Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Pertengkaran Angga dan Siska


__ADS_3

Prank! 


Terdengar suara vas bunga yang pecah di harapan Angga, dia yang sedang menikmati secangkir kopi juga gorengan tersentak kaget, hampir membuat dia tersedak ubi goreng. Dengan cepat dia menyeruput kopi dan meneguknya, menatap sang pelaku yang tak lain adalah Siska. Dia menelan saliva, kedua mata istrinya terbelalak seakan keluar dari tempatnya. 


"Gak sopan banget kamu sekarang, suami lagi ngopi malah di kagetkan." Gerutu Angga sambil menggigit ubi goreng. 


"Heh, Mas. Harusnya kamu itu sadar diri dong, pengangguran banyak gaya, bisanya cuma umbar janji." Siska sudh sangat lelah melihat sikap suaminya yang acuh dan bahkan tidak memberinya uang membeli kebutuhan. 


"Sabar dong Sayang, aku juga udah usaha." Perkataan Angga melembut, memperlihatkan senyuman di wajahnya. 


"Enak banget kamu Mas, duduk santai di rumah tanpa melakukan apapun. Makan gratis dan tidak memikirkan biaya pengeluaran, belum lagi perhiasan aku dijual semua." Siska mengeluarkan unek-unek yang ada di hatinya, sangat kesal melihat suaminya yang sudah satu bulan tidak membiayainya. Sebelum mendapatkan pekerjaan baru, dengan terpaksa menjual perhiasan untuk menyambung hidup. Dia bekerja memenuhi kebutuhan, dan itu sangatlah kurang karena gaya hidupnya yang tinggi. 


Puncaknya berada di saat melihat Angga yang duduk diam di rumah bahkan tidak melakukan pekerjaan rumah sama sekali, menganggap jika suaminya itu hanya benalu yang tak berguna.


Siska bertolak pinggang. "Aku menikah sama kamu karena capek bekerja, tapi kenyataannya apa? Setelah menikah pun aku juga bekerja, masih mending waktu aku menjanda yang memenuhi kebutuhanku sendiri." Ucapnya sombong merendahkan suaminya. 


"Yaelah, baru satu bulan sudah sewot aja, sabar itu sebagian dari iman. Aku berjanji pasti mengganti semua uangmu setelah aku mendapatkan pekerjaan."


"Sekarang apa? Bekerja apa aja kek, jangan terlalu banyak memilih. Kalau begini suap nasi bukan arah belakang, tapi arah belakang." Sentak Siska yang sudah tidak tahan hidup melarat, padahal dia baru di uji selama satu bulan. Banyaknya permintaan sang istri, Angga berpikir untuk pinjam online. "Buktinya apa? Sampai sekarang aja Mas masih nganggur, pasti Mas malas-malasan dan memilih nongkrong tempat lain." Siska menyipitkan kedua matanya menatap sang suami yang ahkan mengacuhkan perkataannya.


"Tuduh terus! Mentang-mentang aku tidak bekerja tapi seenaknya kamu menginjak harga diriku." Telinga mulai memanas, tidak terima bila harga dirinya di injak seperti seonggok kotoran. 


"Tidak perlu sombong deh Mas, sok-sok mengatakan harga diri tapi isinya zonk." Seringainya yang merendahkan sang suami. 

__ADS_1


Brak!


Angga menggebrak meja dengan keras, tidak peduli jika istrinya terlonjak kaget. Kesabarannya juga ada batasnya, Siska yang sudah sah menjadi istrinya itu tega melakukan penghinaan yang paling dia benci. 


"Eh, hati-hati kalau ngomong. Biarkan aku pengangguran, tapi aku ini masih suamimu pemimpin rumah tangga." Angga tidak terima jika Siska menuduhnya dan menghina dirinya, pertengkaran itu membuat kepalanya pusing karena watak Siska dan juga Tari sangat berbeda, sekilas dia membandingkan keduanya. Terbesit di pikirannya penyesalan, namun nasi sudah menjadi bubur dan tidak akan pernah kembali lagi. Tidak ingin istri yang pernah dia jatuhkan talak satu bersama dengan pria lain, dengan tidak menandatangani surat perceraian itu dan menggantung hubungannya dengan Tari.  


"Hormat sedikit sama suami, jangan durhaka kamu!" Angga sudah bisa mengontrol emosinya, menurutnya Siska sudah melampaui batas. 


"Alah … hari gini ngomongin durhaka. Tapi diri sendiri tidak memberikan nafkah, suami macam apa begitu kalau bukan beban." 


"Lancang kamu!" Angga mengangkat tangan hendak tamparan di wajah Siska yang kurang ajar, namun terhenti saat wanita di hadapannya dengan berani memajukan wajahnya, seperti memberikan kode yang artian nya 'silahkan tampar aku'.


"Aargh." Angga menarik kembali tangannya, memukul udara sebab kepuasannya belum tercapai. Omelan yang selalu merendahkannya membuat dirinya sakit hati, memilih pergi dari rumah itu menunggu semuanya kembali. 


"Lihat saja kamu mas, hanya benalu namun lagaknya seperti orang kaya. Suami tidak berguna sepertimu harus aku campakkan, hanya buang-buang waktu." Segera Siska berjakan menuju kamar, meraih koper yang ada di atas lemari, dan segera menyusun pakaian yang rapi tersusun di dalam lemari. Dia merasa dirinya yang paling pintar dan tidak tahu jika apa yang terjadi adalah karma kelas apa yang mereka lakukan. 


Pakaian itu bukan milik Siska, melainkan milik dari suaminya yang sudah tidak berguna lagi seharusnya dia bersenang-senang dan tidak menghabiskan waktu menunggu sampai Angga mendapatkan pekerjaan tetap."


Orang-orang yang berada di tempat karaoke seakan menarik perhatiannya, kedua mata saling bertemu, Angga memilih untuk bersenang-senang. 


****


Sudah lama aku tidak menghubungi Lisa, ada rasa kerinduan di dalam hati kalau dia tidak ada di samping. Air matanya meneteskan. rasa sakit dari adik tengah membuatku segera mencoret punggungnya sebagai team. 

__ADS_1


Aku selalu berusaha dan menghubungi Lisa ke nomor telepon yang pernah dia menelponku, tapi sekarang nomornya sudah tidak aktif lagi aku pun bingung mau mencarinya ke mana, tidak ada alamat pasti namun aku selalu berdoa demi kebaikannya dan selalu di dalam lindungan. 


Hari ini aku tidak membuat adonan kue, karena libur untuk dua hari ke depan.  Aku menggunakan masa cuti itu dengan sebaik mungkin, mencari keberadaan Lisa dan berharap dapat menemukan clue. 


Baru saja aku keluar dari rumah, tak sengaja melihat keberadaan seseorang yang dipenuhi beberapa luka di wajah. Ada juga luka lebam di lengannya. Aku yang menyadari kalau itu Lisa segera berlari menghampirinya, melihatnya yang menangis tersedu-sedu seakan yang dilewatinya adalah hak sangat berbahaya. 


"Lisa … Lisa, apa yang terjadi sama kamu? Dan dimana suamimu?" 


Lisa menangis sambil bersimpuh di kaki Tari, dia menangis terisak memikirkan nasibnya yang malang. 


"Mba, maafkan semua kesalahanku … tolong ma-maafkan aku." Lisa sangat menyesal sambil menyatukan kedua tangannya, berharap Tari mau memaafkan kesalahannya. Dia mulai belajar mengapa wanita di hadapannya itu memintanya untuk melakukan pekerjaan rumah, salah satunya tidak akan terkejut bila sudah menikah nanti. 


Ayo kita masuk dulu!" Aku menarik lembut tangan Lisa, menurutnya tidak ada kata-kata terlambat untuk meminta maaf 


Seluruh ruangan merasakan kepiluan hati dari Lisa yang ternyata disiksa oleh suaminya dia tidak tahu jika kekerasan itu membuat mental seseorang menjadi down.


Terlihat guratan rasa amarah, kejam, ambisius, tapi dibalik itu semua Iren tetaplah wanita yang masih memiliki keberuntungan yang tidak semua orang memilikinya ataupun mendapatkannya. 


Gubrak!


Kedua orang itu sangat terkejut, mendengar pintu yang ditendang dengan kuat. 


"Jadi kamu di sini?" ucap Rusli yang memberikan kode kepada bawahannya untuk menangkap Lisa. 

__ADS_1


__ADS_2