Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Rencana yang di ketahui


__ADS_3

"Ini teh nya!" aku meletakkan dua cangkir teh di atas meja, di sertai cemilan. Duduk bersama sebagai sang empunya rumah, mereka saling memberikan bahasa isyarat lewat mata yang sepertinya tidak menyukaiku ikut bergabung bersama mereka. 


"Kamar aku sudah siap Mba?" 


"Di rumah ini hanya ada dua kamar, jadi kamu tidur sama ibu." Jawabku dengan lugas, ku perhatikan ibu mertua yang tidak senang dengan jawabanku. 


"Ini oleh-oleh untuk Raja dan Ratu." Ibu memberikan satu paper bag dan aku menerimanya. "Sepertinya kamu gak butuh oleh-oleh, jadi untuk Ibu saja ya." Ucapnya dengan semangat. 


"Kalau Ibu suka silahkan di ambil," aku tersenyum semakin membuatnya bertambah kesal karena tak bisa menarik emosiku keluar. 


"Tentu." Ibu sangat senang mendapatkan hadiah dari anaknya yang pulang dari perantauan, mereka mengobrol dengan sangat asyik sampai lupa kalau aku ada di antara mereka. Ya, mereka tidak menganggap keberadaanku ada. 


"Eh, lupa bawa Mba Tari ngobrol." 


Aku tahu itu di sengaja, tapi aku membalasnya dengan senyuman. 


"Ada kabar baik buatmu." 

__ADS_1


"Kabar baik apa Bu?" tanya Lisa yang menatap ibunya. 


"Tari hamil." 


Aku tidak ingin berburuk sangka, tapi inilah yang terjadi. Aku tahu Ibu sedang menyindirku karena hamil lagi, dua anak yang masih kecil-kecil membuat aku menjadi bahan obrolan yang menarik. 


"Apa? Hamil?" 


Ku lihat raut wajah Lisa seakan tak percaya, dan berpikir mengapa kakak iparnya tidak memikirkan kedua keponakannya yang masih sangat kecil dan sekarang tengah berbadan dua. 


"Alhamdulillah, itu rezeki dari sang Khalik." 


Aku tidak bisa menahan amarahku, mengapa harus aku yang menerima semua ini, padahal ini karena ulah kakaknya yang melarangku memakai KB jenis apapun, dengan dalih takut tubuhku gendut. 


"Sebelum tahu kebenarannya, jangan cepat menyimpulkan sesuatu." Ucapku dengan tegas. 


"Kalau kamu tidak lalai dan memakai KB mungkin ini gak bakalan terjadi." Celetuk ibu yang ikut memanasi suasana yang sudah panas saat kedatangan Lisa ke rumahku. 

__ADS_1


"Inilah yang di mau mas Angga, aku tidak akan menyalahkannya karena anak adalah titipan. Aku dan suamiku akan menjaganya dengan sepenuh hati, memberikan kasih sayang yang seimbang."


"Kamu lihat sendiri kan, dia berubah menjadi wanita sombong semenjak ibu tinggal di rumah ini." Adu ibu mertua.


"Sudah terlanjur basah. Jadi aku akan mengatakan kepada kalian untuk tidak ikut campur dalam urusan rumah tanggaku, kalau masih ingin tinggal di rumah ini." Kecamku, sudah cukup selama ini mereka merendahkan dan menghinaku, sekarang tidak lagi. 


Diam-diam Lisa meremas ujung bajunya dengan erat, perkataan sang kakak ipar memancing amarahnya. Dia tahu kalau sekarang posisi mereka hanyalah menumpang, dan berniat merebut rumah ini dan mengusir Tari yang menurutnya sangat sombong.


Keduanya terdiam dan melihat punggung Tari yang mulai menjauh, mereka sangat kesal karena bukan merekalah pemilik rumah. 


"Gimana ini Bu? Darimana wanita sialan itu mendapat keberanian?" 


"Itu karena kakakmu, dia sudah memelet Angga sampai berani melawan ibu dan membelanya." 


"Ibu tenang saja, aku di sini untuk membuatnya menderita dan mengambil alih rumah ini." 


Wajah cemberut wanita paruh baya itu seketika berubah senyum sumringah. "Iya, ibu tidak sabar menunggu hari itu tiba dan mengusirnya." 

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, kalau Tari mendengar semua obrolan ibu dan anak. Dia hanya terkekeh karena sudah menyiapkannya dengan matang. 


__ADS_2