari kapal yang tenggelam. "Apa ini milik korban?"
Dengan cepat Huan meraih potongan pakaian dan dompet, seakan mendapatkan secercah harapan. "Benar, ini milik kak Ken, dan dompet ini juga miliknya."
"Bisa jadi korban masih berada di sini."
"Apa yang kalian tunggu? Cepat cari keberadaan kakakku!" pekik Huan yang sedikit berteriak.
Huan menatap orang-orang yang satu persatu pergi, dia tak ingin tinggal diam menunggu segalanya terjadi. Dia ikut turun tangan dalam pencarian, dengan menggunakan jet ski adalah pilihan pertama. Tak lupa mengenakan jaket pelampung, mencari sang kakak dan terus berusaha sekuat tenaga.
__ADS_1
Sekitar dua jam tidak mendapatkan hasil, Huan terpaksa menghentikan pencarian mengingat hari semakin larut dan cuaca di laut sedang tidak baik. Dia sangat menyesal, namun tetap berpikir positif jika kakak dan kakak iparnya masih hidup. Ya, dia hanya mengandalkan pikirannya, entah itu benar atau salah yang terpenting masih ada harapan untuk menemukannya.
"Aku gagal," lirih Huan yang berdiri di depan pintu kamar, menundukkan kepala merasa tak berguna.
Adiba berlari menghampiri suaminya, merasakan kesedihan yang sama. "Semua pasti baik-baik saja, kita hanya bisa berdoa yang terbaik untuk mereka."
Huan tak kuasa menahan bebannya, memeluk tubuh sang istri sambil menangis. Ini kali kedua dia menangis, kehilangan seseorang yang paling di sayangi. Pandangannya langsung tertuju pada Raja dan Ratu, amanat yang dikatakan Ken masih diingatnya. Clue yang di berikan sebelum kejadian membuat hatinya pilu, andai saja dia menolak liburan itu dan menghentikan kakaknya, tapi takdir malah mempermainkannya sekali lagi.
"Semoga kak Ken dan kak Tari bisa di temukan. Kamu harus kuat demi anak-anak," jelas Adiba mengusap pelan punggung suaminya.
"Kamu benar, aku akan merawat anak-anak mereka dengan sepenuh hati." Huan menyeka air mata dan juga air hidung yang sedikit keluar, menguatkan diri demi dua malaikat kecil titipan sang kakak.
Di larut malam, suasana dingin menyentuh kulit, terasa membeku sampai ke tulang. Adiba segera membawa suaminya untuk beristirahat ke kamar mereka, dan meninggalkan kamar anak-anak setelah memastikannya. Dia menopang tubuh Huan yang seperti tak ingin bergerak kemanapun, pernikahan pertama mereka malah diuji seperti ini.
Tiga bulan telah berlalu, waktu terus bergulir tanpa ingin berhenti, berjalan hampa karena tak pernah menemukan keberadaan Kenzi dan Tari. Huan memutuskan untuk memulai hidup yang baru, menjadi ayah dari Raja dan Ratu yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.
Mereka semua bangkit dari kesedihan, kesedihan berkepanjangan juga tidak baik bagi kesehatan mereka. Melupakan apa yang sebenarnya sudah ada di garis tangan kehidupan, semakin kita menolak maka semakin sulit untuk memulai lembaran baru.
"Anak-anak, cepat turun!" panggil Adiba yang mengetuk pintu kamar Raja dan Ratu.
"Iya, sebentar lagi," jawab kedua anak itu dengan serempak di dalam kamar.
Adiba menghela nafas, menjadi pengganti ibu kandung mereka sangatlah sulit karena dirinya masih belum bisa memahami anak-anak. "Dimana kamu, Tari? Jika kamu masih hidup, tolong cepatlah kembali demi kedua anakmu," gumamnya yang segera menyeka bulir bening yang menumpuk di pelupuk mata indahnya.
__ADS_1
Adiba dan Huan tinggal di rumah milik Ken, mereka memulai lembaran baru dengan cerita baru. Melangkah lebih maju, seperti mengambil alih perusahaan dan toko roti milik sang kakak. Kesibukan yang biasa dilakukan oleh Ken dan Tari, di gantikan oleh Adiba dan juga Huan untuk sementara sampai menunggu sang pemilik asli kembali. Tapi rasanya sangat mustahil, apalagi tidak ada kabar apapun setelah malam itu, para tim tidak menemukan dan menghentikan pencarian mereka.
Para tim beranggapan jika Ken dan Tari sudah meninggal dunia di bawa arus ke lautan dalam.
Semua orang berada di meja makan, perlahan suasana yang sepi mulai di terima, walau masih terasa sakit bila mengingatnya. Raja melirik dua kursi kosong yang biasa ditempati oleh ayah sambung dan juga ibunya, menjadi tidak bersemangat.
"Aku merindukan ayah dan ibu," lirihnya yang tidak berselera untuk makan sambil melipat kedua tangannya yang diletakkan di atas meja makan dan menundukkan kepala dengan lesu.
Adiba menatap suaminya yang paham dengan kesedihan masih membekas di hati setiap orang, dia membujuk Raja dengan sebaik mungkin. "Raja harus makan, biar tenaganya ada. Apa Raja mau kalau ibu datang kesini dan melihat kalian yang kurus? Dia pasti sangat sedih, makan yuk! Apa Aunty yang suapi?"
Raja menggeleng dan menyuapi makanannya ke dalam mulut, Adiba tersenyum walau hatinya juga merasakan hal yang sama. Rasa simpati dan juga kasihan bila melihat anak-anak yang merindukan ayah dan ibu mereka.
Kenapa Adiba berbohong?" batin Huan yang segera beranjak dari kursinya dan menyeret Adiba menjauh dari anak-anak. "Kenapa kamu menggunakan nama kakak pada mereka?" tanyanya yang sedikit bernada keras.
"Aku tidak punya pilihan lain untuk membuatnya agar tetap makan, aku melakukan itu dan terpaksa berbohong demi kebaikan mereka," jelas Adiba yang terkejut mendengar kali pertama Huan membentaknya.
Huan menutup matanya beberapa detik kemudian membukanya, menatap sang istri. "Jangan memberikan harapan palsu pada mereka, Adiba. Ini sudah tiga bulan, dan kita bahkan tidak menemukan jasadnya. Semua orang sudah mengklaimnya telah meninggal dunia, kita … kita harus menerima takdir ini," ujarnya yang segera kembali ke meja makan. "Habiskan sarapan kalian, aku akan menunggu kalian di dalam mobil."
"Baik Paman," jawab Raja dan Ratu serempak.
Adiba menyiapkan bekal makanan dan memasukkannya ke dalam tas anak-anak, menunggu di depan pintu sambil melambai dengan kepergian semua orang.
"Huan tidak hangat seperti dulu, dia berubah dingin padaku." Adiba sangat sedih, namun dia tidak bisa menghapus kesedihan sang suami.
__ADS_1