
Aku sangat bersyukur karena di berikan rezeki, beberapa ibu memesan bolu gulung dengan topping penuh. Aku menerima uang muka untuk ku belikan bahan-bahannya, tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih Bu Aida."
"Iya, jangan lupa pesanannya besok pagi saya ambil!"
"Iya Bu." Jawabku yang tersenyum sambil menggendong Ratu dan juga Raja, karena tidak ada yang menjaganya dirumah. Aku sudah minta tolong pada Lisa atau ibu, tapi berbagai macam alasan menolak permintaan tolong ku.
"Lah, bukannya Lisa di rumah ya!"
Aku tersenyum dan berpikir jawaban apa yang ingin aku berikan. "Dia sibuk Bu."
"Ahh, sibuk gimana? Ibu lihat dia cuma main ponsel dan berhias, tadi tidak sengaja ibu berpapasan dengannya."
Aku tersenyum paksa, tidak mungkin mengumbar permasalahan ku pada orang lain, apalagi menurut riset sembilan puluh persen bertepuk tangan mengenai yang aku alami, dan sepuluh persennya bersikap simpati, sangat berat di cobaan.
"Kamu terlihat seperti orang hamil, kamu beneran hamil ya?"
__ADS_1
Ucapan dari bu Aida membuatku terdiam lama. "Iya Bu, aku hamil."
"Kok mau hamil sih Tari? Kamu gak kasihan sama kedua anakmu yang masih kecil-kecil? Atau kamu gak pakai KB sampai kebobolan begitu?"
Serentetan pertanyaan dari bu Aida membuat kesabaranku kian terkikis, mengapa semua orang selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Aku juga tidak ingin hamil, hal itu malah memperburuk keadaanku. Hati ibu mana yang tidak sedih, seharusnya anak minum ASI, tapi dengan terpaksa aku memberikannya susu formula sebagai pengganti.
"Anak adalah titipan, Ibu."
"Tapi bisa di cegah dengan KB."
Aku paling malas jika sudah membahas mengenai program keluarga berencana ini, soalnya kehamilan ini juga tidak di sangka-sangka.
Ingin sekali aku marah, tapi mengingat dia adalah customer yang memesan bolu gulung padaku, dengan terpaksa aku mengurungkan niat agar tidak menimbulkan kerugian.
"Iya, saya pergi dulu ya Bu, mau antar pesanan customer kemarin." ucapku seraya berlalu pergi meninggalkan tempat itu, dari nadanya yang penasaran membuatku sangat risih.
Aku melangkah pergi menggendong kedua anakku, gerakan cepat melangkah agar aku mengantarkan semua pesanan customer tepat pada waktunya, dan juga menghindari siang hari yang terik.
__ADS_1
Beberapa orang yang sudah mengetahui kehamilanku, ada yang mencibir dan ada yang bersimpati.
"Ini rezeki anakmu, di terima."
Aku menolak uang lebih yang di berikan ibu Tuti, tapi dia memaksakan kehendak dan memasukkannya ke dalam saku ba baju Raja, semua tanganku di isi hingga menyulitkan aku.
"Gak usah Bu."
"Terima saja Tari, hitung-hitung beli popok anakmu."
Sungguh aku tidak menyukai keadaanku, sekarang mendapatkan simpati, lebih baik aku mendapat cacian saja karena tidak ada bebannya.
"Baiklah kalau Ibu memaksa, terima kasih Bu."
"Sama-sama, jaga kesehatan kamu Tari. Kamu itu lagi hamil, tidak seharusnya mengangkat berat. Menggendong dua anak dan juga kue-kue itu, apa tidak ada orang yang bisa menitipkan anak-anakmu."
Aku menggelengkan kepala sedih, bekerja sambil membawa anak sangatlah menyulitkan. Namun aku tidak bisa terus mengeluh, demi menghidupi anak-anaknya dan juga menyimpan sebagian keuntungan untuk masa depan mereka.
__ADS_1
"Daripada kamu menjual berkeliling, sebaiknya kamu posting saja di aplikasi online. Itu lebih menguntungkan di zaman sekarang ini!"
Aku tersenyum sumringah, ide yang tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Pertemuanku dengan bu Tutu menjadi ide yang sangat praktis, bisa merawat anak sekaligus mencari uang.