Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 91


__ADS_3

Di pagi hari yang cerah, Adiba yang sudah selesai dengan tugasnya segera membangunkan Raja dan Ratu untuk pergi sekolah setelah selesai sarapan. Dia dituntut untuk menjadi pengganti Tari, ibu kandung dari anak-anak itu. Kematian dari kakak iparnya itu masih belum bisa diterima oleh suaminya, selalu berdoa bahkan di setiap seperempat malam meminta agar suaminya menyadari tanggung jawab dan berhenti sedih berkepanjangan yang sangat salah. 


Dia mengerti, kematian Tari dan Ken membuat semua orang terpuruk, hanya Huan yang beranggapan bila keduanya masih hidup. Adiba menguatkan diri dan juga mentalnya, sikap sang suami yang selalu dingin dan dia merasa kehilangan sosok humoris penuh kekonyolan yang membuatnya tertawa. 


Adiba mengetuk pintu, tidak ada sahutan membuatnya masuk ke dalam dan memanggil anak-anak ikut turun dan sarapan pagi sebelum sekolah. 


"Aunty di sini?" Raja menatap Adiba polos dan kembali menyisir rambutnya. 


"Eh, kamu sudah siap rupanya. Cepatlah turun, Aunty sudah siapkan sarapan dan juga kotak makan siang mu."


"Iya, Aunty cerewet sekali, sama seperti ibu," tutur Raja tanpa sengaja mengucapkannya, beberapa saat dia terdiam dan menyembunyikan kesedihannya, lalu tersenyum keluar dari kamar. 


Adiba tahu apa yang membuat Raja begitu. "Bahkan dia sangat merindukan ibunya, ya Allah … mengapa anak sekecil itu Engkau mengujinya juga, berikan dia ketabahan dan keikhlasan dalam menjalani kenyataan kehidupan," lirihnya yang juga meninggalkan kamar menuju kamar di sebelah milik Ratu. 


Adiba terus mengetuk pintu, namun tidak ada jawaban membuatnya sangat cemas dan panik. "Ratu … Sayang," panggilnya, kedua pupil matanya membesar di saat melihat seorang anak kecil perempuan yang terbaring lemas di atas tempat tidur. 


"Astaghfirullah hal adzim, Ratu," ucapnya yang berlari menghampiri dan melihat wajah pucat yang ditunjukkan oleh Ratu, segera dia mengecek suhu tubuh dari bocah kecil itu yang ternyata mengalami demam. "Kamu demam, Nak." 


Adiba sangat panik dan mencoba untuk menghubungi Huan, namun tidak ada respon membuatnya langsung mengambil tindakan. Dia bisa mengurus orang yang demam, berlari menuju dapur untuk mengambil sebaskom air dan juga handuk yang akan dijadikan kompres. 


"Ibu … ibu, aku merindukanmu," ucap Ratu berulang kali, tubuh yang gemetaran kedinginan di tambah lagi suhu tubuh yang sangat panas. Adiba mengompres dan meletakkan handuk kecil di kening Ratu, melakukannya beberapa kali bahkan lupa kalau dia harus mengantarkan Raja ke sekolah. 


"Astaghfirullah, aku lupa mengantarkan Raja ke sekolah." Adiba kembali menghubungi suaminya, berharap panggilannya kali ini tersambung, permasalahan yang berdatangan secara bertubi-tubi membuatnya kewalahan.


"Assalamu'alaikum." 


"Wa'alaikumsalam, ada apa?" 


"Kamu dimana? Cepatlah pulang!" 


"Ada apa?" 


"Ratu sakit." 


"Aku akan pulang." 


Adiba berlari menghampiri Raja yang tengah bersantai menghabiskan sarapannya, menatap wanita bercadar yang berlari ke arahnya. 


"Ada apa Aunty? Dimana Ratu?" tanya Raja yang celingukan mencari keberadaan adiknya. 

__ADS_1


"Adikmu demam, dia harus…."


Belum sempat Adiba menyelesaikan perkataannya, Raja lebih dulu berlari menuju kamar sang adik yang kondisinya sedang tidak baik. 


"Aunty … aunty," pekik Raja membuat Adiba ikut berlari menghampiri, teriakan yang membuatnya sangat cemas. 


"Ada apa?" tanya Adiba.


"Ratu muntah," jawab Raja yang mencoba membantu adiknya sebisanya.


Adiba mendudukkan tubuh Ratu dan menggendongnya, panas di dahi tak menurun membuatnya sangat takut. Dia berlari seperti orang kehilangan akal, menggendong tubuh gadis kecil di tangannya masuk ke dalam mobil, dan meminta sopir mengantarkannya ke rumah sakit terdekat. 


"Tolong lebih cepat, Pak!" 


"Baik Nyonya." 


Setibanya di rumah sakit, Adiba kembali menggendong tubuh Ratu diikuti oleh Raja, sedangkan sang sopir di tugaskan untuk menghubungi Huan untuk memberikan kejelasan situasi, karena dia tidak sempat bahkan memegang ponsel sekalipun. 


Di luar ruangan, Adiba dan Raja duduk di kursi tunggu untuk keluarga pasien. Mereka sangat cemas dan khawatir mengingat kondisi Ratu yang sedikit parah. 


Selang beberapa lama, Huan menghampiri mereka dan bertanya apa yang terjadi. Adiba tentunya mengatakan kejadian sebenarnya. Panik, cemas bercampur menjadi satu, perasaan itulah yang membuatnya tidak tenang sampai sekarang sebelum mendengar penjelasan dari dokter jika Ratu baik-baik saja.


"Aku sangat mencemaskannya, ini salahku karena tak memperhatikan mereka lebih detail." 


"Bukan kamu, tapi aku yang selama ini tidak memberikan perhatian dan bersikap dingin. Tolong, maafkan aku yang membuat hatimu sedih, tidak pernah terbesit di dalam hatiku mengenai apa saja yang sudah kamu lalui. Sekali lagi, tolong maafkan aku." Huan menyatukan kedua tangannya di depan dada untuk meminta maaf,belajar dari kesalahan yang pernah dibuatnya. Kemudian dia menarik tubuh sang istri dalam pelukannya. 


"Aku memaafkanmu, jangan pernah menyalahkan dirimu." 


Pelukan terlepas di saat dokter keluar dari ruangan, Huan dan Adiba mengerubungi dokter itu untuk bertanya keadaan dan kondisi Ratu. "Bagaimana Dok? Apa semuanya baik!" 


"Beruntung cepat di bawa ke rumah sakit, terlambat semenit saja maka nyawa dalam bahaya. Kondisi pasien jauh lebih baik dari sebelumnya, namun tidak bisa di bawa pulang dan harus menginap di rumah sakit selama tiga hari." 


"Baik Dok, terima kasih." 


"Sama-sama, saya permisi dulu!" 


Huan dan Adiba masuk ke dalam ruangan dan memeriksa keadaan Ratu, mereka sangat prihatin dengan kondisi gadis kecil yang sungguh malang. 


Tak sengaja mereka mendengar Ratu yang mengigau, terus memanggil ibu dan juga ayahnya. Itulah yang membuat kesedihan di hati mereka, begitu berat cobaan anak kecil yang masih membutuhkan kasih sayang seorang ibu. 

__ADS_1


Huan melirik Raja yang sudah berseragam sekolah dasar dan mengenakan tas di punggungnya. "Ayo, Paman akan mengantarkanmu ke sekolah." 


"Tidak Paman, aku di sini saja menemenami Adiba." 


Huan melirik Adiba, berharap agar istrinya membujuk Raja agar bersekolah tanpa mengkhawatirkan adiknya. Adiba yang mengetik pun segera berjongkok menyamakan tinggi mereka, berusaha membujuk anak laki-laki itu agar bersekolah. 


"Aku tidak ingin sekolah, Aunty." 


"Sekolah itu penting." 


"Tapi adikku lebih penting." 


"Aunty tahu. Kamu tidak perlu cemas, Aunty berada di sini menemani Ratu." 


Raja berpikir sejenak, kemudian mengganggu. Dia masih mengingat bagaimana mendiang dari ibunya untuk memintanya bersekolah, agar anak yang berguna di masa depan depan. "Baiklah, tapi ini sudah sangat terlambat." 


"Kamu tenang saja, Paman akan mengurus segalanya." 


"Baiklah, ayo!" 


Adiba memberikan kode dengan matanya untuk mengikuti Raja keluar dari ruangan, sementara dirinya menjaga Ratu yang masih tidak bisa ditinggalkan. Dia membelai rambut gadis kecil itu dengan penuh kehangatan layaknya seorang ibu, dan mulai berjanji pada dirinya akan menganggap anak-anak Tari seperti anak kandungnya sendiri. 


"Aku akan berusaha menjadi ibumu, sayang," lirih Adiba dan mengecup kening Ratu. 


Sementara Huan mulai berubah kembali seperti dulu, pria yang humoris, ceria, dan juga penuh kekonyolan sesuai dengan perkataan sang kakak tadi malam. Dia tidak bisa menyalahkan keadaan yang sudah ditakdirkan, kedatangan sang kakak walaupun di dalam mimpi sudah membuatnya merasa terhibur, dan dia berjanji kepada dirinya akan menjaga Raja dan Ratu dengan sepenuh hati layaknya ayah kandung. 


"Aku akan berusaha menjadi ayah kalian," ucap Huan di dalam hatinya. 


"Paman, sekolahnya kelewatan," ucap Raja yang cemberut.


"Eh, benarkah?" Huan tersenyum merutuki kebodohannya, melamun malah melupakan tujuan utama. "Kita putar balik saja, maaf ya."


"Baiklah. Sepulang sekolah antarkan aku ke toko roti ibu," pinta Raja.


"Mau apa kamu kesana?" tanya Huan penasaran.


"Mau memberikan kue kesukaan Ratu, agar dia cepat sembuh."


"Sesuai permintaanmu, Tuan Raja."

__ADS_1


"Itu terdengar konyol, Paman."


"Benar." Huan dan Raja tertawa, seakan mereka melepaskan beban di pundak.


__ADS_2