Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Seperti pengemis


__ADS_3

Aku tersenyum senang karena hari ini mas Angga gajian, dan itu aku bisa berbelanja membeli susu formula juga kebutuhan yang lainnya. Aku terus menunggu suamiku itu pulang ke rumah, sudah tidak sabar karena persediaan sudah menipis dan bahkan susu untuk Raja dan Ratu sudah habis. Aku berjalan mondar-mandir seperti setrikaan dan itu di lihat jelas oleh ibu mertua. 


"Tari, kamu kenapa bolak-balik? Kamu sedang nunggu apa?" 


"Mas Angga, Bu." Jawabku bersemangat dan tersenyum sumringah.


"Tahu aja kalau anakku sekarang gajian." 


Sindiran dari ibu tak mematahkan semangatku, aku tak peduli karena memang membutuhkannya untuk membeli susu formula yang sudah habis. 


"Aku pulang." 


Suara itu yang ingin aku dengar, aku menyambut mas Angga dengan sangat baik dan memberinya teh hangat. "Ini Mas." 


"Tumben kamu baik samaku."


"Ya, karena dia tahu kalau hari ini kamu gajian."


Aku yang mengharapkan gaji suamiku menjadi tercengang di kala Mas Angga memberikan semua gajinya kepada ibu, aku bingung dan masih mencerna apa yang baru saja aku lihat.

__ADS_1


"Mas?" 


"Oh, aku lupa bilang sama kamu kalau semua gajiku akan di pegang oleh ibu." 


Deg


Tanpa konfirmasi dulu padaku mas Angga mengambil keputusan yang sangat membuatku terkejut, dia tidak membicarakannya membuatku semakin merasa kalau hidupku tidaklah berarti. 


"Kok kamu gak bilang dulu sama ku sih Mas?" 


"Ini aku juga udah bilang, ibu yang akan mengelola keuangan dan kamu tinggal terima beres." 


"Gaji Mas banyak juga, tapi mengapa kamu cuma memberiku enam ratus ribu?" 


"Sisanya sudah aku berikan pada ibu, kamu seharusnya banyak bersyukur dan bukannya mengeluh. Banyak di luar sana yang nasibnya lebih buruk darimu." 


"Iya Mas. Aku butuh uang Mas, untuk beli keperluan anak-anak."


"Minta sama ibu." 

__ADS_1


Aki mengalihkan perhatianku pada ibu mertua yang sedang menghitung semua total gaji suamiku, aku seperti orang asing yang meminta haknya. 


"Bu, aku butuh uang untuk beli susu Raja dan Ratu." 


"Ini." 


Aku terkejut dengan nominal yang di berikan oleh ibu mertuaku, hanya lima puluh ribu manalah cukup membeli susu. "Ini kurang Bu." 


"Alah, kasih aja mereka susu kental manis. Ibu juga gitu kok, Angga Ibu kasih susu kental manis." 


"Tapi itu bukan susu dan tidak baik untuk kesehatan kalau di konsumsi secara terus-menerus." 


"Kamu tuh cerewet banget sih, kalau kurnag pake dulu uang tabunganmu. Bukankah dulunya kamu TKW di Taiwan?" 


Aku meminta hakku sudah seperti pengemis, melirik mas Angga berharap dia membelaku tapi nyatanya hanya cuek tak menganggap dan tidak pedulikan perasaanku. 


Aku segera pergi, sudah sering aku mengambil uang yang sudah bersusah payah aku simpan. Namun uang itu perlahan habis karena menutupi biaya kebutuhan yang selama ini tidak pernah tercukupi. 


Jujur saja kalau aku sudah tidak tahan dengan ini, ingin sekali aku bercerai dari mas Angga tapi ku tahan demi anak-anakku yang masih membutuhkan seorang ayah.

__ADS_1


__ADS_2