Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 77


__ADS_3

Huan berjalan menghampiri Yusuf, namun pria itu lebih dulu pergi membuatnya terpaksa menghentikan niatnya. Dia memutuskan untuk kembali ke asrama, dirinya yang tiba-tiba menjadi pendiam membuat semua orang yang berada di sekelilingnya dapat merasakan. 


Di sepanjang kaki melangkah, Huan berjalan dengan menundukkan kepala. Rasa patah hati kehilangan harapan akan cinta membuatnya tak bersemangat. 


"Assalamu'alaikum." 


Sontak Huan menoleh ke sumber suara yang sangat familiar, menatap beberapa detik seorang gadis yang hampir setiap malam dia rindukan. 


"Wa'alaikumsalam." 


Adiba tersenyum di balik cadarnya, terlihat jelas dengan garis-garis halus di sekitar mata. "Ada yang mencarimu." 


"Siapa?" 


"Kakakmu." 


"Hem, baiklah." Huan berlalu pergi meninggalkan Adiba seorang diri, patah hati tak ingin membuatnya menaruh harapan pada gadis sang pujaan. 


Adiba menautkan kedua alisnya sambil melihat punggung Huan yang mulai menjauh, dia merasa ada yang kurang dari pria itu. Pasalnya, Huan selalu banyak bicara dan memperlihatkan sikap ingin mendekatinya. Tapi, sekarang malah terjadi sebaliknya. 


"Dia terlihat berbeda, ya sudahlah …." Adiba juga pergi dari tempat itu. 


Huan menemui kakak angkatnya yang sudah menunggu, melangkahkan kaki yang terasa berat untuk pergi ke sana. Pernikahan Adiba dan Yusuf benar-benar mempengaruhi dirinya. Baru kali ini dia di tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan, biasanya hanya dengan menunjuk pasti permintaannya terkabulkan, realita tak sesuai dengan ekspektasi. 


Ken dan Tari menoleh pada Huan yang mengucapkan salam, mereka menjawabnya dan mempersilahkan untuk masuk juga ikut bergabung. 


"Biasanya dia heboh, mengapa tiba-tiba dia menjadi pendiam. Apa Huan lagi sakit gigi?" pikir Ken yang menatap adiknya dengan kebingungan. 


"Saya masuk ke dalam dulu, kalian bisa mengobrol dengan leluasa," ucap pria paruh baya yang beranjak dari kursinya, masuk ke dalam ruangan dan memberikan kebebasan pada tamunya. 


Tidak ada siapapun selain mereka bertiga, Ken masih bingung dan begitu banyak pertanyaan yang ingin di ajukan pada Huan. "Kamu sakit gigi?" 


"Apa?" Seketika Huan terkejut dengan pertanyaan itu. 


"Kamu lagi sakit gigi? Tidak biasanya diam begini, apa perutmu sakit karena salah makan?" 


"Suamiku, sepertinya bukan seperti itu." Tari mulai menjadi penengah, dia juga melihat perubahan pada Huan. "Melihat raut wajahmu, apa kamu sedang patah hati?" 

__ADS_1


"Hah, ternyata Kakak ipar lebih memahamiku. Gadis incaranku sebentar lagi akan menikah," jelas Huan yang masih bersedih. 


Ken langsung menoyor kepala Huan, dia kesal dengan mental kerupuk yang dimiliki oleh adik angkatnya itu. "Jangan membuatku malu, kamu terlihat menyedihkan jika menunjukkan ekspresi sedih itu. Lelaki itu biasa dalam hal patah hati, bahkan aku lebih diuji daripada dirimu." 


"Jangan menoyor kepalaku," protes Huan yang kesal. 


Pletak


Kali ini bukan menoyor, melainkan Ken menjitak kepala adiknya dengan geram. Kamu pantas mendapatkannya." 


"Hei, ingatlah ini Kak! Aku akan melaporkanmu atas tindakan kekerasan dan penganiayaan kalau sampai otakku geger." 


Pletak


Ken kembali menjitak kepala Huan membuat sang korban semakin jengkel, sementara Tari menggelengkan kepalanya melihat aksi keduanya yang seperti kucing dan tikus, namun saat jauh mereka saling merindukan. 


"Laporkan saja, laki-laki pecundang sepertimu. Hah, apa lagi yang mereka bisa lakukan selain itu? Dasar payah. Apa kamu lupa dengan pepatah, sebelum janur hijau stabilo melengkung, kamu masih bisa menikung. Tapi ingat! Jangan merebut istri dari pria lain, bahaya di dunia dan tersiksa di akhirat." Wejangan dari Ken memang benar adanya, wajah lesu tak bersemangat dari Huan berhasil cerah kembali. 


"Aku baru dengar janur hijau stabilo? Bukannya warna kuning ya," pikir Huan. 


"Sama saja, yang penting sama-sama ada kata janurnya. Jangan bersedih jika tak ingin aku mengejekmu waria!" 


"Kamu pikirkan caranya sendiri, tapi jangan menjual harga dirimu dan membuatku malu." 


"Hah, entahlah. Sepertinya tidak ada harapan untuk mendapatkan Adiba, Yusuf pria yang sempurna san imam yang bisa membimbing Adiba ke jalan yang benar. Sedangkan aku? Terlalu banyak buruknya."


Ken menghela nafas jengah. "Sia-sia aku memberimu petuah, kalau pada akhirnya masih tetap tidak mengerti." 


Beberapa saat Huan termenung memikirkan perkataan Ken, namun dia bukanlah pria dengan mental kerupuk yang sekali terkena angin pasti melempem. 


"Akan aku buktikan padamu Kak, jangan panggil aku Huan bila tak mendapatkan Adiba," batinnya sambil menatap kepergian Ken dan Tari. 


Di sepanjang kaki melangkah, Ken masih memikirkan nasib Huan yang mengalami patah hati. 


"Jangan memberikan harapan pada Huan, Ken."


"Biar dia belajar apa arti cinta yang sesungguhnya."

__ADS_1


"Dia pasti terluka," ujar Tari yang masih mencemaskan keadaan Huan. 


"Aku sangat mengenal Huan, dia sudah mengalami fase yang lebih menyakitkan dari ini. Kami tumbuh dan berkembang bersama, dia sudah banyak menderita di masa laku dan  biarkan dia sendiri yang menyelesaikan masalahnya. 


"Tapi … aku hanya__." 


"Tidak perlu di pikirkan, pikirkan anak-anak dan anak yang masih berada di dalam perut." Ken tersenyum hangat, sambil mengelus perut Tari. 


Tari tersenyum dengan anugerah yang dia dapatkan sekarang, tak henti-hentinya merasakan bersyukur entah keberapa puluhan kali, bahkan sampai ratusan kali. 


"Ken, apa kamu mencintaiku?" 


Ken langsung menoleh, tidak menyukai pertanyaan yang sudah jelas jawabannya tanpa perlu mengucapkan.


"Untuk apa kamu menanyakan itu?" 


"Hanya ingin mendengar langsung, apa kamu juga mencintai kedua anakku dengan tulus. 


"Aku mencintaimu dan juga anak-anak, jangan mempertanyakan hal konyol itu memancing emosiku. Apa tindakanku selama ini masih meragukan cinta yang aku tunjukkan padamu?" 


"Tidak." Jujur saja, kalau Tari menyesal mempertanyakan hal ini. "Aku merasa kalau aku tidak bisa bersamamu lagi, beberapa hari ini aku mimpi buruk." 


"Mimpi buruk?" 


Dengan cepat Tari menganggukkan kepala. "Benar, aku merasa akan ada sesuatu yang masih belum jelas."


"Itu hanya mimpi, mimpi akan tetap menjadi mimpi. Daripada memikirkan hal yang belum tentu kejadian itu akan terjadi, aku juga sudah memasang beberapa pengaman agar kamu tidak mendapatkan masalah selama kehamilan."


"Kamu pernah  membahas sekolah, tapi mengenai setelah melahirkan aku ingin memberikan jarak kepada anak-anakku."


"Jadi kamu tidak ingin memiliki anak dariku lagi?" Seketika raut wajah Ken berubah sedih, salah paham dengan maksud Tari. 


"Banyak anak itu memang bagus, tapi perlu memberikan jarak. Aku pasti akan menggunakan KB setelah melahirkan. Bukan karena aku tidak menginginkan anak darimu, tetapi aku juga butuh kekerasan dalam menjaga mereka." 


Ken hanya pasrah karena tidak mampu berkata apapun, hanya dia salah satu orang yang menerima keadaan Tari yang sekarang sudah sah menjadi istri dan hamil anak pertamanya.


"Aku akan membantumu menjaga anak-anak." 

__ADS_1


"Tidak Ken, maksudku seperti menjaga kewarasan ku. Sangat sulit bagiku menerima ini tanpa memberikan jarak!" 


__ADS_2