Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bab 96


__ADS_3

Huan terbangun dari tidurnya dan segera memeriksa anaknya yang menangis secara bersamaan, melihat wajah sang istri membuatnya tidak tega untuk membangunkannya. Hingga dia mencoba untuk menenangkan kedua bayinya, berusaha semaksimal mungkin. 


Huan yang masih kaku itu akhirnya berhasil memenangkan keduanya, dia kembali meletakkan anak-anaknya di tengah-tengah. Mengapa tak memakai baby box? Untuk memudahkan sepasang suami istri itu bila sang anak ingin minum ASI dan menggendong di kala menangis. 


Setelah memastikan anaknya tidur, Huan meletakkan bantal guling untuk mengantikan posisinya sementara. Apalagi menjaga anak seharian bukanlah hal yang mudah, hal itu membuatny sangat lapar. Dengan memegang perutnya, Huan berjalan keluar dari kamar, berjalan dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan si kembar. 


"Huff, akhirnya aku bisa keluar. Aku lapar sekali," monolognya seraya berjalan menuju dapur. 


Langkah Huan terhenti melihat pintu kamar Ratu terbuka, dia menjadi cemas segera berlari untuk memeriksa. "Kemana dia?" gumamnya terus memeriksa setiap sudut kamar, kamar mandi pun tak luput dari pemeriksaannya. 


Huan segera keluar karena tak menemukan keberadaan Ratu, mencoba untuk memeriksanya di kamar Raja. Saat membuka pintu kamar, melihat bagaimana kakak dan adik itu tidur saling berpelukan, dan melihat mata sembab mereka. 


"Astaghfirullah hal adzim. Karena aku sibuk mengurus si kembar, aku sampai lupa dengan keberadaan mereka. Kakak … kakak ipar, tolong maafkan aku," gumam Huan yang meneteskan air mata, melihat bagaimana kedua anak kecil yang saling menguatkan malah mengingatkannya saat bersama dengan Ken. 


Huan membenarkan posisi tidur kedua anak itu, dia membelai rambut mereka dan tak lupa mengecup kening. "Maafkan paman yang lupa dengan keberadaan kalian, dan setelah ini paman akan berusaha bersikap adil." 


Di pagi hari, Huan bersiap-siap untuk bekerja dan meminta bibi Fatimah datang kerumah agar membantu istrinya merawat anak-anak. Bukan apa-apa, sebenarnya dia telah menyiapkan segalanya, pelayan dan juga baby sitter. Banyak yang dipelajarinya saat kehamilan trimester istrinya, menjadi suami sigap dan siap di segala kebutuhan mendesak. 


"Mau kemana sudah rapi begitu?" tanya Adiba yang baru bangun, kemudian melirik jam di dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul enam pas. "Astaghfirullah, aku terlambat bangun." 


"Duduk saja dan beristirahat, tidak masalah kalau kamu bangun terlambat. Semua sudah di siapkan oleh pelayan, tidak perlu cemas." 


"Tapi aku istrimu, yang seharusnya membantumu bersiap-siap." 


"Aku mengerti keadaanmu, istirahat lah dan nikmati menjadi ibu. Oh ya, bibi Fatimah memberikan pil bersalin, katanya itu harus kamu pakai. Aku lupa memberikannya," ucap Huan yang cengengesan. Segera dia mengambil pil bersalin lengkap empat puluh hari, jamu kunyit asam dan lain-lain yang sebenarnya dia tidak terlalu hafal. "Kalau kamu tidak mengerti, bisa telepon saja bibi. Aku tidak mengerti apapun mengenai jamu-jamuan melahirkan, tahunya hanya jamu kuat," kikik nya. 


Adiba melihat isi dari kantong kresek berwarna putih, melihat banyaknya jenis jamu malah membuatnya pusing. 


"Ini masih jam enam, kamu mau mandi? Aku akan membantumu," tawar Huan. 


"Tidak, aku bisa sendiri." 


"Apanya yang bisa? Ayo, aku bantu." Huan langsung menggendong tubuh istrinya ala bridal style, masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit di dalam, dia membantu memasangkan stagen atau bakung setelah melumuri perut bagian bawah dengan jamu dari kotak pil bersalin setelah mereka membaca setiap kegunaannya.

__ADS_1


Dengan sabar Huan membantu istrinya memasang stagen yang panjangnya berapa meter, percaya dengan petuah dari bibi Fatimah.


"Sudah." 


"Terima kasih sudah membantuku, seharusnya aku yang membantumu bersiap-siap." 


"Jangan sungkan, aku akan merawatmu sampai empat puluh hari. Setelah itu kamu boleh melayaniku, sekaligus aku ingin minta upahnya." 


"Upah?" 


"Ya, aku ingin yang itu." 


Adiba mengerti itu pun merasa cemas, belum siap melayani suaminya setelah masa nifasnya selesai. Huan tertawa melihat ekspresi ketakutan tergambar, kemudian dia mencubit pipi istrinya dengan gemas. 


"Aku bercanda. Aku akan menunggu sampai kamu siap secara lahir dan batin, baru aku akan menyentuhmu." 


Huan keluar dari kamar dan memerintahkan dua baby sitter untuk memandikan bayi mereka, dia paling tidak bisa memandikan bayi, takut bayi itu kelelep air. Entahlah, entah bagaimana pemikirannya, yang jelas takut memandikan bayi mungil sebelum tali pusarnya belum tanggal. 


"Tadi malam, aku lapar dan mau ke dapur. Tapi tidak sengaja melihat Raja dan Ratu tidur sambil berpelukan, mata mereka sembab." 


Huan menghela nafas. "Iya, aku merasa bersalah. Padahal sudah berjanji untuk menjaga dan menyayangi mereka secara adil." 


"Aku akan mengurus keperluan sekolah mereka." Adiba berusaha untuk berdiri, namun di cegah oleh suaminya. 


"Jaga saja si kembar, aku yang akan mengecek mereka." 


Huan keluar dari kamar dan memeriksa kedua keponakannya yang ternyata sudah bersiap-siap, dia langsung mengarahkan mereka ke meja makan untuk sarapan. 


"Kotak makan siang kalian sudah disiapkan pelayan, makan dan habiskan nanti." 


"Iya Paman," jawab kedua bocah itu dengan lesu. 


Seorang pria mengikuti kemana Huan membawa anak-anak, menggunakan jasa ojek mengikuti mereka yang ternyata sampai ke sekolah. Angga tahu kalau pria yang tinggal bersama anak-anaknya sudah memiliki bayi, informasi yang didapat dari penjaga yang berganti shift. 

__ADS_1


"Ini kesempatanku untuk bertemu anak-anak," gumamnya dengan segudang rencana agar bisa hidup enak dengan menggunakan harta dari mantan istrinya. 


Huan melambaikan tangan setelah dia memastikan kedua keponakannya masuk ke dalam gerbang, namun matanya yang jeli melihat seorang pria yang tidak asing tengah menatap Raja dan Ratu. 


"Dia lagi," dengus kesalnya. "Apa dia tidak kapok berurusan denganku?" Segera Huan mengeluarkan ponselnya menghubungi orang suruhan, tentu saja untuk memantau kedua keponakannya dari ayah kandung yang serakah dan juga tamak. 


"Iya tuan, ada yang bisa saya lakukan?" 


"Ada pekerjaan untukmu. Awasi pria yang mengintai kedua keponakanku, jika dia membawa keponakanku ataupun menyulitkan? Kamu boleh memberinya pelajaran, kalau perlu patahkan kakinya." 


"Baik tuan." 


Huan tidak bisa mengabaikan keamanan dan juga keselamatan dari Raja dan Ratu, bersikap menjadi pria kejam pada musuh yang mengancam keluarganya. 


"Jalankan mobilnya!" perintah Huan yang menatap lurus. 


"Baik Tuan." 


Huan kembali ke mode pria kejam, jika salah satu karyawan melihat kepribadiannya yang berubah-ubah seperti bunglon, pasti mereka mengira kalau sang atasan memiliki kepribadian ganda. Bukan apa-apa, jika dia bersikap seperti yang ditunjukkannya kepada keluarga kecilnya maka itu akan membuat para musuh dan juga yang lain akan merendahkannya, menjadi pria arogan agar semua orang takut dan tunduk padanya. 


Baru saja Huan masuk ke dalam ruangannya, tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Dia segera menoleh dan melihat asistennya berdiri di daun pintu.


"Masuklah!" 


"Ada apa?" tanya Huan yang menunjukkan dirinya di atas kursi kebanggaan milik sang kakak, dia membenarkan jas yang sedikit kurang rapi sambil menatap asisten. 


"Seseorang ingin menemui anda, Tuan."


"Apa? Ini masih pagi tapi sudah ada tamu?" Huan mengerutkan kening merasa tidak percaya dan sekaligus penasaran siapa tamu yang ingin mengunjunginya. "Suruh dia masuk!" 


"Baik Tuan." 


Sontak kedua pupil mata Huan membesar, menatap seseorang yang masuk ke ruangannya. 

__ADS_1


"Kamu?" 


"Hai, senang bertemu denganmu lagi," tutur orang itu yang menyeringai. 


__ADS_2