Akibat Dilarang KB

Akibat Dilarang KB
Karma Lisa


__ADS_3

Setelah kejadian itu dan aku mengusir mas Angga dari rumahku setelah dia mengucapkan kata talak, disana lah aku mulai disibukkan dengan aktivitasku membuat pesanan kue yang membludak. Aku merasa bersyukur sekali, entah mereka merasa simpati padaku atau karena kue buatanku enak. Aku selalu mendapatkan pesanan hingga sepuluh loyang untuk satu customer, tidak di sangka-sangka rezeki mengalir deras. 


"Alhamdulillah, pesanan bertambah. Kalau begini terus … aku gak bisa handle sendiri, mesti ada orang yang membantuku." Gumamku yang berpikir keras, bahkan sampai lupa kalau kondisiku masih belum pulih total setelah di kuret. 


Aku harus berjuang demi kedua anakku yang masih kecil-kecil dan membutuhkan biaya yang banyak membeli susu formula, aku kerepotan tapi tetap kujalani satu persatu, menjadi ibu tunggal mulai sekarang harus membiasakan diri. 


Aku di panggil untuk ke kantor polisi keesokan harinya, tentunya ini mengenai kasus ibu yang sudah membunuh anakku yang belum merasakan dunia. Jujur saja aku tidak ingin pergi menjenguknya, tapi aku tetap datang untuk mengatakannya apa yang terjadi mengenai kronologis. 


Aku membawa kedua anakku dengan cara di gendong depan belakang, tak lupa aku sediakan tas bayi yang berisi susu, popok, dan pakaian ganti untuk anak-anakku. Aku membawa payung takut di jalan kehujanan atau kepanasan, kasihan anakku nanti yang bisa kapan saja demam karena aku membawa mereka ikut pergi bersamaku. Tapi apa dayaku? Tidak ada siapapun di rumah. 


Di penjara, aku di tanya-tanya oleh polisi dan ku jawab seadanya tanpa ditambah-tambah maupun dikurang-kurangi, sesuai keadaan yang sebenarnya. 


Untuk terakhir kalinya aku berada di sini, aku memaksakan hatiku untuk bertemu dengan ibu mertua yang sebentar lagi menjadi mantan ibu mertuaku. 


"Mau apa kamu datang kesini, hah? Puas kamu sudah buat saya menderita? Menantu kurang ajar."


Aku menarik oksigen dalam dan mengeluarkannya secara perlahan, perkataan yang tidak patut untuk di tiru. "Aku hanya ingin melihat Ibu untuk terakhir kalinya." 


"Saya juga gak mau ketemu sama kamu kok." 

__ADS_1


Aku heran, entah terbuat dari apa hati ibu yang bahkan tidak merasa bersalah sedikitpun. Padahal tak lama membunuh calon cucunya sendiri, dia seperti setan kerasukan membuatku masih trauma jika menatapnya lama. 


"Iya Bu, aku minta maaf dengan apa yang aku lakukan, baik sengaja maupun tidak disengaja. Mas Angga sudah menjatuhkan talak satu padaku, dan dia juga sudah aku usir dari rumah." 


"Tega banget kamu ngusir Angga." Ketus ibu mertua yang merasa terhina dan tidak terima perlakuan dari menantunya.


"Ya masa aku tinggal serumah sama mas Angga, dia sudah mentalak aku." Seloroh ku yang merasa tergelitik mendengar perkataan ibu yang sepertinya belum sadar atas nama siapa rumah itu.


Brak


Kedua anakku terkejut di kala ibu menggebrak meja, inilah yang aku takutkan kalau membawa anak ke penjara. 


"Saya gak terima kamu bertindak semena-mena, rumah itu harus di bagi dua." Ucap ibu yang meninggikan intonasi suaranya. 


Aku segera keluar dari sana dan seolah tak menggubris perkataan kasar yang terlontar di mulut ibu, aku terus berjalan ke depan tanpa berniat menoleh ke belakang. 


****


Seorang wanita cantik menangis sambil meringkuk di sudut ruangan, kenyataan yang begitu pahit dia rasakan saat melihat kenikmatan yang ternyata tak bertahan lama. Mau mengadu pada siapa? Bahkan memegang ponsel juga tak di berikan hak padanya, hampir setiap hari dia mendapatkan siksaan dari suaminya karena dirinya tak bisa melakukan apapun. 

__ADS_1


Apa kalian masih ingat Lisa? Adik ipar Tari yang selalu meremehkan orang lain dan hanya memikirkan dirinya sendiri. Ya, sekarang wanita itu selalu mendapatkan kekerasan di dalam rumah tangganya, setelah dia mengetahui sebenarnya hanyalah istri kedua. 


Dia sendiri yang memilih menempuh jalan itu, maka dia harus menikmatinya juga. 


Sekujur tubuhnya di penuhi lebam dan bekas memerah, jangankan untuk mengadu, keluar dari ruang sempit itu juga tak diberikan izin. Dia di perlakukan oleh Rusli sebagai hewan peliharaan, memintanya untuk segera hamil dan setelah itu dia akan di buang. 


Awalnya Rusli tertarik pada Lisa, tapi wanita yang dia nikahi itu tidak bisa melakukan pekerjaan rumah dan melayaninya membuatnya marah dan menyesal. Nasib sudah menjadi bubur, tinggal kita yang menanggapinya bagaimana. 


"Ibu … kak Angga, aku tidak sanggup disini! Bawa aku keluar dari neraka ini." Lirih Lisa yang terus menangis, hingga dia mulai lelah dan tak sadar tertidur. Tapi belum lama memejamkan kedua mata, pintu terbuka dan terdengar suara sepatu yang berjalan menghampirinya. 


Lisa terkejut melihat Rusli yang datang membawa istri pertama yang di tangan wanita itu memegang ikat pinggang. 


"Hah, akhirnya kamu memberiku izin menyiksa istri kedua mu, Sayang. Terima kasih." Wanita itu sengaja mencumbu Rusli tepat di depan mata Lisa yang menangis dalam diam. 


"Lima menit. Aku beri kamu waktu lima menit untuk melakukan apapun padanya!" tutur Rusli yang berlalu pergi meninggalkan kedua istrinya di ruangan yang sama. 


"Itu sudah lebih dari cukup." Wanita itu tersenyum devil sambil menatap Lisa dan mulai mengayunkan ikat pinggang. 


"Hanya wanita miskin yang tidak berguna, mencoba untuk mengalahkan aku!" 

__ADS_1


Plash … plash


Di ruangan kedap suara hanya mereka berdua yang mendengarnya, suara cambukan dan jeritan kesakitan Lisa menjadi alunan musik di telinga sang istri pertama. 


__ADS_2