Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Bertemu Chen


__ADS_3

Kedua anakku lagi aktif- aktifnya, aku tidak bisa menjaganya dan meminta bantuan Ratih untuk menjaga mereka, sedangkan aku pergi ke swalayan untuk membeli bahan-bahan karena di sana lebih lengkap di bandingkan pasar. Aku merasa aman jika Ratih yang menjaga anakku sementara aku pergi, untung saja mereka sudah terbiasa dengan kehadiran karyawan pertamaku. 


Aku sibuk memilih bahan dan juga harganya, memberikan yang terbaik untuk konsumen agar mereka menjadi pelanggan setia. Banyaknya pesanan membuatku sedikit kelimpungan, beruntung aku memiliki karyawan  yang berjumlah tiga orang. 


Aku yang melihat daftar bahan yang harus di beli membuatku kehilangan fokus, tak sengaja aku menabrak menyenggol seseorang dan dengan cepat aku meminta maaf padanya. "Maaf, aku tidak sengaja." 


"Tidak masalah. Tari? Kamu Tari bukan?" 


Aku menatap wajahnya sekali lagi dan berusaha mengingatnya, tapi aku tidak tahu siapa pria itu. "Maaf, apa kita saling mengenal?" 


"Kita pernah bertemu di Taiwan." Jawab pria itu yang bersemangat. 


Aku berusaha mengingatnya, banyak orang yang aku temui di Taiwan tapi tidak pernah merasa mengingat wajah pria tampan di hadapanku. 


"Maaf, sepertinya aku melupakanmu." Jawabku yang merasa tak enak. 


"Aku Chen, kamu pernah menolongku yang waktu itu terluka." 


Hah, akhirnya aku ingat kalau pria itu pernah aku tolong. Ya, pertemuan terjadi di Taiwan. Kecelakaan yang tidak sengaja terjadi di depan mataku sendiri, berinisiatif untuk menyelamatkan seorang pria yang terjebak di dalamnya dan membawanya langsung ke rumah sakit. Aku lupa namanya bukan berarti lupa kejadian yang entah beberapa tahun lalu. 


"Iya, gimana kabar mu?" tanyaku, tidak mungkin aku memanggilnya dengan sebutan 'mas' karena pria itu berasal dari Taiwan bukan dari Indonesia, tapi dia paham dan bisa berbahasa Indonesia. 


"Aku baik." 

__ADS_1


"Kamu sedang belanja apa?" tanyanya yang melirik stroller belanjaku. 


"Bahan-bahan kue. Kamu di Indonesia?" 


"Ya, untuk beberapa tahun kedepan aku menjalankan bisnis di sini." 


"Hem." Aku tersenyum dan kembali melanjutkan aktivitasku, namun aku merasa kalau Chen mengikutiku. "Apa kamu butuh sesuatu?" tanyaku yang menoleh ke arahnya. 


Chen menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Apa aku boleh ikut?" 


"Ikut?" 


"Aku hanya bosan saja, boleh aku ikut bersamamu?" 


Senyuman di wajah penuh harap membuatku menghela nafas, dia membayar semua belanjaanku membuatku merasa sungkan. 


"Tidak perlu, aku bisa membayarnya." 


"Hanya sesekali, sekalian aku membayar belanjaanku." 


"Tapi ini sangat banyak." Aku heran, Chen hanya membeli beberapa cemilan dan juga dua botol minuman dingin. Sementara belanjaanku sekitar empat kantong plastik berwarna putih berukuran besar. 


"Hanya sesekali mentraktirmu." 

__ADS_1


Aku hampir berteriak di saat dua orang pria berbaju hitam membawa barang belanjaanku, namun Chen menghentikanku dan mengatakan kalau itu adalah bawahannya yang membantu mengangkat semua belanjaan masuk ke dalam mobil. 


Sekali lagi aku terkejut, mobil hitam yang mewah ada di hadapanku. Chen membuka pintu untukku dan mempersilahkanku masuk, lalu kemudian dia masuk dan duduk di sebelahku. 


Aku merasa ini sangat berlebihan, apa yang tetangga aku pikirkan nanti.


"Ada apa?" tanya Chen yang melihat kegelisahanku. 


"Sebaiknya aku naik angkot saja." 


"Angkot? Fungsinya sama saja, duduk dan diamlah." 


Aku menelan saliva berhati-hati agar tidak membuat baret atau apapun yang membuat mobil mewah itu tergores, membuka sandal dan menentengnya malah membuat Chen tertawa. 


"Kamu sedang apa?" 


"Hah? Hanya berhati-hati." 


"Pakai saja sandalmu!" 


"Ta-tapi." 


"Masih banyak mobil yang seperti ini, lupakan dan pakai saja tanpa mengingat baret ataupun tergores. Kami lucu sekali, Tari. Aku suka itu." 

__ADS_1


"Orang kaya mah bebas." Gumamku di dalam hati, sambil menutupi wajahku yang menahan malu. 


__ADS_2