
Perceraianku dan mas Angga menjadi jalanku untuk melangkah maju, tanpa melihat kedepan maupun tak memberikan balas kasih pada keluarga mereka. Bukan karena aku berhati kejam, tapi itu semua aku lakukan sebab mereka tak pernah berubah.
Beberapa bulan setelah aku mengusir mas Angga daei rumahku, aku tidak melihat keberadaan mereka. Namun Rusli malah menjadikan aku target dan di anggap membanti pelarian Lisa. Aku sangat takut di kala pria kejam itu ingin mengancam menyakiti anakku, beruntung Chen atau Kenzi datang tepat waktu dan memberikan kamu perlindungan dan juga keamanan.
Jujur saja, aku merasa aneh bila pria itu selalu bersikap baik dan selalu ada di kala aku membutuhkan pertolongan. Aku bukan wanita kemarin sore yang tidak paham maksud da mendekatiku, aku ingin bertanya padanya langsung agar semuanya terlihat jelas.
Aku menatap mata Chen dalam penuh penyelidik. "Aku tahu kamu berusaha mendekatiku."
"Itu benar," ucapnya tanpa menoleh, dia lebih asyik bermain dengan Raja. Aku tidak menyangka kalau anak sulungku sedekat itu pada Chen, cukup sulit anak-anakku berinteraksi pada orang asing, namun pria itu berhasil mendapatkan hati anaknya.
"Bukan sebuah kebetulan, apa niatmu sebenarnya?"
__ADS_1
"Aku ingin mengenalmu lebih dalam, dan setelah beberapa bulan aku mengenalmu." Chen menjadi begitu serius menatapku intens. "Aku rasa ini bukan waktu yang tepat, tapi kamu sudah mengetahui niatku sebenarnya." Dia mengeluarkan kotak kecil berwarna merah, membukanya dan melihat cincin putih bermata berlian. "Will you marry me?"
"A-apa?" Aku terkejut, cincin putih bermata berlian yang harganya aku perkirakan sangatlah mahal, jikapun aku bekerja seumur hidup juga tidak akan bisa membelinya. Dia melamarku di depan anak-anak, tepatnya di rumahku yang juga di saksikan oleh Ratih dan karyawan lainnya.
"Aku sudah yakin melamarmu dan menjadikan istriku."
"Tapi …."
Chen tahu kegelisahanku mengenai status yang sangat jauh berbeda, aku yang tidak bisa berkata-kata di lamar oleh pria yang berstatus lajang dan juga tajir melintir.
Aku gugup dan gelisah, baru saja selesai masa iddah tapi seorang pria lajang dan juga mapan melamarku yang hanya seorang janda anak dua.
__ADS_1
"Aku baru selesai masa iddah, kita seamin tapi tak seiman." Aku menolaknya secara halus, dia terlihat sempurna tapi bukan dari kalangan seorang muslim.
"Apa kamu yakin hanya itu saja alasannya?"
Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Chen. "Begitu banyak perbedaan di antara kita, dan tidak akan mungkin bersama. Lupakan aku dan juga cintamu, jalani kehidupanmu dan aku menjalani kehidupanku sendiri."
"Jadi kamu menolakku?"
Terlihat guratan kekecewaan di mata Chen, dia menekuk sedikit wajahnya dan menyeka air mata yang hampir menetes. Jujur saja aku juga merasakan hal yang sama, banyaknya perbedaan tak akan mungkin untuk bersama. Aku dan pria itu bagai langit dan juga kerak bumi.
"Maaf Chen, dan terima kasih selama ini kamu sudah banyak membantuku. Aku berdoa agar suatu saat kamu mendapatkan wanita yang lebih daripada aku."
__ADS_1
Aku menatap kepergian Chen yang wajahnya memperlihatkan kesedihan mendalam, tapi aku tidak bisa menerima pria itu.
"Aku berdoa agar kamu mendapatkan wanita yang baik, mencintaimu apa adanya," gumamku sembari tersenyum getir, ada rasa sesuatu yang sulit aku jabarkan.