Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Aku bukan pembantu


__ADS_3

Sesampainya di rumah, aku segera meletakkan kedua anakku ke atas tempat tidur. Aku menatap wajah anak-anakku dengan sedih yang terpaksa membawa mereka, aku khawatir meninggalkan mereka di dalam rumah tanpa pengawasan, karena Ibu dan juga Lisa tidak ingin membantuku walau sedikitpun. 


Aku menyandarkan punggung dan merasakan kedua pergelangan tangan ku sakit, karena harus menggendong mereka dan juga membawa kue-kue pesanan customer. Walau bagaimanapun, aku tidak ingin mengeluh dan akan terus berusaha demi masa depan anak-anakku dan juga pendidikannya. 


Aku tidak tega membangunkan Raja, menunggunya hingga bangun dan barulah aku memberikannya makan. Aku yang hendak beristirahat terkejut di saat mendengar suara ibu yang berteriak saat melihatku duduk di kursi.


"Bagus ya kamu, sekarang sudah lalai mengerjakan pekerjaan rumah. Rumah tidak akan bersih dengan sendirinya dan piring serta pakaian tidak akan bisa mencuci dirinya sendiri. Keranjang kain kotor sudah penuh, cepat cuci sana!"


"Aku sangat capek, Bu. minta saja Lisa  melakukannya, karena di dalam keranjang kotor tidak ada pakaian ku maupun pakaian anak-anak."


"Ibu memanjakan Lisa dan tidak akan memintanya untuk melakukan pekerjaan rumah, jadi kamu harus sendirilah yang melakukannya."

__ADS_1


Aku mendengus kesal karena saat ini aku benar-benar lelah dan tidak punya tenaga untuk pekerjaan rumah. "Dan mulai sekarang buatlah dia mengerti agar mau mencuci bajunya sendiri, tidak perlu meminta orang lain, kalau tidak mau ibu tinggal membawanya ke laundry-nya." Jawabku yang berlalu pergi meninggalkan tempat itu, tidak peduli bagaimana ibu mertuaku memaki ku karena kesal.


Jika pakaian ibu mungkin aku sudah mencuci bersih tanpa diminta sekalipun, tapi tidak untuk mencuci pakaian adik iparku sendiri. Kalau pengajaran ibu yang memanjakannya, berbanding terbalik dengan peraturan yang sudah aku buat. 


"Bu … aku minta uang, aku mau jalan sama temen-temen." Lisa menadahkan tangan dan memasang raut wajah memelas, berharap mendapatkan uang dari ibunya.


Sang ibu yang begitu memanjakan putrinya itu mengeluarkan uang kertas berwarna merah berjumlah lima lembar, tentu saja Lisa tersenyum karena kali ini dia bisa berfoya-foya menghabiskan waktu di luar karena di dalam rumah mengikuti aturan dari kakak iparnya membuat kepalanya sangat pusing.


Belum sempat wanita paruh baya itu beranjak dari tempatnya, Lisa berteriak memanggil dirinya. 


Terlihat Lisa yang sangat uring-uringan, karena di lemari pakaiannya tidak ada pakaian yang cocok. "Pakaian aku kok belum dicuci?"

__ADS_1


"Ibu sudah meminta kakak iparmu untuk mencuci pakaianmu, tapi dia menolaknya dan menyuruhmu untuk melakukannya sendiri."


Lisa menghentakkan kedua kakinya dengan kesal, karena sang kakak ipar yang tidak mencuci pakaiannya dengan terpaksa dia menunda foya-foya bersama temannya karena tidak memiliki pakaian yang cocok.


Aku mengambil kesempatan dengan menyetrika bajuku dan anak-anak, agar terlihat lebih rapi dan nyaman untuk dikenakan. Namun aku sangat terkejut di saat tumpukan pakaian menenggelamkanku, aku segera melihat siapa dalang di balik semua ini yang ternyata adalah adik iparku sendiri.


"Gara-gara Kakak, aku tidak jadi pergi keluar."


"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan, sampai membuatmu kurang ajar?"


"Cuci pakaian kotorku sekarang juga!"

__ADS_1


Aku sangat kesal karena dia menganggapku hanya sebagai pembantu, tidak punya tata krama dan bahkan tidak menghormatiku sebagai kakak iparnya. Aku yang kesal itu melempar kembali pakaian yang dia tumpuk sembarangan ke arahku, tidak peduli bagaimana marahnya dia.


"Aku bukan pembantumu! Cuci saja pakaianmu sendiri. Kalau tidak suka, silakan pergi dari rumahku!" ancam ku yang tidak main-main.


__ADS_2