
Aku pergi kepasar membawa kedua anakku, tidak mungkin aku meninggalkannya di rumah. Dengan terpaksa aku meminta tetangga untuk mengantarkanku dan membayar jasanya juga tak lupa untuk mengisi bensin, Ratih membantuku karena kebetulan dia menganggur.
"Aku akan tunjukkan pelanggan-pelanggan ku, dan seterusnya bisa kamu lanjutkan sendiri."
"Iya Mba, terima kasih sudah memberikan saya pekerjaan."
"Tapi saya gak bisa kasih gajimu banyak."
"Gak masalah Mba, yang terpenting saya bekerja dan bisa berpenghasilan."
Dia Ratih, wanita yang usianya tak jauh berbeda dariku. Suaminya sakit hingga diharuskan istirahat total selama beberapa bulan kedepan, hal itu membuat pemasukannya sedikit namun pengeluaran yang begitu besar. Aku kasihan padanya, sudah mencari pekerjaan dimanapun. Aku membantunya sebisaku karena ekonomi ku belum stabil sepenuhnya.
Kamu membawa beberapa pesanan, aku menunjukkan pada Ratih yang telah sah menjadi karyawan ku dan semoga saja bisnisku berhasil dengan begitu aku bisa memberinya gaji selayaknya.
Cukup lelah kami mengantarkan semua pesanan dan masih ada lima kotak lagi, aku meminta Ratih untuk singgah ke warung membeli air dingin pelepas dahaga.
"Aku ikut prihatin dengan apa yang menimpa Mba."
Aku tersenyum. "Ini ujianku dan anak-anak."
"Bagaimana kelanjutannya Mba?"
"Aku akan mengajukan gugatan perceraian pada mas Angga, dia sudah mengkhianati aku dengan berselingkuh."
"Mba kenal sama pelakornya?"
"Gak juga, yang pasti namanya Siska."
"Siska? bagaimana ciri-cirinya Mba?"
Aku menceritakan ciri-ciri sang pelakor, namun aku cukup terkejut jika orang yang sama juga pernah mengambil suaminya. Aku tahu semua itu karena kecurigaan juga penasaran nya, di perlihatkan foto Siska dan benar saja kalau kami korban dari pelakor yang sama.
"Hidup ini lucu ya Mba, mas Yudi juga pernah menjalin hubungan dengan seorang janda yang namanya Siska."
"Tapi aku salut sama kamu, Ratih. Mau memberikan kesempatan kedua untuk suamimu, kalau aku tidak bisa sesabar kamu." Terangku jujur membuatnya tersenyum malu. "Mas Yudi sangat beruntung punya istri yang sabar dan juga mandiri sepertimu."
"Ahh Mba bisa aja."
Kami hendak pergi, aku kembali membetulkan gendongan depan belakang. Namun tanganku merasa keram, hampir saja aku menjatuhkan Raja. Dan beruntungnya seorang pria yang berwajah manis membantuku tepat waktu, entah apa yang terjadi kalau dia tidak ada.
"Terima kasih Mas Satrio."
"Sama-sama, lain kali hati-hati."
"Iya Mas. Ayo Ratih!"
__ADS_1
Aku naik ke atas motor metik milik Ratih, tersenyum sebelum pergi untuk isyarat 'kami pergi dulu'. Aku yang menjauh menoleh ke warung tersebut, masih ku lihat mas Satrio menatap kami.
"Kamu merasa aneh gak Ratih?" tanyaku yang mengeraskan suara, apalagi kami sedang berada di atas motor.
"Aneh kenapa Mba?"
"Pria tadi menatap kita seperti sesuatu."
"Mas Satrio?"
"Iya, siapa lagi."
"Naksir kali sama Mba."
"Ngawur kamu."
Hari semakin sore dan aku putuskan untuk pulang, karena anakku pasti sangat capek. Ponselku tiba-tiba berdering, segera ku rogoh saku dan melihat siapa yang menghubungiku yang ternyata nomor tak di kenal.
Aku penasaran dan mengangkat telepon itu, rupanya seseorang yang pernah membuatku kesal.
"Mba, ini aku Lisa."
Aku sedikit terkejut, ternyata dia yang menelponku. Namun dari suaranya dia bergetar hebat, seperti takut akan suatu hak yang entah apa itu, dia meneleponku dengan berbisik.
"Tolong aku Mba … tolong aku!"
"Aku di siksa mas Rusli dan istri pertamanya, hampir setiap hari aku di pukuli."
Sebenarnya aku malas berurusan dengan Lisa, tapi hati kecilku tidak tega untuk membiarkannya terluka memohon agar aku menolongnya.
"Halo mba Tari, kabari ini sama ibu dan juga kak Angga. Aku sudah menghubunginya beberapa kali tapi tidak pernah di angkat."
Aku terdiam sejenak dan berpikir jawaban apa yang pantas. "Mas Angga sudah tidak tinggal di rumahku dan ibu berada di penjara."
"APA?"
Belum sempat kami menyelesaikan obrolan, tiba-tiba ponselnya sudah mati dan tidak terhubung saat aku berusaha sebisanya. Aku sedikit khawatir di saat mendengar nada bicara Lisa yang tidak biasanya, ada ketakutanyang sepertinya dia sembunyikan.
****
Sementara di sisi lain, sepasang kekasih tengah mengadu kasih. Angga yang sudah tidak sanggup mengalahkan Siska di ranjang membuatnya kesal, tapi dia menyukai permainan dari sang janda bohay.
"Kami kalah lagi Mas."
"Entar deh, lihat aja nanti aku bisa mengalahkanmu."
__ADS_1
"Gimana Mas servis ku? Lebih mantap dari servis istrimu kan."
"Iya sih."
"Mas, aku mau perhiasan. Lihat nih tangan kiri aku masih kosong," rengek Siska merajuk manja.
Angga menghela nafas karena tidak bisa memenuhi permintaan Siska. "Duh Sis, aku lagi gak ada uang."
"Kok gitu sih Mas? Biasanya setiap kita habis main kamu pasti kasih aku uang atau perhiasan, kok sekarang kamu pelit sama aku."
"Aku bukan pelit, tapi benar-benar gak ada uang. Aku kesini sebenarnya mau pinjam uang untuk makan dari kamu, sekaligus bayar kontrakan."
"Duh … gimana ya Mas? Bukan aku gak mau pinjamkan, tapi aku harus bayar cicilan."
"Dua minggu lagi Mas gajian kok, nanti di ganti."
"Bener ya Mas, harus di ganti."
"Iya Sayang, takut banget sih gak bayar."
Angga yang sudah mendapatkan kepuasan itu segera pergi dari sana lewat pintu belakang, takut orang lain menggerebek dan langsung menikahkan mereka.
Baru saja keduanya memakai pakaian mereka kembali, terdengar suara pintu yang di tendang dengan kasar. Hal yang mereka takuti telah terjadi dan menjadi bom di waktu bersamaan, beberapa orang warga menyeret Angga yang hanya mengenakan boxer, sedangkan Siska meraih selimut untuk menutupi tubuhnya yang terekspos beberapa orang dan ada yang merekam kejadian itu untuk nanti di viralkan.
Angga sangat panik, kenikmataan sesaat membuat tubuhnya di pukuli beberapa pria yang geram dengan aksi mereka.
"Kalian harus di nikahkan!" ucap salah satu warga yang tidak terima.
"Saya gak akan menikahinya."
"Enak banget kamu Mas, jangan mau enaknya doang." Protes Siska kesal.
"Ingat kesepakatan awalnya, lagipula aku selalu memberimu uang dan itu harga yang pas."
Kedua orang itu terus saja berdebat, namun kejadian penggerebekan di kontrakan sang wanita langsung menyebar hingga salah satu pelanggan Tari memberitahu kejadian ini.
Betapa terkejutnya aku melihat berita yang di perlihatkan bu Sulis, aku tidak merasa sedih karena tak menjadi istrinya lagi. Keputusanku semakin yakin untuk bercerai, sekali berselingkuh pasti tetap berselingkuh, sejatinya tabiat tak akan berubah cepat.
"Biarkan saja, Mba."
"Loh, kamu gak kesal atau sedih?"
"Ya mau gimana lagi Mba, mas Angga sudah mengatakan talak."
"Kamu yakin bisa membesarkan kedua anakmu tanpa peran seorang ayah?"
__ADS_1
"Aku akan menjadi ibu dan ayah sekaligus, untuk apa pelihara suami tukang selingkuh? Daripada makan hati mending aku fokus pada anak-anak dan diri sendiri. Aku butuh menjaga kewarasan Mba!"
"Kamu wanita kuat, kalau aku jadi kamu mungkin samperin pelakor nya dan menghajarnya. Hukuman suami seperti Angga, lebih baik memecahkan telurnya sampai impoten." Ucap bu Sulis yang di iringi gelak tawanya.