
Dengan terpaksa Angga pulang ke rumah istri muda, sepanjang perjalanan wajahnya di tekuk sangat sedih dengan apa yang baru saja menimpanya. Entah bagaimana dia akan mengatakan kalau dirinya telah di pecat, dia yakin Siska pasti mengerti.
"Aku pulang!"
"Lho Mas, ini baru jam berapa? Kok pulangnya cepat?" Siska yang melihat suaminya langsung menyimpan kosmetik dan alat make up ke sisi lain.
Angga tak menjawab dan duduk di sebelah istrinya. "Aku haus, ambilin minum dulu!"
Siska bengong, berdiri dari duduk dan berjalan menuju dapur. Dia membuat teh hangat manis dan menyuguhkan di hadapan sang suami, tak lupa juga cemilan, pelayanan yang terbaik bila semua kebutuhannya tercukupi.
"Sekarang kamu cerita Mas, ada apa? Mukamu kisut begitu."
"Aku di pecat jadi mandor."
"Apa? Bagaimana bisa?"
"Tenang dulu, aku akan mencoba cari pekerjaan dengan pengalaman ku." Ucap Angga meyakinkan istri muda, keyakinan sebab dia memiliki kualitas.
"Aduh Mas, jadi sekarang kamu pengangguran dong. Terus gimana kehidupan kita ke depannya?"
"Ya … terpaksa kamu bekerja lagi."
"Saat aku janda aku bekerja, saat udah jadi istri masa harus bekerja lagi, aku kan capek Mas." Siska berusaha menahan amarahnya, dia juga yakin kalau suaminya pasti mendapatkan pekerjaan baru. Di dalam hatinya terbesit kemarahan, tapi segera menahannya karena dia belum menguras uang suaminya.
"Aku janji, ini sampai aku mencari pekerjaan. Toh hasilnya kamu juga yang menikmati!"
"Bener ya Mas, awas … jangan sampai keenakan kamu nganggur, bisa aku tendang kamu dari sini."
"Iya, aku janji."
****
__ADS_1
Aku sangat bersyukur, usahaku menjadi maju. Karyawanku juga bertambah dua dan menjadi tiga orang bersama Ratih yang bekerja mengantarkan pesanan, sedangkan dua lainnya membantuku bekerja di bagian dapur.
"Mba Tari hebat, usahanya semakin maju sekarang!" puji Ratih.
"Alhamdulillah, ini berkat kita semua."
"Makasih ya Mba, berkat Mba suami aku sudah sembuh dan sekarang aku berpenghasilan sendiri."
"Itu karena kamu wanita hebat juga tangguh. Sana, antarin pesanan! Jangan buat mereka komplain."
"Siap Bu bos."
Setelah kepergian Ratih yang sudah menjauh dari pandangan, aku merasa bersalah tidak bisa membantu Lisa karena keluarga Rusli bukanlah lawan yang sepadan untuk dia lawan.
Tari juga sedih sebab Angga tidak mau menandatangani surat perceraian itu, membuatnya sangat geram dengan status pernikahan gantung. Dia tahu mengapa Angga menggantung pernikahan mereka, hanya alasan tidak ingin ada pria lain yang melamarnya.
Dia sedih tapi bisa mengatasi masalahnya sendiri, walaupun perceraian mereka belum di katakan sah, tapi talak satu juga sudah cukup baginya.
"Aku harus menemui mas Angga, akan aku tekan dia agar menangani perceraian itu!" gumamnya yang berniat menghampiri.
"Wah, ternyata usahanya sukses juga. Ini kesempatan aku hidup enak." Batin Weni yang menyeringai licik, hidup menumpang di rumah Tari agar memiliki kehidupan layak.
Dia tersenyum melihat menantu gantungan dari kejauhan, segera
menghampiri dengan air mata penuh kepalsuan.
"Tari, menantuku!" tangisan Weni pecah dan memeluk tubuh Tari dengan erat, seakan-akan merasa menyesal.
Aku menatap ibu dengan kening yang berkerut, apa mungkin dia berubah cepat? Melihat tangisan yang seperti di buat-buat semakin membuatku curiga.
"Ibu kenapa?"
__ADS_1
Weni melepaskan pelukan itu dan memegang kedua tangan Tari. "Maafkan ibu, Nak. Selama ini Ibu sudah bersalah sama kamu dan cucu-cucu Ibu."
Aku mencoba untuk mencerna perkataannya, dan memutuskan untuk mengikuti permainannya. Apa dia mengira kalau aku Tari yang dulu? Yang seenaknya diperintahkan ini-itu.
"Tidak perlu seperti ini, aku sudah memaafkan Ibu."
"Mulia sekali hatimu Tari, andai Angga tidak mengucapkan talak pasti kalian masih bersama. Bagaimana kalau kalian rujuk lagi, masih ada kesempatan. Apa kamu tidak kasihan Raja dan Ratu? Mereka masih butuh kasih sayang ibu dan ayahnya secara utuh."
Diam-diam aku tersenyum, permainan ibu yang dia tiru di televisi membuatku geli melihatnya. Air mata penuh kepalsuan, dan berujung memintaku rujuk dengan anaknya yang sampai sekarang tak menafkahi kedua anakku.
"Maaf Bu, aku tidak bisa rujuk sama anak Ibu."
"Loh, kenapa?" tanya ibu yang terus menatapku bingung. "Kamu punya pria lain ya? Memangnya kamu nggak malu dibicarakan orang-orang karena sudah menjalin hubungan baru dengan pria lain."
Aku menyeringai tipis mendengarkan ibu menceramahiku. "Tidak ada pria lain yang seperti Ibu tuduhkan padaku, aku hanya ingin fokus dengan usaha dan juga kedua anakku memberikan mereka kehidupan layak, karena ayahnya sendiri menelantarkan mereka dan sampai sekarang tidak memberikan nafkah."
"Mungkin ini masih bisa di bicarakan."
"Mau bagaimanapun lagi, aku tidak mau rujuk. Mas Angga sudah menikah dengan janda, dia menikahi janda tapi menjandakan istrinya sendiri, itu yang tidak bisa dimaafkan."
Aku melihat bagaimana ekspresi yang ditunjukkan oleh ibu, walaupun dia membujukku seratus kali tetap akan aku tolak. Tujuanku hanya memajukan usaha, dan juga memberikan kehidupan yang layak untuk kedua anakku agar mereka tidak kekurangan.
"Tapi Ibu akan berharap dan berdoa jika kalian bersama lagi, kasihan Raja dan Ratu." ucapnya yang sedih. "Sekarang Ibu tidak punya tempat tinggal, dan uang Ibu juga sudah habis. Berikan Ibu tumpangan di rumahmu, bahkan tidur di sudut dapur juga tidak masalah."
Bukan karena aku orangnya yang kejam, tapi watak seseorang tidak akan pernah berubah apalagi itu menyangkut ibu dan juga mas Angga yang akan selalu melakukannya lagi dan lagi. Aku mengeluarkan uang dari saku daster yang aku pakai, memberikan dia lima lembar uang berwarna merah dari hasil keuntungan beberapa hari.
"Ibu bisa menyewa kontrakan, hanya ini yang bisa aku berikan!" aku menarik tangannya dan menutup jemarinya setelah memberikan uang lima ratus ribu. "Maaf Bu, tidak ada tempat untuk Ibu di rumah ini."
"Sombong kamu sekarang mentang-mentang sudah sukses, tapi kamu lupa sama mertuamu sendiri. aku gak butuh uangmu ini, harga diriku telah kamu injak. Aku doakan usahamu ini bangkrut, dan kamu menjadi gembel bersama anak-anakmu!" ucapnya yang melempar uang itu dan pergi karena merasa harga dirinya diinjak, jujur saja di dalam hatinya dia menyesal melakukan itu karena gengsi uang lima ratus ribu lenyap.
Aku menghela nafas berat setelah kepergian dan ibu ternyata dugaanku benar dia masih belum berubah, tapi malah menyumpahiku dan juga anak-anakku membuatku sakit hati.
__ADS_1
"Doa yang baik akan berbalik pada diri sendiri, begitupun dengan doa yang buruk. Semoga saja perkataan Ibu tidak terjadi!"
"Sial, berani sekali dia. Mentang-mentang sukses, tapi lupa sama aku. Orang sombong seperti dia pasti juga bangkrut, lihat saja nanti." Monolog Weni mengumpat di sepanjang kaki melangkah sambil memegang perut yang berbunyi minta di isi. "Aku gak punya uang, harusnya aku ambil saja uang tadi. Hah, bodohnya aku."