Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 90


__ADS_3

Huan bekerja dengan keras, mengelola perusahaan kakaknya dan berharap suatu hari sang kakak pulang. Dia bekerja siang dan malam tanpa tahu waktu, bahkan kesedihan mendalam membuatnya lupa jika ada yang menunggunya di rumah. Dia melupakan kewajiban sebagai umat muslim, meninggalkan sholat yang seharusnya wajib untuk dilakukan. Kesedihan membuat sikapnya yang ceria dan humoris berubah menjadi sedingin es, bahkan dia menjadi orang kejam saat bekerja. 


Huan tak membalas sapaan dari karyawannya, berjalan ke depan tak memperdulikan siapapun selain kesedihan yang membuatnya menjadi pria, bos, suami, dan paman yang egois. 


Huan menatap lurus ke samping, melihat foto Kenzi, Tari, Raja, dan Ratu yang masih berdiri di meja kerja yang sekarang dia ambil alih. Dia mengambilnya dan menatap wajah sang kakak yang sangat dirindukan, mengelus wajah di dalam bingkai foto kembali membuatnya larut dalam kesedihan. 


"Tiga bulan belum ada kabar darimu," lirih Huan seraya menghela nafas kasar. 


Terdengar suara ketukan pintu yang membuatnya mengalihkan perhatian. "Masuk!" titahnya. 


Seorang pria yang mengenakan jas abu-abu yang dipadupadankan dengan kemeja putih, dan dasi berwarna biru melangkah masuk ke dalam ruangan setelah di persilahkan masuk. 


"Tuan, kita ada rapat dengan Mitra Crop," kata asisten sekaligus tangan kanan Huan. 


"Baiklah. Pergilah! Lima menit lagi aku menyusulmu," sahut Huan. 


"Baik Tuan, saya permisi." 


Huan menatap kepergian pria itu yang menghilang di balik pintu, kemudian bersiap-siap untuk rapat dengan perusahaan lain dan menjalin kerjasama yang menguntungkan. 


Jam terus berjalan menunjukkan waktunya, seseorang yang berada di dalam ruangan menghela nafas dan berusaha untuk fokus. Hari semakin malam, cuaca di luar kantor sedang angin kencang, hujan deras, dan petir yang terus menyambar. Suasana yang kembali mengingatkan Huan pada kejadian sebelum kakak dan kakak iparnya menghilang. 


Tak sengaja mata melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam sebelas malam, Huan mulai mengucapkan istighfar dikala dirinya melupakan istri yang sedang menunggunya dengan perasaan khawatir di rumah. Segera dia merogoh saku untuk mencari ponselnya yang ternyata ada di atas meja kerja, takut menelepon karena cuaca sedang tidak bagus membuatnya mengirimkan pesan singkat. 


["Assalamu'alaikum Adiba sayang, sebaiknya kamu tidur duluan dan jangan menunggu aku pulang maupun cemas. Aku tidak bisa pulang karena cuacanya sangat buruk, akan menginap di kantor untuk semalam."]


Huan menyandarkan tubuhnya di kursi kebanggan milik kakaknya, melirik ke samping dan melihat dibalik jendela bening. Sangat jelas bagaimana petir dan hujan deras datang beriringan, berdiri dari duduknya dan berjalan untuk melihat pemandangan luar dari jendela. Sengaja membuka jendela untuk merasakan tetesan air hujan yang membasahi wajahnya, sangat sejuk menyentuh kulit yang membuatnya begitu tenang. 


"Aku benci dengan kehidupanku!" batin Huan yang beranjak dari sana, memutuskan untuk ke tempat tidur yang sudah tersedia di dalam ruangan itu jika lelah dan capek setelah bekerja. 


Huan menguap beberapa kali dan memutuskan untuk memejamkan mata, berharap hari-harinya berjalan lebih baik lagi. 

__ADS_1


"Hei … kamu yang pemalas, bangunlah!" ucap seseorang yang terus membangunkan pria itu. 


Perlahan Huan membuka matanya, melihat dua orang yang wajahnya masih samar. Dengan mengucek kedua mata, pandangan memudar itu terlihat semakin jelas dan sangat jelas. Dia mematung beberapa saat dan menatap dua orang yang sangat dirindukan sedang berdiri di sampingnya. 


"Kakak … Kakak ipar, kalian ada di sini?" 


"Dasar konyol, memangnya kami mau kemana lagi?" Ken menoyor kepala Huan sedangkan Tari tersenyum hangat melihat interaksi kakak dan adik. 


"Kakak dan kakak ipar pergi kemana saja? Aku mencari kalian siang dan malam selama tiga bulan ini, tapi tidak pernah mendapatkan hasilnya." Huan menangis membuat pasangan suami istri itu ikut sedih, namun mereka mengendalikan emosi berusaha tetap tersenyum. Kemudian dia memeluk kakak yang paling di rindukannya, setengah jiwanya yang ikut pergi bersamaan dengan kepergian Ken. 


Ken membalas pelukan itu dengan erat. "Maaf, aku dan Tari baru mengunjungimu. Apa aku menyusahkanmu?" tanyanya yang terkekeh. 


Huan semakin menangis di dalam pelukan sang kakak. "Bahkan kamu tidak pernah menganggapku serius, Kak." 


"Tentu saja, selama aku mengenalmu memang begitu yang aku tahu. Eh, apa atap di sini bocor? Aku merasa bahuku basah," goda Ken yang terkekeh malah semakin membuat Huan jengkel. 


Huan yang tadinya dramatis segera melepaskan pelukan itu. "Aku sedang serius dan tidak ingin bercanda, aku takut … aku sangat takut mendengar orang-orang yang mengatakan kalian sudah meninggal dunia," ucapnya yang sedikit meninggikan nada bicaranya. 


"Sekali lagi kamu tertawa, maka tinjuku ini akan melukai wajah tampanmu, Kak." Huan sengaja memperlihatkan kepalan tangannya yang sempurna ke udara, memamerkan kekuatannya. 


"Suamiku, jangan menggoda Huan seperti itu." 


"Hem, kamu dengar? Kakak ipar membelaku, dasar pria tak berempati." 


Huan melirik pasangan suami istri yang ada di dekatnya, ada yang aneh namun dia tak bisa memikirkan apapun. "Sebaiknya kita pulang, Raja dan Ratu merindukan kalian siang dan malam. Aku tahu kalau mereka sangat sedih selama tiga bulan ini, tidak bersemangat menjalani hari sama sepertiku. Anak-anak itu pasti sangat bahagia melihat kalian berdua yang telah kembali." Huan terus nyerocos dan beranjak dari tempat tidurnya, menarik tangan Ken dan Tari keluar dari ruangan. Namun langkahnya ditahan, segera menoleh menatap keduanya secara bergantian. "Kenapa kalian diam saja? Ayo kita pulang dan temui Raja dan Ratu, aku sangat kasihan melihat anak-anak itu terutama Ratu yang hampir setiap malam mengigau." 


Ken maju selangkah sambil menepuk pundak adiknya. "Duduklah dulu, ada yang ingin aku beritahu padamu." 


"Apa?" tanya Huan yang penasaran. 


"Jangan banyak bertanya, ikuti saja!" 

__ADS_1


"Hem, baiklah." 


Huan menatap pasangan suami istri dengan seksama, penasaran dan juga bingung apa yang ingin dibicarakan pada mereka. 


"Aku ingin kamu kembali seperti Huan yang dulu, dan berhentilah menyiksa dirimu sendiri karena rasa bersalah. Kamu tidak punya salah sama sekali denganku, tetapi kamu banyak berjasa karena sudah merawat anak-anak dengan sangat baik. Berhentilah bersikap seperti ini karena aku tidak menyukai nya, aku ingin adikku kembali seperti dulu, Huan yang ceria, humoris dan penuh kekonyolan. Aku juga ingin kamu lebih memperhatikan istrimu dan juga perasaannya, jangan sampai hubungan kalian renggang. Aku akan menjadi sedih dan tidak akan tenang, jadilah suami dan ayah bagi anak-anakku." 


"Apa maksudmu?" tanya Huan menatap Ken penuh menyelidik. 


"Aku tidak akan mengulang perkataanku, pasti mengerti dengan apa yang aku ucapkan. Berhentilah bersikap seperti ini m, karena aku paling membencinya. Kembalilah menjadi adikku yang aku kenal, dan jalani harimu dengan sangat baik." 


Huan terdiam mendengar kata-kata yang terdengar panjang, namun memiliki niat terselubung di dalamnya. "Kamu mengatakan itu seperti ingin pergi jauh, sebaiknya kita pulang!"


"Huan, kami tidak bisa pulang bersamamu," celetuk Tari yang tersenyum hangat. 


"Kenapa?" 


"Kami datang kesini khusu menemuimu, berhentilah bersikap dingin dan jalani hidupmu seperti biasa, walau kami tidak ikut dalam kebahagiaan itu." 


"Aku masih belum memahaminya," tutur Huan yang masih mencerna perkataan yang menurut yang sangat ambigu.  


"Dasar payah, masa begitu saja kamu masih bertanya. Bukankah selama ini kamu menganggap dirimu pintar? Maka jabarkan saja sendiri," cetus Ken. 


"Aku 'kan hanya bertanya." 


"Huan, waktu kami tidak banyak. Ingatlah pesan dari kakakmu, dan aku sangat berharap kamu menjalani kehidupan dengan baik tanpa adanya kami." Tari berjalan mendekati suaminya, melingkarkan tangannya di tangan Ken. 


"Kami harus pergi, jaga dirimu dan semua orang dengan sangat baik."


"Tunggu! Kalian mau kemana?" Huan berusaha untuk mengejar Ken dan juga Tari yang mundur semakin jauh, air matanya jatuh saat melihat dua orang itu yang melambaikan tangan diiringi senyuman di wajah. "Kak," pekik Huan yang langsung membuka matanya, terbangun dari tidurnya dan mulai menangis. 


"Ternyata itu hanya mimpi, tapi terasa sangat nyata."

__ADS_1


__ADS_2