
Hatiku sakit dan juga perih melihat perlakuan Lisa yang memukul tangan anakku, jika mereka tidak ingin berbagi setidaknya tidak makan di sini. Aku buru-buru menghampiri putraku yang menangis karena terkejut tangannya dipukul, padahal anakku hanya ingin minta sepotong brownies.
Aku menggendong tubuh Raja seraya menenangkannya, hati ibu mana yang tega anaknya di kasari apalagi anakku masih sangat kecil dan tidak tahu apapun.
"Cup … cup, jangan nangis ya Sayang." Ucapku pada Raja, namun mataku tertuju pada Lisa yang tidak menghiraukan keponakannya yang menangis, bahkan ibu juga diam saja.
"Apa sepotong brownies mampu membuatmu memukul anakku?" tanyaku tegas, kutatap Lisa dengan wajah garangku.
"Salahin anaknya, seharusnya Mba ngajarin anak baik-baik bukan malah mengajarkan mencuri."
"Dia masih kecil, apa salahnya meminta sepotong kue coklat. Apakah sepotong kue coklat itu lebih berarti? Kamu bahkan membelinya tiga kotak."
Lisa menatapku sepertinya tidak menyukai perkataanku, begitupun dengan ibu yang juga mengintimidasinya ku.
"Ini uangku dan ibu, ya terserah kami mau apakan dan pada siapa harusnya berbagi. Mba dan anak-anak gak termasuk dalam daftar."
__ADS_1
Hatiku semakin meledak di buat Lisa, terasa amat menyesakkan. Aku menarik tangannya dengan sangat kuat sampai dia berdiri dengan terkejut, aku heran darimana mendapatkan kekuatan sebesar itu padahal sedang menggendong Raja. Hingga aku menyadari kalau ini kekuatan dari seorang ibu yang hatinya di sakiti melihat anaknya di perlakukan tidak adil.
"Sakit Mba, kasar banget sih."
"Aku kasar ada sebabnya. Oh iya, ini rumahku dan semua yang ada di sini adalah milikku. Jika ingin tinggal di sini maka ikuti semua peraturanku, atau tidak? SILAHKAN PERGI ANGKAT KAKI." Tekanku yang menatapnya kejam.
Seketika Lisa dan ibu ternganga melihat aku yang begitu berani melawan mereka, tidak ada ampun bagi siapapun yang menyakiti anakku. Jika tidak ingin berbagi setidaknya mereka makan sembunyi, hanya sepotong brownies coklat dia mampu memukul tangan anakku yang usianya masih satu tahun lima bukan.
Aku bergegas pergi meninggalkan ruangan, masuk menuju kamar dan aku mencoba membujuk Raja yang kembali menangis dan merengek meminta kue coklat. Hatiku sakit dan sangat terluka, aku tidak masalah kalau mereka tidak menganggapku tapi setidaknya anggaplah anak-anakku ada.
"Mas ada uang?" aku terdesak, bahkan belum sempat suamiku duduk aku malah meminta uang. Mas Angga memperhatikan wajahku yang cemas juga suara tangisan Raja yang tidak mau berhenti.
"Aku ada dua ratus ribu." Mas Angga langsung memberikan aku uang dua lembar berwarna merah, dia tahu kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Palak terus," sindir ibu mertua yang hanya ku anggap kentut busuk lewat.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku ingin buat brownies untuk Raja, dia sangat ingin memakannya sampai menangis, dan aku tidak tega."
"Bujuk saja Raja."
"Sudah Mas, dia menangis minta kue." Air mataku berderai karena itu.
Angga melihat banyaknya kantong plastik yang berisi makanan dan juga berbagai macam brownies. "Itukan ada."
"Tanyakan saja pada adikmu, Mas."
Aku buru-buru keluar dari rumah menuju warung untuk membeli semua bahannya, tidak peduli kalau aku di cap sebagai istri tukang mengadu pada suami.
"Semoga kalian tidak merasakan apa yang aku rasakan." Batinku sebagai seorang ibu yang tersakiti.
__ADS_1